Minggu, 01 Maret 2015

BEBAN ITU BUKAN PUNYAKU

Pelantikan sudah berjalan setengah bulan, saat aku masuk dari cuti selama dua minggu. Aku sedang mengerjakan spesifkasi kartu-kartu yang dibutuhkan untuk pelayanan kontrasepsi dan laporan bulanan sebab awal tahun menjaadi kegiatan rutin tugasku untuk pengadaan kartu yang dibutuhkan di tingkat lapangan. Selain itu, sudah pula menunggu pembuatan spesifikasi untuk formulir pendataan keluarga. Aku menyukai setiap lekuk dari pekerjaanku sebab setiap harinya ada seni yang kupelajari disitu.
Ah ya.....aku juga punya satu tanggung jawab yang harus aku selesaikan yaitu pembuatan laporan akuntabilitas yang rutin diminta setiap awal tahun sebagai laporan kegiatan tahun sebelumnya. Dan aku tengah melakukan perbaikan dari lapora tersebut. Di sini, aku tdaik bekerja sendirian.

Tengah menyelesaikan apa yang kusebutkan tadi, masuklah seorang perempuan bertubuh gendut dengan gaya berjalan seperti orang sibuk dan suaranya yang melengking langsung berada didepanku katanya :

" Ibu sudah mengerjakan renstra ?"

Perempuan ini staf di salah satu bidang. Kurang ajar juga, siapa dia koq bertanya seperti itu ? Apa kedudukannya koq menganggap aku ini sebagai pembantunya dan semaunya bertanya seperti itu.

" Siapa yang menyuruh aku mengerjakan itu ?" jawabku sambil menatap ke arahnya. Dibelakangnya masuk pula seorang perempuan bertubuh lebih gemuk, pejabat yang baru di lantik dua minggu lalu.

" Un, bisakah ikam mengerjakan Renstra ini sebab si anu tidak ada, si ani tidak ada, si itu entah kemana dan aku tidak mungkin mengerjakannya karena aku takut kalau dicoret-coret. Kamu tahu sendiri kan pimpinan kita seringmencoret-coret konsep kita ?"

Aku terpesona mendengar kalimat yang dilontarkannya. Sebenarnya kalimat itu biasa saja. Tetapi terlontar dari seorang pejabat yang dilantik dengan alasan dia lebih cerdas meski tidak pintar. Mengapa menghadapi coretan atas konsep saja takut ? Bukankah dia yang katanya selalu menjuarai lomba-lomba di tingkat nasional ? Kenapa sang juara takut menghadapi konsep yang akan dicoret ? Takut.....atau tidak bisa ?

Aku menyuruhnya melihat ke layar laptopku.

" Aku sedang mengerjakan ini.......bisakah tidak menggangguku ?" ujarku kemudian.

Kedua perempuan gendut itu kemudian berlalu. Aku yakin, akan ada cerita negatif tentangku untuk pimpinan di kantor terkait dengan penolakanku tersebut.

Membuat Renstra sebenarnya tidaklah sulit. Aku sudah mempelajari caranya ketika Diklat PIM III tahun 2012, akupun mempelajarinya saat materi kuliah manajemen srategik. Tidak sulit membuat rencana strategi.......tetapi itu bukan tugas aku yang cuma lower manager. Itu merupakan tugasnya middle dan top manager. Jadi maaf, silahkan suruh orang-orang cerdas lainnya saja untuk membuat renstra itu, jangan suruh aku yang tidak cerdas ini.

Melihat mereka berdua menjauh, aku termenung dan ingat kejadian di tahun 2012.....saat lomba duta mahasiswa.

Sore itu, telpon ku berdering tidak putus-putus padahal aku sudah telanjang di kamar mandi. Suamiku marah sekali ketika dalam keadaan tidak berpakaian aku mengangkat telpon itu dan berbicara dengan si penelpon. Saat itu, aku masih menganggapnya teman. Temanku itu bertanya, undang-undang terntang kependudukan dan KB.

Aku menjawab scara jelas dua undang-undang yang dipergunakan untuk program KB yang lama dan yang baru. Ternyata, undang-undang itu yang dipertanyakan saat lomba duta mahasiswa. Dia sudah bertanya ke kepala bidang KS-PK tetapi si Kabid tidak tahu. Kemudian dia menelponku. Entah, apakah jawaban  mengenai undang-undang itukah yang menjadikan provinsiku menang dalam lomba tersebut ? Aku ikut senang dengan kemenangan yang diraih temanku itu.

