Berkenalan karena aku hanya melihat Lilis-lah yang satu arah saat berangkat dan pulang sekolah waktu di SMA. Sebagai orang baru yang pindah dari kota besar, aku memang belum punya banyak teman. Apalagi dengan kegemaranku berkurung diri di rumah dan membaca buku maka sekolah SMP yang hanya 4 bulan di kota Sampit tidak memberiku banyak teman. Yang menyebabkan aku semakin dekat dengan Lilis bukanlah kesamaan karena hobby yang umumnya terjadi dikalangan remaja melainkan kesamaan karena hal-hal yang tidak bisa dikatakan. Semisal, soal sisiran rambut saat berangkat sekolah.
Aku dan Lilis
Kami punya rambut melebihi bahu namun kami berbeda. Rambut Lilis bergelombang sedangkan rambutku lurus. Namun kerapkali bila aku menyusul Lilis untuk berangkat jalan kaki ke sekolah berdua, ikatan rambut kami selalu sama. Entah kepang satu-nya, entah kepang dua, ikat kuncir satu, ikat kuncir dua dan sesekali kalau aku agak usil dikit dengan rambutku barulah kami tampil beda. Misalnya, rambutku aku belit dengan pita sehingga terlihat seperti berulir......maka Lilis benar-benar tidak sama denganku. Hehehe.....bukan hanya rambut yang selalu sama. Anting-anting yang tanpa dijanji juga bersamaan waktunya ganti model. Biasanya kami baru sadar sesudah satu sama lain saling pandang dan melihat perubahan penampilan kami.
Lilis dan Aku
Kami punya nama yang sama sekali tidak mirip. Tetapi entah kenapa dan bagaimana, guru-guru selalu terbalik memanggil nama kami berdua. Aku, kerap dipanggil Uniek Mulyaningsih dan Lilis di panggil Lilis Komalasari. Padahal itu bukan nama kami masing-masing. Masih mending bila hanya bagian belakang nama saja yang salah. Guru biologi kami justru memanggil Lilis dengan nama Uniek dan memanggil aku dengan nama Lilis. Rasanya geli saja ketika seorang teman kami tergopoh-gopoh memanggil aku, katanya aku dicari guru biologi. Saat aku datang si guru bertanya padaku :
" Kamu adiknya Kusnayadi ya ?"
Tentu saja aku menggeleng sebab kakakku bukan itu bahkan belum pernah ke Sampit semenjak kami pindah karena dia sekolah di Banjarmasin. Akhirnya guruku itu bilang ke teman yang tadi memanggilku........sambil berkata,
"Berarti yang satunya....."
"Berarti yang satunya....."
Temanku itu menggerutu ujarnya.....," Katanya minta dipanggilkan Uniek....." Hihihi....
Lilis dan Aku
Kegemaran kami tidaklah sama. Itu sebabnya, aku sering latihan menyanyi di orkes keroncong atau band sedangkan Lilis seringnya main tennis sama teman-teman seusianya. Bakat kami juga sangat berbeda. Tetapi sekali lagi, ada kesamaan yang tidak bisa dikatakan. Suatu hari, kami jalan beriringan tanpa satu orangpun bicara namun tiba-tiba Lilis tertawa geli. Sedangkan aku cekikin waktu memperhatikan seorang tukang becak dan gayanya waktu menggenjot becak. Aku kaget mendengar tertawanya Lilis dan Lilis juga menoleh ke arahku. Kemudian kami sama-sama menunjuk situkang becak sebagai pemberitahuan bahwa itulah yang menjadi bahan tertawaan. Aku melihat dari megolnya si tukang becak sedangkan Lilis membayangkan kentol kaki situkang becak yang besar andaikata dia perempuan.
Dihari lain, tanpa dikomando kami bisa tertawa terpingkal-pingkal saat melihat tukang semen. Aku membayangkan tukang semen yang dibawah dan asyik mengaduk semen itu kejatuhan ember yang berisi adonan semen dari atas sehingga menjadi patung semen sedangkan Lilis justru membayangkan situkang aduk semen yang berkubang dalam semen langsung punya sepatu dari semen....Hahahaaaaa !!
