Kamis, 08 Mei 2014

MALAM INI...................

Tanggal 8 Mei 2014,
Airmataku menetes membasahi pipi sebab tiba-tiba saja hatiku bagai mendapat sayatan yang pedih saat mengingat sesuatu................... Kutulis status di blackberry ku : maaf kulukai hatimu sebelum aku berterima kasih......dan airmataku kian deras mengalir.

Tanggal 17 April 2014,
Saat aku sedang mengerjakan bahan rapat pengendalian program, handphone-ku berbunyi. Sebuah nama yang tidak asing muncul di layarnya. Serta merta kujawab telepon itu. Pembicaraan sore itu via telepon cukup lama yang isi singkatnya, aku diminta untuk membuat format berita yang memuat tentang berita program di Kalimantan Selatan. Aku tidak pernah menolak pekerjaan dan pekerjaan itu sudah pernah aku lakukan. Jadilah aku mengubah haluan pekerjaanku. Bahan berita itu siap untuk dicetak.

Tanggal 18 April 2014, pukul 21.00
Handphone ku berbunyi lagi. Sekali lagi, nama penting itu yang menyebabkan aku harus menerima dan menjawab telepon tersebut. Kali ini, perintah melalui handphone itu cukup membuatku berfikir keras sebab akhirnya aku diberi tanggung jawab untuk bisa mewujudkan sebuah suplemen berita.

Pertama, aku harus mencetak berita yang kususun dalam format koran. Akan tetapi, karena kantor kami tidak memiliki Surat Ijin Penerbitan koran maka pencetakan materi dalam format koran dapat dikatakan ilegal.
Kedua, jalan keluarnya adalah dengan menjadikan format berita itu sebagai suplemen berita sebuah media massa di Banjarmasin. Akan tetapi, pejabat yang berwenang dengan media massa menyebutkan angka 30 juta untuk membuat suplemen berita di koran tertentu. Aku mendapat tugas mencari koran lain yang mungkin harganya lebih rendah dari 30 juta rupiah. Bila mana perlu koran terbesar di Banjarmasin.
Ketiga, aku tidak mengenal orang media terbesar di Banjarmasin itu, satupun. Aku memang punya teman sekampus yang memiliki media tapi bukan tergolong media besar di kotaku.
Keempat, aku harus bergerak cepat sebab diharapkan suplemen berita itu terbit tanggal 23 April 2014. Olalaaaaa.....

Tanggal 19 April 2014
Satu hari penuh aku menemui pihak manager di koran terbesar yaitu Banjarmasin Post. Akhirnya aku mendapat penawaran yang cantik........murah sekali. Kuberitahukan itu kepada pimpinanku yang selama beberapa kali menghubungiku via telepon.

Tanggal 20 April 2014,
Kontak via telepon dengan beberapa manager Banjarmasin Post, menjadikan komunikasi antara aku dan mereka semakin comfort sehingga beberapa permintaan lanjutan, bisa aku komunikasikan dengan para manager Banjarmasin Post.

Tanggal 21 April 2014,
Format berita aku masukkan ke meja atasanku untuk mendapat koreksi. Saat itu, aku diminta hadir dalam rapat.

Aku merasa tertantang sebab anak kemarin sore yang duduk dalam jabatan berkaitan dengan media massa itu menantang dengan mengatakan bahwa informasi dia senilai 30 juta rupiah itu yang benar. Lalu sesuai dengan perintah pimpinan, aku bersama pelaksana tugas eselon 3 di bidang tempatku bekerja menuju Banjarmasin Post untuk bertemu dengan para manager yang sudah kuhubungi via telepon. Konyolnya, anak kemarin sore itu terlalu angkuh dengan melontarkan kalimat :
" sebaiknya jangan kita yang ke Banjarmasin Post melainkan mereka yang harus datang ke kita"
Dimana letak "koordinasi" bila demikian ? Siapa yang memerlukan siapa ?
Akhirnya, aku pergi bersama Ibu Kepala Bidang untuk bernegosiasi dengan Banjarmasin Post, Hasilnya ???
Hanya perlu dana  8 juta rupiah untuk menghadirkan suplemen berita. Bahkan, Banjarmasin Post merasa dihargai dan berharap kerjasama ini bisa dilanjutkan sebab ini kali pertama mereka mendapat order suplemen berita.

