Jumat, 03 Februari 2012

the way to think about THE WAYS oleh Uniek M. Sari pada 2 Mei 2010 pukul 11:58


Kurengkuh tubuh Andin ke dalam pelukanku. Tangan mungilnya melingkar di pundakku sementara kepalanya menyerusup ke dada seolah ingin mendengar detak jantungku...Ibunya.

“ Andin pernah kena marah Ibu seperti malam tadi...?” tanyaku sambil mengusap rambutnya dan kemudian mengangkat kepalanya untuk memberi kecupan di jidatnya yang menebar aroma bedak. Andin menggeleng sambil menatap ke arahku.

“ Ibu baru malam tadi marahin Andin...Andin sedih....Ibu ga’ memaafkan Andin padahal Andin sudah minta maaf ,” gadisku kemudian berucap setelah itu kembali menyerusupkan kepalanya ke dadaku. Hemmmmm...aku memang membuatnya menangis malam tadi. Tangisan yang tidak pernah terdengar sejak dia lahir. Tanpa memukulnya....Andin menangis sesungukkan malam tadi. Aku hanya menggeleng saat dia berteriak meminta untuk aku maafkan.

“ Mau Ibu beritahu kenapa Ibu marah sama Andin tadi malam ?” tanyaku persis di telinganya. Andin mengangkat kepala lalu mengangguk. Sesaat kemudian bola matanya menatap ke arahku, mencari kejujuran yang keluar dari bibirku. Di saat itu, pintu kamar terbuka dan Aldy muncul di balik pintu. Aku membiarkan dia masuk sejenak lalu kupegang tangannya.

“ Kakak bisa keluar sebentar, karena Ibu sedang bicara serius dengan Andin ,” kataku berikutnya.

Konsep “bicara serius” merupakan kekhususan bagi aku dan anak-anakku di saat aku ingin menyampaikan sesuatu yang penting hanya berdua saja. Mendengar ucapanku, Andin memeluk aku sebab dia tahu, ini berarti sesuatu yang khusus sekali buat dia. Aldy mengangguk tanpa ada kekecewaan di matanya sebab di saat aku “bicara serius” dengan Aldy....adiknya kerap aku minta untuk keluar kamar juga. Hehehe. Aku kembali mendudukkan Andin dipangkuanku dan gadisku memeluk tubuhku erat.

“ Sebenarnya Ibu capek sewaktu di Batam karena Ibu di Batam itu kerja. Tetapi, Ibu dengan semangat mencarikan oleh-oleh untuk Andin. Naaah begitu sampai di rumah....Ibu kecewa sama Andin. Kecewanya Ibu....ternyata Andin menghambur-hamburkan permen oleh-oleh dari Ibu dan lebih kecewa lagi, Andin menghamburkannya di depan saudara sepupu Andin....Ibu malu karena sepertinya Ibu ga’ ngajarin sopan santun pada Andin....” ucapku berikutnya.

Sesaat aku menunggu reaksi Andin setelah mendengar apa yang kukatakan. Woalaaa...berhasil. Andin melepas pelukannya dan duduk di depanku lalu menjelaskan kenapa dia berbuat seperti itu. Kupegang tangan mungil gadisku lalu kutatap matanya dan melalui itu kukatakan bahwa aku serius dengan apa yang kukatakan.

“ Koala yang Andin ikutin tingkah lakuknya itu kartun Nak....dia kartun binatang yang berbeda sekali dengan Andin karena Andin manusia...anak perempuan Ibu yang cantik...ga’ boleh Andin meniru kelakukan Koala itu.....paham Nak ?” tanyaku kemudian. Andin mengangguk.

“ Sekarang Ibu memaafkan apa yang sudah Andin perbuat malam tadi...dan Ibu juga minta maaf karena malam tadi Ibu ga’ memaafkan Andin....” anak gadisku melonjak dan memeluk aku dalam sekali lompatan sambil tertawa lepas. Subhanallah....maaf kan Ibu ya Andin...sebenarnya berat hatiku mendengar kamu menangis malam tadi, tetapi itu harus Ibu lakukan demi kamu juga sayang.

