Kamis, 05 September 2013

LILIS dan AKU

Aku dan Lilis
Berkenalan karena aku hanya melihat Lilis-lah yang satu arah saat berangkat dan pulang sekolah waktu di SMA. Sebagai orang baru yang pindah dari kota besar, aku memang belum punya banyak teman. Apalagi dengan kegemaranku berkurung diri di rumah dan membaca buku maka sekolah SMP yang hanya 4 bulan di kota Sampit tidak memberiku banyak teman. Yang menyebabkan aku semakin dekat dengan Lilis bukanlah kesamaan karena hobby yang umumnya terjadi dikalangan remaja melainkan kesamaan karena hal-hal yang tidak bisa dikatakan. Semisal, soal sisiran rambut saat berangkat sekolah.

Aku dan Lilis
Kami punya rambut melebihi bahu namun kami berbeda. Rambut Lilis bergelombang sedangkan rambutku lurus. Namun kerapkali bila aku menyusul Lilis untuk berangkat jalan kaki ke sekolah berdua, ikatan rambut kami selalu sama. Entah kepang satu-nya, entah kepang dua, ikat kuncir satu, ikat kuncir dua dan sesekali kalau aku agak usil dikit dengan rambutku barulah kami tampil beda.  Misalnya, rambutku aku belit dengan pita sehingga terlihat seperti berulir......maka Lilis benar-benar tidak sama denganku. Hehehe.....bukan hanya rambut yang selalu sama. Anting-anting yang tanpa dijanji juga bersamaan waktunya ganti model. Biasanya kami baru sadar sesudah satu sama lain saling pandang dan melihat perubahan penampilan kami.

Lilis dan Aku
Kami punya nama yang sama sekali tidak mirip. Tetapi entah kenapa dan bagaimana, guru-guru selalu terbalik memanggil nama kami berdua. Aku, kerap dipanggil Uniek Mulyaningsih dan Lilis di panggil Lilis Komalasari. Padahal itu bukan nama kami masing-masing. Masih mending bila hanya bagian belakang nama saja yang salah. Guru biologi kami justru memanggil Lilis dengan nama Uniek dan memanggil aku dengan nama Lilis. Rasanya geli saja ketika seorang teman kami tergopoh-gopoh memanggil aku,  katanya aku dicari guru biologi. Saat aku datang si guru bertanya padaku  :
" Kamu adiknya Kusnayadi ya ?"
Tentu saja aku menggeleng sebab kakakku bukan itu bahkan belum pernah ke Sampit semenjak kami pindah karena dia sekolah di Banjarmasin. Akhirnya guruku itu bilang ke teman yang tadi memanggilku........sambil berkata,
"Berarti yang satunya....."
Temanku itu menggerutu ujarnya.....," Katanya  minta dipanggilkan Uniek....." Hihihi....

Lilis dan Aku
Kegemaran kami tidaklah sama. Itu sebabnya, aku sering latihan menyanyi di orkes keroncong atau band sedangkan Lilis seringnya main tennis sama teman-teman seusianya. Bakat kami juga sangat berbeda. Tetapi sekali lagi, ada kesamaan yang tidak bisa dikatakan. Suatu hari, kami jalan beriringan tanpa satu orangpun bicara namun tiba-tiba Lilis tertawa geli. Sedangkan aku cekikin waktu memperhatikan seorang tukang becak dan gayanya waktu menggenjot becak. Aku kaget mendengar tertawanya Lilis dan Lilis juga menoleh ke arahku. Kemudian kami sama-sama menunjuk situkang becak sebagai pemberitahuan bahwa itulah yang menjadi bahan tertawaan. Aku melihat dari megolnya si tukang becak sedangkan Lilis membayangkan kentol kaki situkang becak yang besar andaikata dia perempuan.
Dihari lain, tanpa dikomando kami bisa tertawa terpingkal-pingkal saat melihat tukang semen. Aku membayangkan tukang semen yang dibawah dan asyik mengaduk semen itu kejatuhan ember yang berisi adonan semen dari atas sehingga menjadi patung semen sedangkan Lilis justru membayangkan situkang aduk semen yang berkubang dalam semen langsung punya sepatu dari semen....Hahahaaaaa !!