Sore hari, format beritaku tidak mendapat koreksi apa-apa jadi aku anggap tidak bermasalah dan aku masukkan ke bagian lay-out Banjarmasin Post untuk dicetak. Beberapa catatan aku berikan, termasuk nama suplemen : KAYUH KENCANA BAIMBAI.

Aku tidak dapat pulang hari itu, sebab harus menyelesaikan satu permintaan lagi yaitu membuat buku panduan Kepala yang akan hadir di Banjarmasin. Hemmmmmmmmhhhhh super sibuk sebab pukul 20.30 malam aku baru pulang dalam keadaan hujan lebat.

Tanggal 22 April 2014,
Aku melihat semuanya berjalan lancar bahkan sampai dengan kegiatan di sebuah Akademi Kebidanan yang mendapat kunjungan, wartawan yang kami booking sudah stand by disana. Satu hal yang aku lupa, mengontak ajudan kepala agar menyediakan waktu bagi wartawan tersebut untuk wawancara ekslusif. Akhirnya, hal itu tidak terlaksana.

Tanggal 23 April 2014,
Suplemen berita benar-benar terbit. Ada beberapa  hal yang membuat aku agak kecewa yaitu :
Satu, nama suplemen berita KAYUH KENCANA BAIMBAI tidak tertera di suplemen tersebut
Kedua, advetorial yang seharusnya bisa separuh halaman ternyata hanya cuplikan kecil akibat tidak tersedianya waktu untuk wawancara ekslusif seperti yang dijanjikan pada wartawan Banjarmasin Post.

Namun demikian, aku masih bersyukur bahwa bisa mewujudkan suplemen tepat waktu, tepat janji. Sedangkan kekurangan itu kalau ditelisik masih sangat wajar sebab ini pertama kali order suplemen berita bagi Banjarmasin Post. Hal penting dan lebih utama adalah aku berhasil menggagalkan mark up anggaran dari 30 juta rupiah menjadi 8 juta rupiah saja. Hemmmmmhhhh....... 22 juta rupiah terselamatkan.

Tanggal 29 April 2014,
Berita mengejutkan aku dengar......itu kepala sub bidang nya marah dan mengatakan ke pegawai yang lain bahwa aku mengambil pekerjaan miliknya. Waduuuuuh....emang aku kurang kerjaan ya ? Gara-gara mengerjakan supelemn berita itu, materi radalgram aku keteteran. Coba kalau dia tidak menaruh harga 30 juta rupiah untuk sisipan sebanyak 1000 eksemplar, tentunya pekerjaan itu tidak akan dibicarakan ke aku. Omongan anak ini aku abaikan sebab yang penting bagiku aku sudah membantu kantorku mengatasi satu permasalahan dan menyelesaikan permasalahan suplemen berita.

Tanggal 5 Mei 2014,
Ucapan terima kasih dari pimpinan kepada panitia dan lebih khusus kepada tim transportasi dan akomodasi yang sudah bekerja keras sehingga acara akbar itu berjalan lancar. Uppppppssssss......apakah tim itu akan berjalan lancar kalau surat menyuratnya kacau ? Berarti.....suplemen berita itu bukan sebuah kesuksesan bagi atasanku.