Dalam beberapa saat setelah Andin puas bermain denganku di kamar, dia berlari ke depan dan menemui kakaknya untuk bermain. Aku ditinggal sendiri dalam kamar. Ahhhh....ada apa sebenarnya dengan aku malam tadi sehingga ubun-ubunku seperti terbakar ? Apa masalahku sebenarnya ?

Kumulai dari sebuah do’a. Setiap usai shallat, selalu terucap kalimat....”Ya Allah...berikan yang terbaik untukku karena aku tahu ENGKAU MAHA BAIK....”

Perjalanan Banjarmasin-Batam adalah sesuatu yang baru bagiku dan ini kali pertama buat aku. Allah Azza Wa Jalla memberikan yang terbaik padaku yakni teman seperjalanan yang memiliki pengalaman yang sama yaaaa....sama-sama pertama kali harus mengurus transit !!! Transit pun tidak jadi masalah. Bahkan ketika dari Jakarta – Batam aku mendapat teman seorang Ibu separuh baya yang mengajak aku bicara sepanjang perjalanan sehingga buku yang kupersiapkan untuk mengatasi kejenuhan selama penerbangan justru tidak sempat kubaca karena asyik ngobrol dengan kenalan baruku itu. Bukan hanya itu, bagaimana caranya untuk sampai ke hotel, kudapat dari Ibu yang sederet denganku tersebut sebab dia sudah berkali-kali ke Batam. Alhamdulillah...my trip to Batam without any troubles.

Selama kegiatan pun aku tidak mendapatkan masalah. Dari pembukaan sampai penutupan bahasa inggris menjadi wajib (kena denda bila kami berbahasa Indonesia) dalam kegiatan training tersebut. Sejak SMP dan SMA nilai bahasa Inggris-ku selalu 9 di raport sehingga materi dalam bahasa Inggris bukan kendala bagiku. Bahkan mungkin, hanya aku peserta yang membuat banyak catatan di buku sewaktu mendengarkan fasilitator memberi materi, sampai aku ditegur....katanya :

“ I am sorry Mam....please don’t writing...just listening and understanding all of my prensentation.... you will have my presentation concepts in your flashdisc ”

“ But sorry Mrs. Chris....I’de like to write all of your presentation because it is the way for me to understand what was you say....” sahutku spontan.

Fasilitator itu malah tertawa ngakak dan kemudian mempersilahkan aku untuk tetap mencatat.

Fasilitator yang lain justru menyebut aku secretary karena aku memang tidak bisa “put down the ballpoint to stop writing” hehehe. Really, the end of training I have no troubles.....Alhamdulillah.

Perjalanan keberangkatan menjadi pedoman bagiku untuk meringkesi barang.

Ternyata perjalanan dari Batam-Jakarta aku menemukan situasi di luar dugaan. I have no friend in airplane as long as it flight. Sepertinya hanya aku yang perempuan dalam deretan kiri dan kanan juga belakangku. Upppsss....perjalanan kemudian membosankan dan buku-bukuku di koper dalam bagasi !!!! My God, untuk menghilangkan kejenuhan aku bersenandung lagu “Love Story”. Emang gue pikirin orang di sebelahku ???

Situasi lain kudapati saat harus antri untuk transit. Tingkah yang ga’ mau antri, main serobot ternyata masih membudaya, walaupun di Bandara katanya tempat yang paling disiplin. Hehehe bahkan calo berpakaian dinas menawarkan untuk menerobos antrian agar transit berjalan cepat. Weeeeekkkk aku menggeleng. Memang beresiko sih....aku hanya punya waktu 5 menit untuk sampai di pesawat karena pesawat sudah mau landing. Hufffffffssss.... ternyata aku mendapatkan nomor kursi yang sama waktu dipesawat dari Batam. Urutan D dan....kiri-kananku lagi-lagi kaum adam semua.

