Minggu, 23 Desember 2018

YANG SALAH ARAH

Bagian Kesatu : sebuah kejutan

Anak lelaki itu bertubuh gempal, namanya Rahmat. Dia duduk di hadapanku, bersama seorang lelaki yang lebih tua, namanya Kasno. Lelaki tua itu tubuhnya, berbanding terbalik dengan dengan lelaki muda, padahal ternyata mereka punya hubungan keluarga. Lelaki tua itu julak (Sebutan saudara tua laki-laki dari orangtua kandung)nya Rahmat. Mereka duduk dengan santun. Aku meminta ijin dengan isyarat tangan untuk menunggu sebentar karena baru usai memasang kembali jilbab yang kulepas karena tadi mengerjakan shallat dhuha. Setelah jilbabku berasa rapi, baru aku benar-benar menghadapi kedua orang yang sekarang menjadi staf-ku.

" Ibu, saya bawa keponakan saya, Rahmat untuk berbicara langsung dengan ibu," ujar Pak Kasno.
Aku mengangguk,
" Ada apa Rahmat ?"
" Perkenalkan dulu Bu, nama saya Rahmat.....maaf sudah mengganggu ibu" ucap lelaki gempal ini dengan sedikit perlahan. Aku memang tidak mengetahui tentang Rahmat, sebagai apa dia di bagianku ini. Kalau yang lain, karena sering bertemu maka aku tahu namanya dan tahu dimana dia bertugas.

" Ada apa Rahmat ?"
" Saya kan bekerja di bagian gudang Bu. Tenaga kontrak yang bertugas menjaga gudang setiap harinya. In syaa Allah, saya akan mengerjakan tugas saya dengan sebaik-baiknya"

Aku agak sedikit terkejut bahwa ada tenaga kontrak yang ditempatkan di gudang. Posisi gudang itu berada sekitar 10 kilometer dari kantor tempatku berada. Keberadaan gudang itu tentunya sangat penting karena tempat menyimpan stok bahan baku pembuatan untuk percetakan. Ukuran gudang tidak terlalu besar namun isi di dalam gudang tentunya bila di krus dengan uang maka jumlahnya akan bermilyard-milyard rupiah. Ternyata dialah yang menjaga gudang kami.

"Jaga gudangnya bagaimana ? Seharian atau hanya untuk malam hari saja ?" tanyaku.
Si julak, yang juga bekerja di bagian administrasi dan sarana yang menjawab bahwa Rahmat bekerja sejak pagi untuk menjaga kebersihan, mengatur suhu ruangan dan malam untuk menjaga keamanan gudang. Aku berfikir, cukup berat juga pekerjaan anak ini. Apalagi disela-sela pekerjaan itu dia harus kuliah di perguruan tinggi negeri di kota ini.

" Boleh saya menyampaikan hal penting ke Ibu ?" tanya Pak Kasno. Aku mengangguk.

Terus terang, aku baru sebulan berada di divisi ini. Sebelumnya aku berada di bagian Data dan Pelayanan. Kulihat kedua orang ini saling senggol untuk mulai bicara. Mungkin merasa tidak nyaman karena bagi mereka, aku ini orang baru. Padahal kemarin sesaat setelah aku dimutasi ke bagian ini aku sudah mengumpulkan mereka dan menyampaikan bahwa untuk bagian ini aku memang baru tetapi untuk kantor ini, aku bekerja sudah sama lamanya dengan mereka, jadi mereka tidak perlu menganggap aku sebagai orang baru.

" Begini Bu Leli.....keponakan saya bekerja disini bukan sebagai pegawai tetap melainkan sebagai pegawai tidak tetap, gajinya sebulan sebesar dua juta rupiah"

Pak Kasno yang statusnya sebagai  julaknya Rahmat memulai penjelasan. Aku manggut-manggut mendengar penjelasan itu. Berarti, penghasilannya sama dengan Rama, Ryan, Dessy dan tenaga kontrak lainnya di kantor kami. Sangat cukup untuk bujangan seperti Rahmat itu. Aku tahu dia belum menikah, ketika Pak Kasno menjelaskan tentang Rahmat dan aku menyela dengan pertanyaan yang aku anggap penting.