Lilis dan Aku
Kami memang berbeda. Aku suka mengudara di frekwensi melalui Radio Orari alias nge-break sedangkan Lilis tidak. Suatu hari, diudara ada seorang laki-laki yang aku kenal bekerja dipeternakan curhat habis-habisan tentang dirinya. Kemudian dia menyatakan bahwa dia suka sama aku. Ketika ditanya diriku itu siapa, lalu dia menyebutkan bahwa aku adalah Lilis. Heheheeeee......aku jadi tahu kalau Lilis ditaksir sama cowok itu. Lilis aku beritahu tentang itu dan jadilah si cowok bingung. Bagaimana tidak bingung... waktu dia menyamperi saat kami jalan, Lilis bilang dia nggak nge-break. Waktu si cowok bilang bahwa dia udah ngomong panjang lebar setiap pagi sebelum kami berangkat sekolah, Lilis bilang dia nggak nge-break. Terus si cowok dikasih tahu bahwa yang nge-break itu aku....si cowok itu lantas ngacir dan setelah itu tidak pernah terlihat lagi menggoda kami bila lewat di depan kantor perternakan. Cqiqiqiqiq......

Aku dan Lilis
Kami pernah hampir batal berkunjung ke rumah guru karena sebuah kesamaan yang tidak terduga. Sesudah sepakat waktu untuk berkunjung, aku setrika baju yang dibelikan ibuku. Baju blazer bergaris hitam kemudian aku mandi dan ketika dandan, Lilis datang. Aku sudah mengenakan baju yang kusetrika sesaat kemudian ibuku masuk dan bilang,
" Lihat, Lilis sudah datang dan dia pakai apa ?"
Aku keluar kamar, begitu melihat Lilis dan Lilis melihat ke arahku, kami berdua tertawa ngakak. Bagaimana tidak geli kalau ternyata kami sama-sama mengenakan baju blazer dengan motif yang sama.......hehehehe.

Yang paling konyol adalah ketergantungan kami terhadap kacamata. Aku dan Lilis sama-sama pakai kacamata minus. Hanya bedanya, mata Lilis minus plus cylinder sedangkan aku minus thok. Suatu hari, aku periksa mata dan harus berganti lensa karena minus-ku bertambah. Maka, ketika berangkat sekolah aku berfikiran akan mengandalkan Lilis bila banyak catatan. Sesampainya di rumah Lilis, kami langsung menuju sekolah......jalan kaki. Kulihat, Lilis tidak pakai kacamata. Saat itu, aku berfikiran kacamatanya tidak dipakai karena ditaruh dalam tas. Satu hal yang sangat jarang Lilis lakukan sebenarnya. Rupanya, Lilis juga memperhatikan bahwa aku tidak pakai kacamata, terus di tengah perjalanan dia bertanya,
"Mana kacamata ikam Niek ?"
"Aku ganti lensa Lis......nanti aku pinjam catatan ikam aja lah,"
Mendengar jawabanku Lilis berhenti melangkah, ujarnya kemudian.....
"Kayak apa jar ikam niiiihhhh.....aku yang mau pinjam catatan ikam soalnya kacamataku jatuh dan pecah pagi tadiiiiiii !!!!! Aku pikir ikam kada pakai kacamata tuh karena ditaruh dalam tas...."
Uupppppssssss...... aku jadi bingung tapi tidak bisa menahan ketawa.....begitu juga degan Lilis...maka.....hari itu kami sibuk mencari teman sekelas yang mau membacakan tulisan guru di papan tulis. Hahahaaaa !!!

Lilis dan Aku,
Kami tidak ditakdirkan harus selalu bersama-sama sebab karakter kami memang beda. Lilis, orangnya ceria dan cenderung bisa berteman dengan siapa saja. Sedangkan aku, walaupun bisa berteman tetapi aku bukan tipe orang yang seceria Lilis. Hanya saja, aku dan Lilis punya pemikiran yang tidak bisa diuraikan dengan rumus senyawa kimia dan rumus pembastaran. Di dalam kelas, aku selalu punya ide untuk membawa 20 temanku bolos pada jam-jam sekolah di mata pelajaran tertentu. Kami pernah bolos dan bikin rujak rame-rame sekelas di rumah Lilis. Kami pernah bolos, lalu naik klotok ke rumah Arie untuk merayakan natalan. Kami pernah bolos rame-rame pergi ke rumah Tommy atau Erbi untuk merayakan Imlek (tahun itu dilarang lhoooo). Aku yang melontarkan ide dan......Lilis beserta teman-temanku yang tergabung dalam grup LURETCA sebagai eksekutornya. Hahahaaaa...... Tahukah siapa pemilik ide kelompok dengan nama LURETCA itu ? Hehehehe itu gabungan dari Lilis, Uniek, Rika, Etty, Trisna, Caturrini, Arie.