Betul juga.......malam harinya, aku seperti diadili dihadapan seseorang yang tidak tahu lelahnya membuat berita, yang tidak tahu lelahnya membuat tulisan, yang tidak tahu beban atas permintaan yang harus terwujud dalam beberapa hari saja. Orang itu, eselon 3 yang lain, dengan mudahnya mengatakan : Malu struktur kita yang kosong itu terbaca seantero Banjarmasin

Subhanallah......suplemen berita itu hanya dibaca di kalangan sendiri....yang memang tahu beberapa jabatan kosong sudah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Tidak tersebar di masyarakat Banjarmasin karena pemesanannya hanya untuk acara besar di hari itu saja. Orang itu, mengeluarkan kata-kata seenaknya sendiri dengan sengaja melukai perasaanku. Ingin aku pergi dari tempat itu......tetapi sangat tidak mungkin.

Tanggal 8 Mei 2014,
Airmataku mengalir.......tanggal per tanggal kembali terbayang dan aku berkesimpulan......ketika mendapat kesulitan, barangkali aku yang dibutuhkan.....dan aku pertama yang akan dihubungi......akan tetapi selalu paling belakang mendapat penghargaan bahkan lebih sering diabaikan. Jangankan ucapan terima kasih, saat dikata-katain bahwa aku merebut pekerjaan orang lain, tidak satupun yang membelaku.
................Airmataku mengalir tidak bisa lagi kuhentikan.......................selamat malam..... kutanggung semuanya sendiri malam ini bersama airmataku

Minggu, 03 November 2013

MENGUBAH DIRI

Aku senang melakukan kontak dengan orang lain. Namun aku tidak ingin menjadi bagian dari kehidupan orang lain, kecuali yang sudah ditaqdirkan Allah Azza Wa Jalla sesuai dengan perjanjian hidupku menjelang aku lahir ke dunia. Jadilah, aku seorang yang terlihat tidak punya teman. Namun aku yakin, di dalam hati mereka aku adalah teman sebab dalam berteman aku tidak menggunakan pangkat dan jabatan, dalam berteman aku tidak memanfaatkan kekayaan dan penampilan.

Ada yang merasa terganggu dengan diriku yang seperti ini ?

Berubahnya Susu dan Nila
 
Ya, sudah pasti. Yang terganggu adalah mereka-mereka yang materialistik, memandang segala sesuatu dari segi fisik, penampilan dan kekayaan. Kalau materialistik diibaratkan cairan maka dia merupakan cairan nila yang bersifat merusak. Namun didalam kumpulan nila, setitik nila akan dengan sendirinya melebur menjadi satu dikarenakan kesamaan sifat dan pembawaan. 

Bagiku, aku bukanlah setitik nila. Aku senantiasa menempatkan diriku agar bisa berguna dan bsia bermanfaat bagi orang lain. Kadangkala orang lain mengambil manfaat berlebihan atas diriku, itu aku sangat tahu dan sangat memakluminya sebab orang-orang seperti aku jumlahnya sangat tidak banyak. Ibaratkan air susu, bukankah setiap tetesnya memberi manfaat dan sangat berguna bagi yang meminumnya ? Sedangkan susu itu sendiri tidak akan serta merta bermanfaat bila dibiarkan begitu saja. Susu itu harus diminum. Baru bermanfaat. Aku rasa, begitulah aku, ibarat susu.

Apakah susu akan bisa dikelompokkan ? Tentu saja bisa bila hanya sekedar disebut susu. Namun susu itu sendiri memiliki manfaat yang berbeda-beda sesuai dengan si penerima manfaat. Sehingga orang banyak mengenal susu untuk anak-anak, susu untuk ibu hamil dan susu untuk lanjut usia. Seharusnya ada susu yang bisa bermanfaat bagi semua kalangan umur sehingga susu tetap bisa membaur dalam satu kumpulan susu. Sayangnya, susu tetap terpilah-pilah.

Susu dan nila sama-sama berbentuk cairan. Hanya saja, ternyata antara nila dan susu memiliki karakteristik yang sangat berbeda. 