" Bisakah bu, penghasilan Rahmat ini tidak lagi dipotong ?"
Aku mengernyitkan alis. Memahami kenapa aku mengernyitkan alis, Pak Kasno kemudian menyusuli ucapannya dengan penjelasan

" Selama ini Rahmat hanya menerima satu juta Bu, dari gaji yang dia tanda tangani sebesar dua juta. Ini kebijakan sudah lama. Katanya, yang satu juta dipergunakan untuk membayar pembantu rumah tangga.....pimpinan kita, bu"

Jleb.....aku tersandar di kursi. Baru berasa bahwa aku benar-benar baru di bagian ini. Termasuk baru mengetahui adanya kasus itu.

" Kebijakan pimpinan ataukah kebijakan siapa ?" tanyaku.
" Kurang tahu, Bu. Tetapi sejak kepala bagian yang lama memang ini sudah berlaku. Sejak keponakan saya bekerja di sini sebagai tenaga kontrak bu. Karena ibu baru di bagian ini, mohon maaf kalau saya memohon agar penghasilan keponakan saya jangan dipotong lagi karena dia bekerja di tempat yang justru lebih berat daripada yang lainnya bu"

Lelaki tua yang berjanggut putih itu lancar sekali bicaranya dihadapan aku, yang terbengong-bengong mendengar apa yang dia ucapkan. Untuk sesaat, aku iba terhadap yang dihadapi Rahmat. Namun sesaat kemudian aku berpikir untuk tidak gegabah menjawab apa yang sudah disampaikan Pak Kasno. Perlahan aku luruskan tubuhku dan menyandarkan dadaku ke pinggir meja, untuk mendapat kekuatan saat menjawab Pak Kasno.

" Pak Kasno dan juga Rahmat, terima kasih atas informasi yang bapak berikan. Terus terang, saya terkejut mendengar informasi ini. Akan tetapi karena saya kan baru ya di bagian ini maka saya akan pelajari dulu. Semoga apa yang selama ini mengganjal di hati Pak Kasno, bisa kita atasi bersama ya"

" Jadi, masih dipotong ya Bu ?" Rahmat mamastikan dengan mata yang cukup tajam menatap ke arahku.

" Saya belum berani memutuskan ya......kita lihat saja dulu sambil berjalan" jawabku kemudian.

Aku melihat kilatan kecewa di mata Rahmat. Namun aku tidak tahu harus menjawab apa tentang masalah itu karena ini merupakan hal baru yangmengejutkanku di pagi ini. Seandainya aku sudah mendapat informasi jauh-jauh hari tentunya akan punya jawaban yang lebih baik lagi. Akhirnya Rahmat dan Pak Kasno keluar dari ruanganku sesudah kami berbicara hal-hal tidak penting.

Bagian kedua : kepastian

Ruangan besar iu terdiri dari beberapa sofa dan satu meja kerja yang besar. Kalau sofanya, itu sofa baru, terlihat dari bahan dan motifnya. Sedangkan meja kerjanya merupakan peninggalan pimpinan yang sudah pensiun tiga belas tahun yang lalu. Aku duduk di kursi yang berhadapan dengan meja kerja yang besar. Ini kesempatan ketiga setelah aku dimutasi ke bagian Administrasi dan Sarana duduk di ruangan pimpinan kantor kami.

Di hadapanku, seorang laki-laki bertubuh sedang, rambut lurus yang tersisir rapi ke arah kanan dengan minyak rambut yang cukup membikin kilau-kilau di kepala. Tangannya sedang memegang sebuah kertas, sepertinya sebuah catatan. Sesaat kemudian, dia letakkan catatan itu di atas meja.

"Bu Lely, selamat ya sudah menduduki jabatan baru di kantor ini"
"Siap, terima kasih dan mohon arahan serta bimbingan Bapak dalam saya menjalankan tugas" jawabku dengan sedikit memperlambat keluarnya kata=kata dari bibirku. Pak Fikri, pimpinan kami ini tersenyum. Terus terang, aku belum belajar tentang makna senyuman jadi aku tidak tahu, apa maksud dari senyuman Pak Fikri. Tiba-tiba dari arah kamar mandi, muncul sosok perempuan. Aku rada kaget. Lupa bahwa di belakang meja Pak Fikri itu ada satu ruangan lagi yakni kamar mandi dan aku tidak mengetahui bahwa di kamar mandi itu ada seseorang. Isteri Pak Fikri. Wanita dengan tubuh ideal, langsing dan semampai dengan dandanan 'ala wanita sosialita yang berbusana muslim, tersenyum ke arahku. Pak Fikri menoleh sekilas ke arah isterinya lalu menyuruh isterina duduk di samping aku.