Tetapi kesenanganku itu kemudian sirna ketika Kabidku yang tepuk dada bahwa dialah yang memberitahu tentang undang-undang tersebut sehingga mereka menang. Subhanallah. Tetapi tidak apalah..... Pada tahun 2013 kembali menang dan aku ikut senang meskipun dalam hati aku menahan rasa yang kupendam sebab tidak diakui sebagai salah satu yang memberi dukungan atas kemangannya. Yang membuatku agak risih adalah temanku itu mulai tepuk dada bahwa dialah yang menyebabkan provinsi kami menjuarai lomba yang sama selama dua tahun berturut-turut.

Di tahun 2013 itu aku mengikuti kegiatan di Makassar dan beberapa provinsi memberi ucapan selamat atas kemenangan duta mahasiswa kami. Aku tersenyum dan bertanya....apakah mereka mau tahu kunci keberhasilannya ? Aku lupa namanya tapi seingatku ada 3 provinsi yaitu dari NTT, Sumsel, Lampung dan Riau yang bertanya kunci keberhasilan yang kukatakan.

" Suruhlah wakil dari provinsi bapak-bapak mempelajari undang-undang nomor 52 tahunn 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga kemudian jawablah semua pertanyaan dengan mengacu pada undang-undang tersebut"

Saranku itu bukanlah sebuah kunci keberhasilan melainkan sesuatu yang sangat umum sekali. Aku hanya ingin membuktikan bahwa hal itulah yang menyebabkan kemenangan berturut-turut diterima oleh provinsiku.  Dan....tahun 2014, tidak satu titel pun melekat di wakil provinsi dalam lomba yang sama. Seharusnya, bila memang temanku itu bertangan dingin untuk memenangkan setiap lomba maka paling tidak mendapat satu piala untuk katagori tertentu. Tetapi, ini tidak membawa satupun predikat dalam kejuaraan tersebut. Drastis sekali......dari juara pertama selama dua tahun berturut-turut, tahun ini tidak mendapat apa-apa.

Ingatanku buyar.....ah sudahlah....itu kenangan yang cukup aku simpan dalam alam pikiranku saja. Sekarang, aku tidak akan lagi membantu menaikkan power siapapun juga karena buntut-buntutnya, aku juga yang akan diinjak untuk naiknya mereka pada posisi-posisi terbaik.

Bebannya sudah tidak lagi menjadi bebanku sebab harus ada garis yang tegas.....siapa aku dan siapa kamu dalam pekerjaan ini. Terserah, Tuhan tidak akan berdiam diri atas semuanya.

Minggu, 22 Februari 2015

PERGI

Ada apa dengan hatiku ?

Entahlah, sejak dua minggu lalu aku sepertinya berada di suhu yang sangat dingin. Membekukan semua yang ada padaku. Keegoisan yang diberikan Tuhan  pada diriku tiba-tiba menyeburat begitu saja dan dibarengi dengan matinya perasaanku.

" Aku  masih menaruh kepercayaan itu padamu."

Kata-kata penghibur itu aku telan mentah-mentah tanpa ingin membantahnya. Sebenarnya bisa saja aku balik bertanya seperti kepercayaa jenis yang bagaimana ? Kepercayaan untuk apa ? Apa kepercayaan itu ? Dan sebagainya. Tapi bibirku hanya mengulas senyum dan kemudian mengeluar kata-kata yang aku rasakan sendiri mengandung rasa muak yang begitu dalam,

"Akan aku pegang kepecayaan itu dan aku tidak akan mengecewakanmu"

Bullshit !!!
Aku tercengang sendiri mendengar ujaran yang keluar dari bibirku itu.  Bagaimana mungkin aku sebegitu munafiknya ? Padahal aku marah besar atas penghinaan yang sudah dilakukannya terhadapku. Aku tersinggung yang amat dalam atas perbuatannya yang ditujukan kepadaku. Sudah sepantasnya kalau aku melontarkan kata-kata kasar terhadapnya. Tapi......aku selalu begitu sebab aku punya keyakinan yang berbeda dengan orang selain aku. Barangkali tingkat pengaturan emosiku yang benar-benar tidak sejalan dengan faal tubuhku sehingga aku sendiri terkaget-kaget dengan caraku menjawab setiap kalimatnya.

Ah, mungkin juga dia tidak memperhatikan hal itu. Yang pasti, tidak ada lagi bantahan sesudahnya dan kami membicarakan hal rutin seolah tidak ada permasalahan.

Entah disadarinya atau tidak, sejak pembicaraan hari itu, aku semakin menarik diri dari segala kepentingan. Padahal Pak To yang membimbing aku selama ini pernah berujar

" Kamu jangan menutup diri agar orang tahu siapa kamu yang sebenarnya.....jangan sampai orang-orang seperti saya justru kecewa begitu tidak bertemu kamu baru mengetahui kelebihan-kelebihan yang ada pada dirimu "

Maafkan saya Pak To, saya tidak dapat lagi memenuhi saran Bapak karena saya merasa sangat ditipu atas kejadian kali ini. Airmata adalah satu-satunya wujud yang bisa terlihat karena benar-benar mengalir. Tetapi bila mengalirnya tidak di tempat umum maka tidak semua orang yang tahu dan menyadarinya.