Aku dan Lilis
Kami belajar bahwa menjadi sahabat tidak harus diawali dengan memiliki kesamaan hobby dan bakat. Kami menjadi sahabat tidak harus dimulai dengan menceritakan rahasia masing-masing dan menjadi penyimpan rahasia. Aku dan Lilis, kami tidak berteman sebab terkadang Lilis menghabiskan malam minggu dengan teman-temanku yang lain dan aku lebih suka di dalam rumah.

Bagiku Lilis bukan teman tetapi sahabat. Aku dan Lilis bersahabat yang didasarkan pada kesamaan yang ada dalam jiwa. Sesudah dengan Lilis, aku punya banyak teman tetapi bukan teman dekat apalagi menjadi sahabat. Sudah hampir 30 tahun semenjak kami tamat SMA tidak pernah bertemu, tanggal 2 September 2013 aku bertemu dengannya dengan kondisi yang benar-benar berbeda. Dia sudah menyandang Hajjah sedangkan aku masih mencari rejeki untuk bisa pergi kesana.
Lilis, dia sahabatku sejiwa sebab tanpa berkata-kata pun kami ternyata bisa memiliki banyak kesamaan

Tulisan ini, Ungkapan senang dan bahagia sesudah berjumpa dengan sahabatku, Lilis Komalaningsih.

Senin, 19 Agustus 2013

TEMAN FACEBOOK AKU ITU.....

Aku tidak mengenal dia dengan pasti, namun namanya ada dalam daftar temanku. Entah, bermula darimana koq dia menjadi salah seorang yang bisa melihat profil-ku di facebook. Namanya, Raisa Damayanti beralamat di Kuala Kurun, Kalimantan Tengah. Aku yakin, itu namanya yang asli sebab setiap postingan status darinya selalu mendapat tanggapan dari teman-temannya dengan menyebut Rae...atau mamah-nya Sita. Aku lihat di profil-nya dia punya anak perempuan satu orang sekitar kelas lima es-de dan mungkin nama anaknya Sita. Sedangkan anak lelaki-nya masih Balita. Aku jarang melihat dia berfokot sama suaminya. Namun pada informasi umum tentang dirinya aku ketahui dia sudah menikah dan sepertinya sangat bahagia dengan kehidupan rumah tangganya. Buktinya, pada kata-kata yang dia ungkap di profil, suamiku adalah imam bagi imanku dan bagi diriku.

Aiiiihhhhh aku jadi suka membuka profil Raisa Damayanti. Postingan statusnya sederhana namun penuh makna dan kerap mendapat puluhan acungan jempol dari temannya disertai komentar-komentar yang enak dibaca. Sangat berbeda dengan status-statusku di facebook yang teramat sederhana namun jarang diberi jempol apalagi diberi komentar. Entahlah, aku merasakan sesuatu saja saat melihat nama itu ternyata berteman dengan Mas Hamdy sebulan yang lalu. Kata Mas Hamdy sebenarnya dia sudah lama bahkan lebih dahulu berteman dengan perempuan bernama Raisa itu dibandingkan denganku. Artinya, Raisa menemani Mas Hamdy dan juga menemani aku.

"Sungguh Fit....aku cuma memenuhi permintaan pertemanan darinya....emang kenapa sih ?"

Begitu jawaban Mas Handy waktu kutanya tentang Raisa beberapa waktu yang sudah lama berlalu. Aku waktu itu tidak menjawab sebab aku sendiri tidak tahu, ada apa dengan nama itu. Padahal komunikasi antara suamiku dengan Raisa tidak pernah terjadi. Kalaupun ada, itu pasti di status teman mereka berdua. Bukan di status Mas Hamdy apalagi di status Raisa. Kupikir, gaya bahasa Raisa tidak bisa diikuti oleh Mas Handy makanya dia tidak pernah memberi komentar. Aku saja juga segan mengomentari status-nya yang selalu berbobot. Tetapi entah mengapa, nama itu terus berada dalam ingatanku dan kemudian menjadi perhatianku. Terlebih, aku merasakan perubahan sikap Mas Hamdy terhadapku. Aku merasakan hal itu sejak beberapa bulan ini.

Aku menelusuri obrolan di facebook terakhir antara Raisa dan Mas Hamdy di status teman mereka berdua yang bernama Haikal. Tidak ada yang istimewa kecuali ungkapan-ungkapan nostalgia antara mereka bertiga plus seseorang bernama Tania dan Moldi saat masih SMA di Kuala Kurun. Mas Hamdy memang berasal dari Kuala Kurun dan bertemu denganku saat kami kuliah di Malang. Sebenarnya, dari obrolan itu aku yakin Raisa bukanlah type perempuan yang mendua-kan suaminya. Bukan pula tipikal ibu yang akan menyakiti hati anak-anaknya. Tetapi aku merasa, teman di facebook aku itulah yang mempengaruhi perubahan sikap Mas Hamdy.