"Bu Lely.....terima kasih sudah mengantarkan amplop untuk pembayaran mpok Rimah ke rumah kami....." ujar isteri Pak Fikri dengan suara yang dibuat seenak mungkin. Sesuai logat dan gaya bicara, wanita sosialita dari Jakarta. Aku tersenyum. Kemarin sore, aku meminta Yuhani mengantar amplop ke rumah Pak Fikri untuk membayar mpok Rimah, pembantu Pak Fikri. Dari Yuhani aku mendapat kepastian bahwa uang untuk Mpok Rimah itu diambilkan dari gaji Rahmat. Yuhani mengatakan, keputusan itu diambil oleh Pak Sidi, Kepala Bagian terdahulu yang sudah pensiun. Rahmat tanda tangan gaji sebesar dua juta tetapi hanya menerima satu juta.

"Sama-sama ibu....." jawabku. Ibu itu tersenyum lalu menepuk pundakku.
"Besok-besok jangan diserahkan langsung ke Mpok Rimah.....serahkan ke bapak saja ya...dititip ke bapak setiap bulannya" ujar si ibu sambil tersenyum.
"Baik Bu," jawabku kemudian.
"Bu Lely sudah diberitahu Yuhani, darimana uang untuk Mpok Rimah ?" tanya Pak Fikri kemudian. Sontak aku menggeleng. Entah kenapa, seharusnya aku mengangguk karena setelah mengantar amplop untuk Mpok Rimah, aku bertanya ke Yuhani tentang itu. Reflek saja otakku berpikir bahwa aku harus mendapat arahan dari Pak Fikri mengenai hal ini agar bisa menjawab Pak Kasno dan Rahmat yang kemarin pagi masuk ke ruanganku.

Pak Fikri masih dalam posisi bersidekap ke pinggir meja kemudian berkata
"Keponakan Pak Kasno kan dikontrak Pak Sidi untuk jaga gudang dengan perjanjian bahwa gajina hanya separoh sedang sisanya untuk membayar pembantu di rumah kami"

"Betul Bu Lely......lagipula Mpok Rimah kan bekerja di rumah kami, rumah dinas maka sudah seharusnya dibayar pakai dana kantor.....Pak Sidi bijaksana sekali mengenai hal tersebut....." Bu Fikri melanjutkan kalimat Pak Fikri.

"Jadi ke depan, sebaiknya tetap seperti ini saja ya ?" ujar ibu itu lagi.

Aku menatap ke arah Pak Fikri, terbayang kata-kata Rahmat untuk tidak dipotong lagi.

"Maaf Pak, saya ingin mempelajari dulu ketersediaan anggaran kita untuk melihat apakah Mpok Rimah bisa diambilkan dana non budgeter lainnya tanpa mengganggu hak pegawai lainnya"

Pak Fikri sudah akan angkat bicara menjawab apa yang aku sampaikan tapi terdengar suara di sampingku.

"Bu Lely aja yang mencari pengganti untuk Rahmat dari kegiatan non budgeter itu tadi. Jangan berbuat sadis seperti Bu Hermi deh Bu Lely"

Aku menoleh sebentar ke arah Bu Fikri yang disambut dengan senyum manis darinya.

"Iya Bu Lely, Bu Hermi itu kan pengganti sementaranya Pak Sidi yang pensiun. Nah...dia pernah memutuskan bayaran untuk Mpok Rimah, katanya itu hak si Rahmat. Lha kan Mpok Rimah mengurus rumah dinas jadi punya hak yang sama dengan Rahmat" bibir tipis Bu Fikri bergerak-gerak melontarkan kata-kata yang aku pahami sekali maksudnya.

Aku kehabisan kata-kata dan hanya bisa memandang ke arah Pak Fikir. Aku menaruh harap Pak Fikri tidak setuju dengan kata-kata isterinya melainkan mempertimbangkan kata-kataku untuk mencarikan di kegiatan lain saja guna membayar Mpok Rimah, pembantu rumah tangga Pak Fikri. Harapanku terbang seketika setelah Pak Fikri memutuskan sama dengan isterinya.
Akhirnya aku berkata

"Baiklah kalau memang harus demikian...."