Disaat setetes nila dimasukkan ke dalam secawan susu maka dengan serta merta susu itu tidak akan bisa dimanfaatkan lagi sebab susu bercampur nila akan dominan sifat perusaknya daripada manfaatnya. Kenapa ? Karena suspensi nila yang lebih cair sehingga gampang masuk ke molekul-molekul susu yang lebih padat. Oleh karena itu, meskipun volume nila hanya setetes sedangkan volume susu secawan maka nila yang setetas dapat merusak sifat susu yang secawan.

Bagaimana bila nila yang secawan sedangkan susu hanya setetes ? Karena suspensi-nya lebih kental maka susu akan tetap berbentuk susu dan nila hanya saja karena sudah jelas nila-nya yang banyak maka susu setets itu tidak berguna apa-apa dan besar kemungkinan akan rusak dari waktu-waktu.

Sadarkah bahwa di sekitar kita hanya sedikit yang menjadi susu dan lebih banyak yang menjadi nila ? Betapa beratnya susu-susu ini mempertahankan formula agar tetap bisa memberi manfaat sedangkan nila kian hari bertambah tingkat perusakannya. Susu tidak serta merta berubah menjadi nila baik sifat serta warnanya, hanya saja sifat perusak dari nila yang menyebabkan susu tidak lagi memberi manfaat.

Jadi, meskipun ada yang merasa terganggu dengan diriku, sepanjang aku berdiri pada kebenaran hakiki yang kuambil dari aqidah yang kuyakini......maka aku akan tetap menjadi setetes susu meskipun berada di secawan nila.

Berubahnya Batu dan Bunglon

Ada yang merasa terganggu dengan diriku yang seperti ini ?

Sudah pasti ada, bahkan ada yang kemudian melalui berbagai macam cara agar aku berubah. Berubah seperti yang mereka inginkan.

Allah Ta'ala menciptakan bunglon agar kita bisa belajar banyak darinya. Untuk self defenses, seekor bunglon akan berubah-ubah warna sesuai dengan lingkungan dimana dia berada. Adalah sangat bagus menjadi seekor bunglon sebab gampang sekali menyesuaikan diri. Penyesuaian diri-lah yang diperlukan, bukan self defenses-nya. Sebab apabila elsf defenses yang didahulukan maka sifat bunglon tidak jauh beda dengan sifat nila. Bunglon berubah untuk keamanan dirinya sendiri, padahal lingkungan tidak selalu membuat dia mati terbunuh bahkan justru lingkungan akan bingung dengan perubahan yang sering terjadi dalam hitungan detik. Atau mungkinkah bunglon memiliki sifat yang tidak disukai dan sifat merusak sehingga dia harus sesering mungkin berubah warna agar bisa menipu lingkungan yang tidak menyukai dan bisa merusak lingkungan yang sudah menerimanya ? Aku, tidak ingin seperti bunglon.

Tahukah sebuah batu ? Apakah batu bisa berubah ? Batu tidak akan pernah bisa berubah. Dia tetap keras. Dia tetap kaku. Dia tetap pada bentuk dan sifatnya meski direbus, dipanaskan atau dibekukan.  Batu, hanya dihancurkan dia bisa pecah namun sifatnya tidaklah berubah masih keras sebagaimana layaknya batu. Jelas, aku tidak ingin seperti batu. Allah Ta'ala menurunkan batu agar manusia bisa membaca betapa menjengkelkannya sebuah batu, meskipun kecil dan terselip di ujung sepatu.....tetap memberi rasa tidak nyaman. Aku, tidak ingin seperti batu.

Aku hanya akan berubah, sesuai dengan kodratku sebagai bagian dari alam yang ber-evolusi sesuai dengan kebutuhan dan waktu untuk itu. Sepanjang aku melakukan hal yang tidak bertentangan dengan aqidahku......maka aku tidak akan mengubah diri.

MENGEJAR.....JABATAN ???

Dadaku mendesir saat submit surat permohonan mengikuti lelang jabatan eselon II. Sungguhkah aku sedang mengejar jabatan ?????? Untuk menjawa...