Sampai suatu hari aku memutuskan melakukan sesuatu dan aku agak terlonjak senang saat permintaan pertemananku dengan Marni diterima. Aku lihat, Raisa dan Marni intens sekali berdialog di facebook. Sepertinya, Marni adalah sahabat karibnya. Kulihat, mereka mempunyai teman yang sama yakni Moldi. Hanya saja, Marni tidak berteman dengan suamiku, tetapi Moldi berteman dengan suamiku di facebook.

Aku agak ragu menekan keypad laptopku untuk memulai obrolan dengan Marni. Namun desakan rasa jengkel karena pagi tadi Mas Hamdy tidak menjamah sarapan pagi yang kubikinkan, membuat aku tetap menekan "enter" dan mengirimkan sapaan ke Marni.

"Assalamu'alaikum...."
" Wa'alaikum salam, dan salam kenal Fitria......"
" Salam kenal kembali, di Banjarmasin ya ?"
"Bukan.....aku di Kuala Kurun...."
"Oooooh.....dimana itu ?" pertanyaan itu sangat konyol sebab aku tahu persis dimana itu Kuala Kurun. Namun Marni tetap menjawabnya. Pembicaraan itu berlangsung cukup lama sampai akhirnya Marni menuliskan sesuatu sebagai balasan atas pertanyaanku tentang Raisa. Tulis Marni,
" Ooooh Raisa itu....aku juga cemburu koq dengan kebahagiaan rumah tangganya. Beruntung sekali Raisa mendapatkan suami yang baik walau dia telat menikah karena dikhianati orang yang sebenarnya dia harap menjadi suaminya....."
Mataku terbeliak membaca nama yang dituliskan oleh Marni..... Nurhamidy.  Woooowwww.....tidak salah perasaanku. Baiklah.  Aku harus melakukan sesuatu agar rumah tanggaku tidak semakin panas.

Aku lihat Mas Hamdy melotot sambil meletakkan koran yang tadi dibacanya, ke atas meja dengan sekali hentakan. Aku terkejut. Diluar dugaanku, kalimat yang sudah kutata sejak siang tadi berujung pada kemarahan Mas Hamdy. Tuhan.....aku tidak ingin membuatnya marah. Aku hanya bertanya, apakah benar Raisa itu kekasih sebelum bertemu denganku dan sekarang membuat Mas Hamdy bertingkah tidak seperti dulu padaku. Tuhan......apakah pertanyaanku itu salah ? Airmataku mulai mengalir namun itu tidak mengurungkan langkah Mas Hamdy menjauh dariku, kulihat dia menuju kamar. Aku mengejarnya ke kamar. Kulihat Mas Hamdy duduk di tepi tempat tidur. Melihat aku masuk kamar, lelaki yang aku cintai setengah mati itu melengos dan berdiri mau keluar. Tapi tangannya aku rengkuh. Aku cium dan kukatakan,

" Maafkan aku.....maaf kalau pertanyaan itu menyinggung....tetapi aku hanya ingin kepastian bahwa perasaanku terhadapnya salah.....aku hanya ingin kepastian bahwa aku tetap satu-satunya dalam hati Mas...."

Mendengar ucapanku, Mas Hamdy yang semula hendak melepaskan pegangan tanganku tidak jadi melakukannya. Perlahan dia duduk kembali di tepi ranjang.

" Dengar Fit.....aku capek setiap saat kamu tanyakan tentang Raisa. Kalau kamu mau tahu jawabanku, dengarkan baik-baik"

Aku diam menunggu Mas Hamdy menarik nafas dalam-dalam. Aku berusaha siap sekuat-kuatnya apapun yang akan aku dengar nantinya dari bibir Mas Hamdy.

" Betul, dulunya Raisa perempuan yang aku harapkan menjadi pendamping hidupku. Tetapi, aku yang kemudian mengacuhkannya karena ada kamu. Kalau sekarang kamu merasa tersakiti maka begitu pula dengan dia waktu aku sakiti dengan apa yang sudah kita lakukan sehingga kita harus menikah sebelum selesai kuliah. Beda-nya....dia tersakiti namun tidak dapat berbuat apa-apa karena aku bukan apa-apanya sedangkan kamu tersakiti tetapi kamu masih bisa mempertahankan diri karena aku suami kamu....." Mas Hamdy kembali menarik nafas ," Raisa sudah bersuami dengan anak-anak yang begitu dia banggakan. Kalau aku berselingkuh dengannya bahkan kalau kamu mencurigai dia menggoda aku maka itu merupakan kesalahan kedua dari kita untuknya...."