Aku keluar dari ruangan itu dengan pikiran bercabang. Satu ke arah Rahmat dan satu lagi ke arah diriku sendiri. Aku kasihan pada Rahmat namun aku tidak berdaya untuk mengubah keputusan yang salah ini. Keputusan yang salah arah karena seharusnya pembayaran untuk kebutuhan rumah tangga Pak Fikri seperti pembantunya, tidak dibebankan di kantor melainkan pada penghasilan pribadi Pak Fikri.

Menjelang pulang, Hamry masih duduk di depan mejaku. Tangannya mempermainkan pulpen yang dia dapat di atas mejaku. Aku sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya yang sangat aku maklumi. Siapa orangnya yang tidak kecewa karena keputusan yang salah arah itu. Aku baru saja menyampaikan keputusan Pak Fikri tentang penghasilan Rahmat setelah Hamry, supervisor Rahmat mempertanyakan hal itu ke aku. Aku dan Hamry, sama-sama baru dipindahkan ke bagian ini.

"Jadi itu sudah keputusan pimpinan ya Lely ?"

Hamry tidak menyematkan sebutan "Bu" untuk aku meskipun jabatanku lebih tinggi dari dia, tetapi kami sepantaran dalam hal usia dan masa kerja. Aku juga tidak mewajibkan panggilan itu untuknya. Terlalu formil. Namun bila ada yang menyematkan sebutan itu untukku meskipun usianya lebih tua dari aku, aku tetap menghormatinya dan memanggil staf-ku dengan sebutan sesuai usianya dan untukku sendiri aku lebih suka menggunakan sebutan "yaku" yang kalau diterjemahkan dalam bahasa Sunda menjadi "abdi" di dalam bahasa Jawa menjad "kulo" dan dalam bahasa Banjar menjadi "ulun"

Aku menjawab pertama dengan anggukan, berikutnya aku ucapkan

"Kita akan cari untuk kekurangan Rahmat dari kegiatan lain yang berkaitan dengan gudang ya"

Hamry diam, kemudian berdiri dan sebelum menghilang di balik pintu dia berkata

"Keputusan yang salah arah"

Aku hanya bisa melontarka seulas senyum dan pundakku terangkat sedikit sebagai pertanda, akupun tidak punya daya untuk mengurai masalah itu.

Bagian Ketiga : Heboh dan Penguatan

Amplop pertama

Yuhani masuk ke ruanganku pagi itu. Senyum yang biasanya mengembang bila masuk ke ruanganku, kali itu tidak ada.

"Bu, maaf ya.....amplop untuk Mpok Rimah masih sama Mbak Hamidah ya ? Pak Fikri menanyakan amplopnya Bu" ujarnya

"Kemarin kan Yuhani cuti, nah amplopnya dititip ke Hamidah.....coba cari deh masih di Hamidah nampaknya. Ibu juga nggak tahu, sudah diserahkan apa belum ?" jawabku

"Mbak Hamidah sedang ke bank, ibu....." sahut Yuhani.

"Kalau begitu, kamu siapkan saja amplop lain satu juta dan serahkan ke Pak Fikri Nanti yang di Hamidah buat gantinya" ujarku berikutnya

"Baik bu...." ujar Yuhani dan kemudian permisi kelaur dari ruanganku.

Itu kejadian bulan lalu. Kejadiannya kembali terulang namun dengan versi yang lain. Yuhani sudah menyiapkan dan menyimpan amplop untuk diserahkan ke Pak Fikri. Namun Pak Fikri sekeluarga, berikut Mpk Rimah sedang tidak ada di tempat. Mereka sedang ke Jakarta karena orangtua Mpok Rimah sedang sakit. Sampai satu minggu amplop itu berada di tangan Yuhani. Tiba saat Yuhani terlambat masuk kantor, Pak Fikri menanyakan amplop Mpok Rimah ke Hamidah dan Hamidah yang masuk ke ruanganku dengan pertanyaan yang sama seperti Yuhani sebulan yang lalu. Akhirnya, Hamidah lah yang menyiapkan amplop satu juta untuk diserahkan ke Pak Fikri.

Setelah kejadian itu, aku memanggil Yuhani dan Hamidah. Aku hanya meminta agar mereka bekerjasama dengan cara masing-masing menyiapkan amplop satu juta. Sehingga ketika tanggal yang sama tidak perlu lagi ada pertanyaan dari Pak Fikri mengenai amplop untuk Mpok Rimah. Dengan catatan, sebelum salah satu menyerahkan, harus memberitahu yang lainnya sehingga tidak keduanya memberikan amplop kepada Pak Fikri.