My God, I have the same situation...I have no friend as long as flight from Jakarta to Banjarmasin. And it is really really really bored situation. Oh my books...I need all of my books but they aren’t here.... Kali ini hatiku hanya mengulang-ulang ayat Qursy. Kepala-ku jadi berat.

Ibarat sudah ketumpahan minyak tanah maka bagasi-ku yang tertinggal di Jakarta hanyalah pematik yang membuat aku bisa terbakar dalam emosi. Tapi enggak, dihadapan pegawai agen perjalanan itu aku tetap bisa mengendalikan kata-kataku sehingga akhirnya kami sepakat bahwa bagasiku akan diantar bila tiba dari Jakarta. (Tengah malam sekitar pukul 2, bagasiku di antar). Wow....taksi bandara juga memberi andil dalam pemadatan emosi di kepalaku sebab sudah beberapa kali mengambil posisi berbahaya untuk keselamatan jiwa dan supirnya mengeluh terus sepanjang jalan. Subhanallah...tahukah engkau wahai Pak Supir...diriku sebenarnya lebih lelah dari dirimu bahkan aku belum makan seharian ini !!! Untuk mengalihkan pendengaranku dari supir, kubuka facebook melalui hape dan......aku matikan lagi secapat kilat karena hahaha !!!! Rahasia gue aja deh.

Aku tak habis pikir kenapa perjalanan pulang tidak seindah-semudah perjalanan berangkat ? Kalau kegiatanku dibagi ke dalam 3 tahapan maka Allah Azza Wa Jalla mengabulkan dua kebaikan untuk kegiatanku dan satu ketidak baikan dari kegiatanku. Bukankah setiap saat aku berdo’a untuk mohon kebaikan yang terbaik ???

Setelah semalam aku berpikir, ternyata Allah memberikan 3 kebaikan dalam tiga bagian dari kegiatanku kemarin yaitu :

1. Di keberangkatan dengan segala situasi yang positif sebab Allah Maha Tahu bahwa aku akan menghadapi hari-hari yang full dengan kegiatan maka bila aku sudah stress di perjalanan maka bisa jadi aku akan kacau selama mengikuti kegiatan

2. Selama kegiatan dengan segala situasi positifnya sebab Allah Maha Tahu bahwa aku memang datang dengan niat untuk menimba ilmu dan pengetahuan sehingga dimudahkan bagiku untuk mengikuti semua materi. Rutinitas training selama beberapa seperti mengingatkan aku dimasa masih sekolah yang getol berbahasa Inggris di dalam kelas.

3. Di kepulangan dengan segala situasi negatif-nya. Kalau aku mendapatkan semua sisi positif saja sampai dengan pulang barangkali tidak ada perenungan dalam hari-hariku, Justru adanya kendala itu mengingatkan aku bahwa banyak kebaikan yang diberikan Allah Azza Wa Jalla atas diriku. Bahwa aku harus diapit “banyak” lelaki karena dalam perjalanan tersebut sebenarnya dikarenakan pesawat di kepung awan tebal saat akan mendarat dan landing dari Bandara Soeta. Situasi menjenuhkan gara-gara buku aku tempatkan dibagasi disebabkan aku terlalu yakin bahwa aku akan menghadapi situasi positif seperti dalam perjalanan keberangkatan. Bukankah seharusnya aku memperhitungkan yang sebaliknya karena aku tidak tahu sesuatu beberapa detik ke depan ???

Catatanku ini kuakhiri dengan do’a pula.

Ya Allah Yang Maha Baik...tetap berikan segala kebaikanMU kepada aku dan kepada orang-orang terkasih yang dekat denganku, kepada teman-temanku yang selalu baik kepadaku agar mereka mendapatkan segala yang terbaik dariMU Ya Rabb...amiiiin.