Suamiku menutupkan jarinya ke bibir pertanda dia tidak ingin mendengar bantahanku. Tetapi memang aku tidak punya bagian untuk dibantah walau aku bingung, apa yang menyebabkan Mas Hamdy berubah terhadapku akhir-akhir ini.
" Aku capek dengan kecemburuanmu Fit.....sedangkan kamu tidak pernah mencoba memahami apa yang aku inginkan. Ijinkan aku menjauh sejenak dari kamu agar kamu punya banyak waktu untuk memikirkan yang terjadi diantara kita selama beberapa waktu ini. Percayalah, aku tidak akan menceraikan kamu namun aku tidak akan kembali padamu sebelum kamu menyadari dimana letak kekeliruan kamu selama ini...."

Mas Hamdy berdiri dari tempat duduknya dan kemudian memasukkan satu demi satu pakaian dari lemari ke dalam tas yang rupanya sudah dia siapkan. Aku hanya mampu memandangi sebab benar-benar tidak menyangka bahwa perubahan sikap Mas Hamdy justru karena diriku sendiri. Mas Hamdy menghampiriku, mengecup keningku lalu berujar,
" Aku ada di galeri....datang dan jemputlah aku kalau kamu sudah mengerti dimana letak permasalahan kita Fit.... "

Tuhan, aku kembali sesungukan. Airmataku kembali menetes. Aku tidak menyangka juga begitu santunnya cara lelaki itu memperlakukan aku padahal aku sudah melakukan kesalahan dimatanya. Apa itu ? Apa itu ?
Sudah lebih dua minggu Mas Hamdy berada di galeri-nya. Selama itu juga aku belum berani menemuinya sebab aku belum tahu dimana letak permasalahan diantara kami. Namun, kalau aku telepon sekedar menanyakan kabar, suamiku masih menerima dan mau menjawab. Dari Anggi atau dari Sofia, anakku yang kerap singgah ke galeri, aku tahu, suamiku memang tidak berselingkuh dariku.

Raisa, kembali menjadi pusat perhatianku sebab saran-saran yang dia berikan sungguh menyejukkan hatiku dan mendinginkan pikiranku. Sudah beberapa hari ini aku aktif ngobrol dengan mantan pacar suamiku itu di facebook dan kemudian secara tidak sengaja mendapatkan satu pemikiran tentang kemungkinan hal yang salah yang sudah aku lakukan. Secara tidak langsung, Raisa membukakan pikiranku saat dia mengakhiri obrolan denganku sore itu, katanya

" Maaf Fitria, suamiku sebentar lagi pulang dari kantor dan aku akan menyediakan kopi untuknya, shallat Ashar berjama'ah dengannya kemudian menemaninya minum kopi di teras.....asyik lho bisa bertukar cerita dengan suami dan terkadang kami bisa kehabisan waktu karenanya...."

Belum sempat kujawab, tanda online pada nama Raisa sudah hilang. Padahal Raisa itu, super sibuk karena dia punya butik yang langganannya ibu-ibu pejabat di tempat tinggalnya. Tetapi masih punya waktu untuk suaminya. Aku benar-benar seperti terbangun dari mimpi panjang. Selama ini aku hanya meminta perhatian dari Mas Hamdy atas nama isteri yang mengurus anak. Selama ini, aku lah yang banyak mengumbar kata-kata atas nama perempuan yang capek mengurus rumah tangga.

Bergegas aku matikan laptop, tanpa berganti pakaian dan dengan secepat kilat aku kendarai Mio milik Anggi menuju ke galeri. Mas Hamdy melihatku agak terkejut namun saat aku mendekat, kulihat sinar dimatanya. Sinar kerinduan.....entah berapa lama aku mengabaikan kerinduan dalam hati suamiku itu. Aku raih tangannya, aku cium dan kukatakan,

"Maaf Mas.....terlalu lama aku mengabaikanmu...." Aku menangis sesungukan dan tidak tahu malu sebab aku yakin aku menggerung-gerung karenanya. Mas Hamdy memeluk tubuhku, mengecup keningku dan menyandarkan kepalaku di dadanya.....aku dengar detak jantungnya..... Tuhan.....ternyata dia hanya mencintaiku.

MENGEJAR.....JABATAN ???

Dadaku mendesir saat submit surat permohonan mengikuti lelang jabatan eselon II. Sungguhkah aku sedang mengejar jabatan ?????? Untuk menjawa...