Amplop Kedua

Akhirnya kami bersepakat untuk itu dan semuanya berjalan lancar, sampai bulan ke enam datang. Hamry, kembali duduk di ruanganku dengan agak santai.

"Lely, sebaiknya kita mulai bicarakan tentang gaji Rahmat lagi" ucapnya.
"Memangnya kenapa Hamry ?"
"Itu Mpok Rimah sudah sejak empat bulan tidak lagi mengurus rumah dinas. Aku sendiri yang menugaskan Abidin memberishkan bagian dalam rumah dan Ruslan untu di kebin dan halaman. Mpok Rimah sudah empat bulan tidak di tempat Lely, masa' iya gajinya tetap jalan"

Aku berdiri, mendekati Hamry dan duduk di sofa dipisah meja dengannya.

"Hamry, biarkan saja dulu semua berjalan....sambil kita cari cara untuk menyelesaikannya. Aku ini masih baru dan kamu juga masih baru. Kita berdua harus mempelajari dulu situasi di bidang ini. Orang-orangnya....pola kerjanya......cara berkomunikasinya.....semua kita pelajari dulu....jangan terburu nafsu"

"Kalau kamu tidak berani mengatakan ke Pak Fikri, biar aku saja Lely.....ini sudah menyangkut hak orang lain. Pekerjaan Rahmat itu sepadan dibayar dengan nilai dua juta itu"

"Hamry, bukannya aku tidak berani mengatakan ke Pak Fikri, Aku hanya perlu hati-hati agar tidak terjadi kehebohan.....kemarin saja Pak Fikri sudah mencari-cari amplop hanya karena Yuhani dan Hamidah telat memberikan....... Dengan itu saja aku khawatir Pak Fikri akan menduga aku memberi amplop ke Mpok Rimah dari dana lain sehingga lambat memberikannya"

"Bukannya Pak Hamry itu sudah berstatus haji, Lely ?"
"Ssssssssssttttt.....jangan menghubungkan status haji dengan sifat pribadi seseorang Hamry"
"Seharusnya dengan label haji itu dia tahu mana hak dan mana yang bukan hak"
"Bagaimana kalau kamu latih sabar kamu dulu.....In syaa Allah akan ada jalan kelaurnya"
"Aku tidak habis pikir dengan cara berpikir kamu, Lely.....ini ada hak orang"
"Aku tahu....tolong ganti dulu uang Rahmat dari kegiatan lain....kamu masih bisa kan Hamry ?"

Hamry tidak menjawab, melainkan berdiri dan keluar dari ruanganku karena sirine pulang kerja sudah berbunyi. Aku kembali ke mejaku dan merapikannya.  Sebelum pulang, aku sempatkan shallat Ashar dulu karena terkadang bila tiba di rumah, shallat Ashar akan kukerjakan menjelang shallat Maghrib.

Sebenarnya, seusai shallat Ashar hari itu, ada sedikit kegundahan di dalam hatiku. Benarkah sudah yang aku lakukan ? Tidak mengambil sikap atas keputusan yang salah arah itu ? Hingga satu kejadian membuat aku seperti mendapat kekuatan untuk memastikan bahwa apa yang kulakukan itu salah.

Bayang seorang berkelebat di depan pintu ruanganku. Kebetulan aku berdiri da n mengambil tisuue mau ke toilet. Ketika aku menuju ke arah pintu, masuklah seorang lelaki yang rupanya tadi berkelebat di depan pintu ruangku.

"Rendy ???" aku agak terkejut. Dia, sopir Pak Fikri. Rendy tersenyum, semula mau masuk namun aku menggiringnya ke luar dan duduk di sofa ruag tunggu di luar. Ditangannya, ada dua amplop besar. Rendy mengayun-ayunkan amplop itu di depanku.

"Bu Lely, ini ada dua amplop titipan Bu Fikri. Katanya dikembalikan saja ke Bu Lely karena Mpok RImah sudah dua bulan tidak bekerja"

"Koq dua bulan Rendy ? Mpok Rimah itu tidak ada di sini sejak bulan Desember. Jadi kalau sampai hari ini maka sudah lima bulan dia tidak bekerja di rumah Pak Fikri. Terus kenapa dikembalikan ke saya, Rendy ?"