The Reflection oleh Uniek M. Sari pada 30 Mei 2010 pukul 10:56

Aku memandang ke arah anak perempuan yang ada di hadapanku. Matanya sudah berkaca-kaca, mungkin sebentar lagi menangis. Hmmm…ternyata apa yang dikatakan mereka selama ini benar adanya. Kuhentikan gerak tangan anak itu dengan sekali genggaman. Aku melihat kegelisahan pada gerakan tangannya

“Perhatikan, Ibu tidak marah……Ibu hentikan karena Laili ada yang keliru…sini Ibu baca yang tadi Laili baca ,” ujarku sambil meraih buku yang ada di hadapannya. Kubaca pelan-pelan seperti dibacanya tadi. Laili menarik tangannya dari genggamanku lalu mengambil buku kecil di hadapanku.

“ Ibu tadi membaca qof ga’ pake qolqolah ya ? “ ujarnya kemudian. Senyumku mengembang lalu kuusap kepalanya.

“ Itu tadi yang Laili baca, Ibu cuma mengulangnya….. Laili tiba-tiba menghentikan bacaan Ibu karena tahu bahwa bacaan Ibu salah….,”

Gadis kecil itu tersenyum malu lalu menundukkan kepala. Dia dikenal cengeng dan kalau diberitahu kesalahannya selalu saja menangis. Kalau sudah menangis, kemudian ngambek dan tidak mau membaca buku Iqra-nya. Ustadz dan ustadzah di TKA/TPA Al Muhajirin di dekat rumah kontrakanku, sudah angkat tangan untuk mengajari gadis kecil ini. Tetapi sore itu, Laili menghabiskan 4 lembar buku Iqra-nya bersama-samaku.

Aku mendapat ucapan selamat dari ustadz dan ustadzah yang lainnya karena berhasil “menjinakkan” gadis cengeng itu. Ini “keberhasilan” kedua sesudah menjinakkan kakak beradik Ipan dan Adul. Honor bukan yang kucari melainkan kepuasan bathin yang tak bisa diukur dengan apapun...apalagi kalau berhasil menghadapi tantangan dihadapan murid-murid khusus seperti Nurlaili.

Aku memang memilih kegiatan di lingkunganku itu dan menolak ajakan teman-temanku untuk aktif di forum diskusi yang dikelola Senat Mahasiswa, padahal aku bagian dari pengurus senat di kampusku sendiri.

Biasanya setiap usai shallat Ashar, TK/TP Al Qur'an Al Muhajirin ini bubar dan di rumah sudah ada anak tetangga yang menunggu untuk minta “temani” saat membaca AL Qur’an. Ini rutinitasku sejak aku kuliah sampai aku harus pulang ke daerah karena kuliahku usai sudah.

Dua tahun berikutnya, penampilan dan kegiatanku tidak seperti itu. Setelah aku wisuda dan kembali ke daerah, aku mendapatkan diriku menjadi seorang yang asing, terkucil dan sia-sia menyelesaikan kuliah “lebih cepat” dari yang lainnya.

Bapak sibuk dengan kegiatannya sehingga aku tidak punya teman ber”debat” lagi seperti saat aku masih kuliah dan pulang setiap semesteran. Bunda, lebih parah lagi….. selama Bapakku sibuk Bunda jadi “lengket” dengan anak teman sepermainanku yang dipanggil “cucu” oleh Bunda.

Hatiku seperti disayat-sayat setiap “cucu” Bunda dari tetangga ini datang. Aku memberi “gelar kesarjanaanku” dan perilaku “muslimahku” pada Bunda tetapi nampaknya gelar “cucu” dari perempuan yang berpakaian sembarangan, lebih dekat di hati Bunda.

Aku mengambil gunting, rambutku yang sebatas pinggang ku potong…tidak tanggung-tanggung… potong cepak !! Semasih nge-kost, banyak temanku yang mau ganti potongan rambut gratis hanya dengan membawa gunting dan sisir ke kamarku.