Lilis dan Aku
Kami memang berbeda. Aku suka mengudara di frekwensi melalui Radio Orari alias nge-break sedangkan Lilis tidak. Suatu hari, diudara ada seorang laki-laki yang aku kenal bekerja dipeternakan curhat habis-habisan tentang dirinya. Kemudian dia menyatakan bahwa dia suka sama aku. Ketika ditanya diriku itu siapa, lalu dia menyebutkan bahwa aku adalah Lilis. Heheheeeee......aku jadi tahu kalau Lilis ditaksir sama cowok itu. Lilis aku beritahu tentang itu dan jadilah si cowok bingung. Bagaimana tidak bingung... waktu dia menyamperi saat kami jalan, Lilis bilang dia nggak nge-break. Waktu si cowok bilang bahwa dia udah ngomong panjang lebar setiap pagi sebelum kami berangkat sekolah, Lilis bilang dia nggak nge-break. Terus si cowok dikasih tahu bahwa yang nge-break itu aku....si cowok itu lantas ngacir dan setelah itu tidak pernah terlihat lagi menggoda kami bila lewat di depan kantor perternakan. Cqiqiqiqiq......
Aku dan Lilis
Kami pernah hampir batal berkunjung ke rumah guru karena sebuah kesamaan yang tidak terduga. Sesudah sepakat waktu untuk berkunjung, aku setrika baju yang dibelikan ibuku. Baju blazer bergaris hitam kemudian aku mandi dan ketika dandan, Lilis datang. Aku sudah mengenakan baju yang kusetrika sesaat kemudian ibuku masuk dan bilang,
" Lihat, Lilis sudah datang dan dia pakai apa ?"
Aku keluar kamar, begitu melihat Lilis dan Lilis melihat ke arahku, kami berdua tertawa ngakak. Bagaimana tidak geli kalau ternyata kami sama-sama mengenakan baju blazer dengan motif yang sama.......hehehehe.
Yang paling konyol adalah ketergantungan kami terhadap kacamata. Aku dan Lilis sama-sama pakai kacamata minus. Hanya bedanya, mata Lilis minus plus cylinder sedangkan aku minus thok. Suatu hari, aku periksa mata dan harus berganti lensa karena minus-ku bertambah. Maka, ketika berangkat sekolah aku berfikiran akan mengandalkan Lilis bila banyak catatan. Sesampainya di rumah Lilis, kami langsung menuju sekolah......jalan kaki. Kulihat, Lilis tidak pakai kacamata. Saat itu, aku berfikiran kacamatanya tidak dipakai karena ditaruh dalam tas. Satu hal yang sangat jarang Lilis lakukan sebenarnya. Rupanya, Lilis juga memperhatikan bahwa aku tidak pakai kacamata, terus di tengah perjalanan dia bertanya,
"Mana kacamata ikam Niek ?"
"Aku ganti lensa Lis......nanti aku pinjam catatan ikam aja lah,"
Mendengar jawabanku Lilis berhenti melangkah, ujarnya kemudian.....
"Kayak apa jar ikam niiiihhhh.....aku yang mau pinjam catatan ikam soalnya kacamataku jatuh dan pecah pagi tadiiiiiii !!!!! Aku pikir ikam kada pakai kacamata tuh karena ditaruh dalam tas...."
Uupppppssssss...... aku jadi bingung tapi tidak bisa menahan ketawa.....begitu juga degan Lilis...maka.....hari itu kami sibuk mencari teman sekelas yang mau membacakan tulisan guru di papan tulis. Hahahaaaa !!!
Lilis dan Aku,
Kami tidak ditakdirkan harus selalu bersama-sama sebab karakter kami memang beda. Lilis, orangnya ceria dan cenderung bisa berteman dengan siapa saja. Sedangkan aku, walaupun bisa berteman tetapi aku bukan tipe orang yang seceria Lilis. Hanya saja, aku dan Lilis punya pemikiran yang tidak bisa diuraikan dengan rumus senyawa kimia dan rumus pembastaran. Di dalam kelas, aku selalu punya ide untuk membawa 20 temanku bolos pada jam-jam sekolah di mata pelajaran tertentu. Kami pernah bolos dan bikin rujak rame-rame sekelas di rumah Lilis. Kami pernah bolos, lalu naik klotok ke rumah Arie untuk merayakan natalan. Kami pernah bolos rame-rame pergi ke rumah Tommy atau Erbi untuk merayakan Imlek (tahun itu dilarang lhoooo). Aku yang melontarkan ide dan......Lilis beserta teman-temanku yang tergabung dalam grup LURETCA sebagai eksekutornya. Hahahaaaa...... Tahukah siapa pemilik ide kelompok dengan nama LURETCA itu ? Hehehehe itu gabungan dari Lilis, Uniek, Rika, Etty, Trisna, Caturrini, Arie.