"Saya ndak tahu Bu....tadi waktu mengantar Bu Fikri ke bandara, cuma menitipkan ini dengan pesan seperti itu"

AKu tatap ata Rendy dan aku tahu dia tidak nyaman dengan tatapanku itu. Lalu aku bilang dengan suara berat, rendah dan penegasan

"Bawa kembali amplop itu dan mohon agar diserahkan ke Mpok Rimah. Saya....tidak tahu menahu dengan urusan amplop itu karena sudah sesuai dengan permintaan pimpinan. Ingat, jangan dikembalikan juga ke staf saya disini....kembalikan kalau nggak ke Bu Fikri yaa ke Pak Fikri atau ke Mpok Rimah langsung....."

Sesudah itu, Rendy aku tinggalkan terbengong-bengong. Selesai dari toilet aku menemui Yuhani dan Hamidah untuk tidak menerima amplop dari Rendy.

Kejadian hari itu sungguh membuat aku menjadi kurang respek entah kepada siapa. Bisa jadi ke Pak Fikri karena selaku pimpinan di kantor ini namun tidak bisa berbuat apapun terhadap isterinya. Bisa jadi ke Bu Fikri karena dia tidak punya kewenangan apa-apa namun sangat menentukan. Bisa jadi ke diriku sendiri karena terlalu bodoh menyetujui keputusan yang salah arah namun akhirnya tetap menerima keputusan yang salah lagi. Bagiku, hari itu adalah hari terakhir kepercayaanku pada keputusan di kantor ini berada di titik terendah.

Bagian Empat : Akhir

Meski detak jarum jam di dinding sangat jelas terdengar namun,
Aku kembali terngiang kata-kata Hamry, status haji Pak Fikri.
Aku kembali terngiang kata-kata Pak Kasno, pemotongan penghasilan Rahmat
Aku kembali terngiang kata-kata Yuhani, amplop Pak Fikri
Aku kembali terngiang kata-kata Hamidah, amplop Mpok Rimah
Aku kembali terngiang kata-kata Rendy, perintah Bu Fikri

Airmataku mengalir derah di tikar sajadah tempat aku bersujud. Kata-kata meluncur begitu saja dari bibirku

"Ya Allah.....aku bertaubat atas kesalahanku ikut menyetujui keputusan yang salah arah..... Ya Allah.....aku tidak sadar sudah mendukung orang yang salah, dan orang yang aku dukung ternyata memperlakukan aku sekehendak hatinya....."

Aku merasa, tidak perlu lagi membela pimpinan seperti Pak Fikri
Aku merasa, tidak perlu merasa bersalah lagi pada Rahmat
Disinilah aku sekarang.........di luar lingkaran syetan dan masuk dalam kehidupan yang hanya ada aku, suamiku dan kedua anak kami......berhenti bekerja pada seorang pimpinan yang salah arah dalam mengambil keputusan.

23 Desember 2018
Catatan yang kusimpan dalam hati dan pikiran
Kian hari kian berasa berat sehingga disini saja aku perlu menyimpan
Cerita ini boleh dianggap sebuah kebenaran
Sedangkan nama-nama yang tertulus, adalah nama pinjaman
Salam

Selasa, 20 November 2018

BODOH itu......BEGO ya ?

Ceritaku berikut ini, jangan diartikan sebagai pengkotak-kotakan suku dan bahasa. Melainkan mau menggambarkan seorang dengan kedudukan leader namun tidak menggunakan pepatah "dimana bumi dipijak disitu langit di junjung". Jadi mohon, pahami perbedaan bahasa hanya sebagai penggambarannya saja ya.......


Wajah yang dilepoti bedak tidak merata itu terlihat tegang. Aku menebak..... Sebentar lagi dahinya yang dihiasi coretan pensil alis sebatang itu, akan mengernyit dan bibirnya yang tipis itu akan mengerisut membentuk huruf antara M dan U yang tidak jelas. Setelah itu......akan terlontar kata-kata yang menusuk hati siapapun yang mendengarnya.

Juhri, anak honor yang baru empat bulan ada di kantor ini, berdiri dengan sedikit membungkuk dan memainkan jari di kedua tangannya sedangkan tangan kurus itu berada di depan perutnya.