Aku mengambil kunci kendaraan, tanpa berbusana muslim dan hanya mengenakan celana panjang dan kaos lengan pendek, aku ke bank mengambil tabunganku lalu berbelanja pakaian ke toko. Pakaian span, rok mini dan….blouse-blouse lengan pendek semua. Anting-anting ku ganti yang sedang in waktu itu. Begitu juga perhiasan lainnya.

Hanya dalam tempo sehari….. aku sudah tidak seperti ustadzah yang berhasil membuat anak orang lain mau mengaji…tetapi aku sudah menjadi “perempuan” lain tanpa identitas islami. Sejak hari itu, aku yang biasanya "setia" di rumah….malah sukanya duduk di rumah makan atau di rumah temanku ber jam-jam. Jalanan, tempat aku menumpahkan segala kesalku sebab kedekatan Bunda dengan “cucu” tetangga benar-benar membuat hati aku terluka.

Sahabat,

Cerita ini tidak muncul begitu saja. Ingatan tentang ini, tidak hadir begitu saja. Ini refleksi dari sebuah jawaban. Beberapa minggu lalu aku bertandang ke komunitas YA katagori AK yang salah satu member-nya bertanya : Perbuatan apa yang dilakukan di masa lalu dan penyesalannya kamu rasakan saat ini ? Jemari-ku menekan tuts pada keyboard komputerku dan menuliskan BETAPA MENYESALNYA AKU SEBAB TELAH MELEPASKAN JILBAB WAKTU ITU…….. Karena, memang hanya itu SATU-SATUNYA perbuatan dimasa lalu yang tak akan habis kusesali seumur hidupku. Astaghfirullah.....aku hampir menangis waktu mengetik jawaban itu.

Ternyata apa yang kutulis sebagai jawaban tidak hanya sebatas itu. Ingatan tentang bagaimana pertama kali aku mengenakan jilbab kemudian kehidupanku selama berbusana muslim….lalu saat aku melepaskan jilbab dan “rasa” hidupku selama tidak berbusana muslim…..benar-benar mengganggu ketenanganku. Kegelisahan itu semakin mengganggu emosi-ku dan mempengaruhi kalimat-kalimatku saat memberi komentar ke teman-teman di facebook. Itupun kemudian menyakitkan hatiku.

Aku memutuskan untuk berhenti dari dunia “maya” merogoh kembali masa laluku, mengembalikan lagi semua kenanganku dan…………Alhamdulillah….semua telah kembali dalam posisinya semula.

Ada beberapa catatan yang bisa kuambil yaitu :
1. Apa yang kita putuskan hari ini akan kita petik buahnya di kemudian hari
2. Hal baik atau buruk yang kita dapatkan hari ini, sebenarnya buah dari perbuatan kita di masa lalu

Aku mendapat pesan dari member YA AK itu yang justru me-refleksi-kan keyakinanku bahwa Allah Azza Wa Jalla dengan segala kebaikannya akan memaafkan apapun kesalahan kita dan tentu dengan segala taubat yang kita lakukan masalah apapun yang kita hadapi saat ini akan tetap dalam petunjuk dan lindungan dari NYA. Karena Allah…Maha Pengampun, Pengasih dan Penyayang……

Catatan ini, hanya untuk share pengalaman....jangan pernah salah dalam membuat sebuah keputusan.....

Untuk siapapun yang punya inisial P di komunitas YA AK terima kasih sudah mengingatkan aku akan hal penting dalam hidupku, semoga Allah Azza Wa Jallah memberikan segala kebaikanNYA untuk kamu.


MENGEJAR.....JABATAN ???

Dadaku mendesir saat submit surat permohonan mengikuti lelang jabatan eselon II. Sungguhkah aku sedang mengejar jabatan ?????? Untuk menjawa...