Yang paling konyol adalah ketergantungan kami terhadap kacamata. Aku dan Lilis sama-sama pakai kacamata minus. Hanya bedanya, mata Lilis minus plus cylinder sedangkan aku minus thok. Suatu hari, aku periksa mata dan harus berganti lensa karena minus-ku bertambah. Maka, ketika berangkat sekolah aku berfikiran akan mengandalkan Lilis bila banyak catatan. Sesampainya di rumah Lilis, kami langsung menuju sekolah......jalan kaki. Kulihat, Lilis tidak pakai kacamata. Saat itu, aku berfikiran kacamatanya tidak dipakai karena ditaruh dalam tas. Satu hal yang sangat jarang Lilis lakukan sebenarnya. Rupanya, Lilis juga memperhatikan bahwa aku tidak pakai kacamata, terus di tengah perjalanan dia bertanya,
"Mana kacamata ikam Niek ?"
"Aku ganti lensa Lis......nanti aku pinjam catatan ikam aja lah,"
Mendengar jawabanku Lilis berhenti melangkah, ujarnya kemudian.....
"Kayak apa jar ikam niiiihhhh.....aku yang mau pinjam catatan ikam soalnya kacamataku jatuh dan pecah pagi tadiiiiiii !!!!! Aku pikir ikam kada pakai kacamata tuh karena ditaruh dalam tas...."
Uupppppssssss...... aku jadi bingung tapi tidak bisa menahan ketawa.....begitu juga degan Lilis...maka.....hari itu kami sibuk mencari teman sekelas yang mau membacakan tulisan guru di papan tulis. Hahahaaaa !!!
Lilis dan Aku,
Kami tidak ditakdirkan harus selalu bersama-sama sebab karakter kami memang beda. Lilis, orangnya ceria dan cenderung bisa berteman dengan siapa saja. Sedangkan aku, walaupun bisa berteman tetapi aku bukan tipe orang yang seceria Lilis. Hanya saja, aku dan Lilis punya pemikiran yang tidak bisa diuraikan dengan rumus senyawa kimia dan rumus pembastaran. Di dalam kelas, aku selalu punya ide untuk membawa 20 temanku bolos pada jam-jam sekolah di mata pelajaran tertentu. Kami pernah bolos dan bikin rujak rame-rame sekelas di rumah Lilis. Kami pernah bolos, lalu naik klotok ke rumah Arie untuk merayakan natalan. Kami pernah bolos rame-rame pergi ke rumah Tommy atau Erbi untuk merayakan Imlek (tahun itu dilarang lhoooo). Aku yang melontarkan ide dan......Lilis beserta teman-temanku yang tergabung dalam grup LURETCA sebagai eksekutornya. Hahahaaaa...... Tahukah siapa pemilik ide kelompok dengan nama LURETCA itu ? Hehehehe itu gabungan dari Lilis, Uniek, Rika, Etty, Trisna, Caturrini, Arie.
Aku dan Lilis
Kami belajar bahwa menjadi sahabat tidak harus diawali dengan memiliki kesamaan hobby dan bakat. Kami menjadi sahabat tidak harus dimulai dengan menceritakan rahasia masing-masing dan menjadi penyimpan rahasia. Aku dan Lilis, kami tidak berteman sebab terkadang Lilis menghabiskan malam minggu dengan teman-temanku yang lain dan aku lebih suka di dalam rumah.
Bagiku Lilis bukan teman tetapi sahabat. Aku dan Lilis bersahabat yang didasarkan pada kesamaan yang ada dalam jiwa. Sesudah dengan Lilis, aku punya banyak teman tetapi bukan teman dekat apalagi menjadi sahabat. Sudah hampir 30 tahun semenjak kami tamat SMA tidak pernah bertemu, tanggal 2 September 2013 aku bertemu dengannya dengan kondisi yang benar-benar berbeda. Dia sudah menyandang Hajjah sedangkan aku masih mencari rejeki untuk bisa pergi kesana.
Lilis, dia sahabatku sejiwa sebab tanpa berkata-kata pun kami ternyata bisa memiliki banyak kesamaan
Bagiku Lilis bukan teman tetapi sahabat. Aku dan Lilis bersahabat yang didasarkan pada kesamaan yang ada dalam jiwa. Sesudah dengan Lilis, aku punya banyak teman tetapi bukan teman dekat apalagi menjadi sahabat. Sudah hampir 30 tahun semenjak kami tamat SMA tidak pernah bertemu, tanggal 2 September 2013 aku bertemu dengannya dengan kondisi yang benar-benar berbeda. Dia sudah menyandang Hajjah sedangkan aku masih mencari rejeki untuk bisa pergi kesana.
Lilis, dia sahabatku sejiwa sebab tanpa berkata-kata pun kami ternyata bisa memiliki banyak kesamaan
Tulisan ini, Ungkapan senang dan bahagia sesudah berjumpa dengan sahabatku, Lilis Komalaningsih.