"Koq turun sih ? Emang si Mirna dari atas terus ke bawah gitu ? Dari posisi dimana Mirna untuk turun ?? Dari lantai berapa ?? Lantai tiga atau lantai enem"

Aha..... betul kan apa yang aku bilang. Walau baru dua bulan aku menduduki jabatan staf khusus, aku sudah hapal dengan perilaku atasanku ini. Seorang ibu yang datang dari Jakarta, gaya bahasa Jakarta dan dandanan menor 'ala artis Jakarta. Hihi meski kadang terbawa keringat sehingga melorot kesana kemari juga sih.....upppps kembali ke kata-kata yang baru dilontarkan. Betulkan ??? Kata-katanya menusuk hati. Pastinya sih sekarang menusuk hati Juhri. Juhri melirik ke arahku sejenak kemudian terdengar suaranya pelan dan agak tersendat.

"Itu bahasa banjar, Ibu......" ujarnya.

Si ibu tertawa sinis.

"Dimana-mana.....arti kata turun itu ya dari atas ke bawah" sambarnya kemudian. Aku terhenyak di kursi, ibu ini terlalu percaya diri dengan kata-katanya.

"Maaf ibu, itu memang bahasa Banjar..... Juhri....besok-besok jangan pergunakan bahasa Banjar ya karena tidak semua orang faham bahasa Banjar," ujarku kemudian. Aku berdiri dan mengambil tempat di samping Juhri. Kehadiranku di ruangan si ibu, karena aku dipanggil, katanya ada hal penting yang akan disampaikan.

"Itulah Bu Galuh.....saya kan mau kirim-kirim foto kegiatan kita di Liang Bangkai kemarin..... lha yang foto-foto kan pake hape Mirna.....tuh Mirna dihubungi susah nah dia nggak masuk hari ini iyaaaaa kata Juhri, dia nggak turun.... jadi bingung saya.....pokoknya Bu Galuh usahakan Mirna bisa kirim foto-foto kegiatan di Liang Bakai sekarang juga ya......"

Aku berdiri, melangkah untuk keluar ketika si ibu mengatakan sambil sedikit bergumam....

"Bahasa Banjar tidak masuk kerja koq tidak turun ya ?"

Mendengar itu, aku berhenti melangkah.....

"Memang Bu.....turun dalam bahasa Indonesia berarti dari atas ke bawah....tapi kalau dalam bahasa Banjar turun itu artinya pergi ke suatu tempat.....turun dari rumah menuju ke suatu tempat"

Jawabku. Kata-kata si Ibu berikutnya, mengharuskan aku segera keluar dari ruangan itu. Ibu tertawa dengan sedikit nada aneh kemudian berujar

"Bahasa banjar bego ya ?"

Juhri langsung aku gawil untuk sama-sama keluar dari ruangan itu. Aku tidak tega dengan penampakan Juhri yang kena marah hanya karena dia memakai bahasa Banjar, Yaaaaa karena dia kan runner up Nanang Banjar, jadi bahasa itu harus dia kuasai dengan baik, Padahal aslinya Juhri bukan dari Banjarmasin juga.

Ternyata, amarah si ibu tidak berhenti sampai disitu. Dia panggil bagian personlia untuk mengetahui apakah Mirna tidak masuk kerja sudah ijin atau belum. Bagian personalia juga diwajibkan untuk bisa menghubungi Mirna agar foto-foto di hape Mirna segera dikirim ke hape beliau.

"Saya kan malu, mengundang rekan-rekan dari daerah lain eeeeeh saya nggak bisa nge share foto-foto di Liang Bangkai" ujarnya berapi-api.

Aku dan bagian personalia, Ninda, hanya bisa saling pandang.

"Lha terus itu si Juhri koq bilang kata Mirna nggak turun............jadi saya tanya Juhri, Mirna di turunin dari lantai berapa ?"

Ninda yang super kalem itu tersenyum kemudian berucap

"Itu bahasa Banjar, Bu......arti turun itu berangkat atau pergi ke suatu tempat"

Penjelasan yang sama yang sudah aku berikan. Berikutnya, terjadilah berbantah-bantahan soal Bahasa Banjar dan Bahasa Indonesia sampai dengan sejarah. Lengkapnya begini

"Jadi kalau kita ke pasar maka akan berucap saya turun ke pasar begitu ?" tanya si ibu yang dijawab pembenaran oleh Ninda.