Hari itu aku bersimpuh dengan mukena masih membalut di tubuhku. Dzikirku sudah usai. Aku termenung sejenak, teringat kembali pada nasehat Bu Mel yang sempat bertemu aku beberapa hari yang lalu,

" Untuk apa kamu menyiksa diri kamu sendiri dengan penyakit itu ? Sakit yang muncul karena pikiran maka harus dihilangkan juga pikiran itu. Sekarang lihat anak-anakmu.....apakah mereka layak kamu abaikan karena kamu sakit ? Mereka mengharapkan kesehatan darimu jadi..... kembali pada Tuhan saja semuanya"

Ya......kembali pada Tuhan. Aku sudah lama tidak menangis di pangkuan Tuhanku sejak fitnahan tertuju kepadaku yang berujung pada pertengkaran antara El dan Bu Nay. Aku merasa, Tuhan membiarkan aku dan tidak menjawab do'aku sebab tetap membiarkan tukang fitnah itu merdeka berlalu lalang dihadapanku seolah bagai malaikat suci yang membantu setiap orang.

Ya ampuuuun......pikiranku semakin membelalar ke arah yang lebih jauh lagi. Lebih-lebih pada kalimat yang meohok ke ulu hatiku beberapa waktu yang lalu

" Ibu....siapkan berkas-berkasnya untuk kenaikan pangkat ya....."

" Saya naik pangkat Bu ? Saya sudah mentok dengan pangkat saya dan hanya bisa naik kalau saya menduduki jabatan atau saya selesai S-2"

Aku menjawab memang agak emosional dan emosional inilah yang menghantarkan aku duduk di tikar sembahyangku dengan telekung utuh di badanku.

" Ya Allah......sejujurnyalah aku terluka atas perbuatannya ini......aku terdzolimi....aku dihinakan... aku direndahkan dan aku merasakan kesakitan yang teramat sangat dalam hati dan pikiranku...... Sesungguhnya, aku tidak kuat menanggung perlakuan ini Ya Allah.....karena itu, berikan sedikit kekuatan milikMU untukku...... berikan sedikit kesabaran milikMU untukku..... Ya Allah..... betapa kejinya perbuatan mereka yang berlaku dzalim atas aku......hanya ENGKAU yang dapat membalasnya ya Rabb.....aku hanya bisa memohon kepadaMU karena aku hanya datang dan bermohon kepadaMU......balaskan perbuatan mereka dengan segala kebaikanMU ya Allah.... ampuni kesalahan mereka dan bukakan pintu hati mereka agar berhenti berbuat dzalim sebab tidak semua orang yang tahan atas kedzaliman ini..... Ya Allah.....aku berserah diri hanya kepada ENGKAU"

Aku kembali pada diriku yang sebelumnya. Berada pada batas pikiranku sendiri sepanjang tidak melawan hukum dan sepanjang tidak melawan perintah Tuhan maka itu yang akan aku lakukan.

Entah mereka sadari atau tidak, jiwaku sudah selalu berada di sekitar mereka sepertinya mereka sudah dekat sekali denganku. Padahal wadagku tidak lagi bisa diajak bersama dengan jiwaku karena Tuhan sudah menempatkan aku pada sisi dimana aku berkuasa atas hati dan pikiranku sendiri.

Entah ada apa dengan hatiku ini.............kulihat mereka meraung-raung menangis sambil sesekali memukul kepalanya sendiri sedang tangan-tangan mereka satu sama lain dihubungkan dengan borgol yang terlihat ketika mengusap airmata.......sekilas aku mendengar diantara mereka bersuara

"Perbuatan dzalim tidak akan mematikan hati dan pikiran orang lain melainkan mematikan hati dan pikiran pendzalim.......saat hati dan pikiran terbuka karena hidayah dari Allah Ta'ala.....sudah tidak dapat lagi meminta ampun dan maaf sebab yang kamu dzalimi lebih dikasihi Allah"

Suara raungan itu semakin keras tetapi aku semakin menjauh. Entah, ada apa dengan hati ini sepertinya sudah membeku atas kedzaliman mereka.

Catatan Minggu 22-02-2015

MENGEJAR.....JABATAN ???

Dadaku mendesir saat submit surat permohonan mengikuti lelang jabatan eselon II. Sungguhkah aku sedang mengejar jabatan ?????? Untuk menjawa...