"Kalau saya bertanya, mau ke pasar kah kamu maka bagaimana bahasa Banjar-nya ?"

Kali ini, aku dan Nida menjawab bersama-sama

"Handak turun ke pasa kah ikam ?"

Aku menambahkan dengan beberapa contoh lagi,

"Kalau ibu mau pergi ke yasinan maka tinggal bilang 'handak turun ke yasinan', kalau ada yang mau ke sekolah maka anak-anak akan bilang 'handak turun ke sekolah' begitu bu ?"

"Tapi kan turun dalam bahasa Indonesia itu dari atas ke bawah Bu Galuh"
"Itu benar dalam bahasa Indonesia Bu.....tetapi dalam bahasa Banjar turun itu arti menuju ke suatu tempat....."

"Duluan mana lahirnya, bahasa Banjar dengan bahasa Indonesia ? Harusnya bahasa Banjar mengikuti bahasa Indonesia "

Ninda menjawab dengan nafas sedikit terengah, pertanda emosinya sudah melebih batas dada. Maklum, dia asli urang Banjar.

"Ibu.....bahasa Indonesia baru lahir saat sumpah pemudah tahun seribu sembilan ratus dua puluh delapan......sedangkan bahasa Banjar sudah terlebih dahulu dipakai oleh suku Banjar"

"Tetapi apa iya bahasa Banjar lebih dahulu daripada bahasa Indonesia ? Coba.... Indonesia saja dijajah sudah 350 tahun lho berarti Indonesia sudah ada sejak 350 tahun lalu...lha bahasa Banjar ?"

Kali ini, aku yang menjawab

"Ibu, tahun ini......Banjarmasin sebagai pengguna bahasa Banjar sudah berusia 491 tahun. Dan kalau ibu membahas mana yang lebih dahulu antara bahasa Indonesia dan bahasa Banjar.....itu sama saja ibu membahas mana yang lebih dahulu antara ayam atau telur ?"

Akhirnya si ibu melambaikan tangan pertanda tidak ingin membahas masalah itu lagi. Meskipun sekali lagi aku mendengar kata "bego" meluncur dari bibirnya, aku tidak hiraukan lagi. Kasihan Ninda yang nafasnya sudah tersengal-sengal terbawa kesal.

Apa yang terulang dalam ingatanku itu, terjadi sekitar setahun yang lalu. Beliau sudah tidak lagi bertugas sekantor dengaku. Beberapa bulan lalu, beliau di mutasi......bukan kembali ke Jakarta melainkan ke tempat dimana bahasa dan logatnya sangat jauh berbeda. Beliau dipindahkan ke Papua. Aku yakin, beliau tidak berani memperbandingkan bahsa Indonesai dengan bahasa Papua.

Tiba-tiba saja ingata tentang itu muncul sebab aku barus saja membaca sebuah tulisan dari si ibu. Sepertinya beliau salah kirim dan nyasar ke handphone aku. Tulisannya begini 

"Pak Raha, selaku pimpinan saya tidak memberi tanggapan atas apapun melainkan saya memberi arahan untuk menejer-menejer disini sehingga bisa bekerja lebih baik dan pekerjaan berjalan lancar "

Aku yakin, Pak Raha, entah siapa dan apapun jabatan beliau di kantor yang ada di Papua, tentu hatinya akan tertusuk...... Aku bisa membayangkan beliau......alis dengan coretan pensil sebatang yang mengernyit, bibir terkantup antara huruf M dan U yang tidak jelas,,,,,,sambil tangannya memencet keypad handphone selebar agenda kerja. Sedangkan penerima pesan, mulai menarik nafas naik....turun....menahan perasaan.

Tidak ada yang berani mengingatkan si ibu untuk tidak berbuat demikian sebab setelah kejadian berbantahan soal bahasa itu, aku dan Ninda menjadi bulan-bulanan tuduhan berbagai macam kesalahan oleh beliau.

Hmmmmmmmmmmmm semoga Pak Raha sabar, nggak dikatain bego sama si ibu.


Diceritakan kembali oleh Galuh Arsilawati
Staf Khusus si ibu
Kepada Uniek M. Sari
Hari ini, 20 Nopember 2018



MENGEJAR.....JABATAN ???

Dadaku mendesir saat submit surat permohonan mengikuti lelang jabatan eselon II. Sungguhkah aku sedang mengejar jabatan ?????? Untuk menjawa...