Selasa, 10 Maret 2015

BERTEMAN DENGAN FITNAH

Sepertinya, aku harus menghilangkan kesukaanku memberikan pertolongan. Karena ternyata, tidak semua pertolongan memberikan hasil yang positif. Jauh dari rasa terima kasih, malah berbuntut pada ketidak senangan.

Adalah seorang pegawai di kantorku, yang sudah berkali-kali konsep suratnya di koreksi dan salah di mata pimpinanku. Hari itu, dia mendapat tugas yang seharusnya akulah yang berangkat ke Jakarta. Namun karena aku sakit maka tugas itu digantikan oleh orang lain dan aku yang tinggal di kantor.

Pada saat aku di kantor, surat pegawai itu turun dan masih mendapat banyak coretan dari pimpinanku dan belum ditanda tangani. Atas ijin atasan langsungku, surat itu aku perbaiki. Aku hanya ingin membantu sebagai balasan atas bantuan pegawai itu karena bersedia berangkat menggantikanku.

Surat itu aku ketik di laptop-ku dan saat pengetikan, pimpinanku masuk dikarenakan ada yang mau disampaikan terkait keinginan beliau mengajak aku ke Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Di Kabupaten itu, aku diminta menyampaikan tentang pencatatan dan pelaporan untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan terutama bagi dokter yang bekerja sama dengan BPJS.

Melihat tumpukan surat yang ada coret-coretan beliau, pimpinanku menanyakan apa yang sedang kukerjakan. Aku yakin beliau akan bertanya demikian sebab surat-surat dari bidang aku belum ada dikarenakan kegiatan baru akan mulai sekitar bulan April mendatang.

Pertanyaan pimpinanku itu aku jawab seadanya yaitu membantu Bu Anu menyelesaikan surat mengenai SWK dan MKK agar bisa cepat dikirim ke Kabupaten/Kota. Pimpinanku cuma tersenyum dan menyuruh aku segera menyelesaikan surat tersebut agar bisa ditanda tangani sebelum beliau berangkat ke Barabai. Sore itu, suratnya sudah selesai dan aku tidak tahu lagi sebab aku harus ke dokter konsultasi hasil laboratorium.

Sungguh tidak aku duga bila bantuanku itu menjadi petaka. Bu Anu, jangankan berterima kasih justru mengumbar kalimat yang tidak sedap di dengar. Katanya, aku mau mengambil alih pekerjaan dia. Itu tupoksinya kenapa harus dikerjakan oleh orang lain. Kalimat itu dia sampaikan kepada staf yang menelponnya pagi tadi. Padahal telpon itu aku sendiri yang menyerahkan kepadanya dan sudah jelas aku juga yang dibicarakannya di telpon itu.

Ya Tuhan.....

Sepertinya fitnah itu tidak pernah jauh dari aku. Hanya lantaran selembar surat yang kuselesaikan dengan niat membantu dan berterima kasih, berbuntut pada ketidaknyamanan.

Aku berjanji kepadaMU ya Allah.....tidak akan lagi melakukan kesalahan seperti itu dan tidak akan lagi aku membantu siapapun dengan dalih apapun.

Terima kasih atas teguran MU pada hari ini dan terima kasih ENGKAU sudah memberikan bacaan atas sifat dan sikap orang yang baru satu bulan berada dalam satu ruangan yang sama denganku.

Minggu, 01 Maret 2015

BEBAN ITU BUKAN PUNYAKU

Pelantikan sudah berjalan setengah bulan, saat aku masuk dari cuti selama dua minggu. Aku sedang mengerjakan spesifkasi kartu-kartu yang dibutuhkan untuk pelayanan kontrasepsi dan laporan bulanan sebab awal tahun menjaadi kegiatan rutin tugasku untuk pengadaan kartu yang dibutuhkan di tingkat lapangan. Selain itu, sudah pula menunggu pembuatan spesifikasi untuk formulir pendataan keluarga. Aku menyukai setiap lekuk dari pekerjaanku sebab setiap harinya ada seni yang kupelajari disitu.
Ah ya.....aku juga punya satu tanggung jawab yang harus aku selesaikan yaitu pembuatan laporan akuntabilitas yang rutin diminta setiap awal tahun sebagai laporan kegiatan tahun sebelumnya. Dan aku tengah melakukan perbaikan dari lapora tersebut. Di sini, aku tdaik bekerja sendirian.

Tengah menyelesaikan apa yang kusebutkan tadi, masuklah seorang perempuan bertubuh gendut dengan gaya berjalan seperti orang sibuk dan suaranya yang melengking langsung berada didepanku katanya :

" Ibu sudah mengerjakan renstra ?"

Perempuan ini staf di salah satu bidang. Kurang ajar juga, siapa dia koq bertanya seperti itu ? Apa kedudukannya koq menganggap aku ini sebagai pembantunya dan semaunya bertanya seperti itu.

" Siapa yang menyuruh aku mengerjakan itu ?" jawabku sambil menatap ke arahnya. Dibelakangnya masuk pula seorang perempuan bertubuh lebih gemuk, pejabat yang baru di lantik dua minggu lalu.

" Un, bisakah ikam mengerjakan Renstra ini sebab si anu tidak ada, si ani tidak ada, si itu entah kemana dan aku tidak mungkin mengerjakannya karena aku takut kalau dicoret-coret. Kamu tahu sendiri kan pimpinan kita seringmencoret-coret konsep kita ?"

Aku terpesona mendengar kalimat yang dilontarkannya. Sebenarnya kalimat itu biasa saja. Tetapi terlontar dari seorang pejabat yang dilantik dengan alasan dia lebih cerdas meski tidak pintar. Mengapa menghadapi coretan atas konsep saja takut ? Bukankah dia yang katanya selalu menjuarai lomba-lomba di tingkat nasional ? Kenapa sang juara takut menghadapi konsep yang akan dicoret ? Takut.....atau tidak bisa ?

Aku menyuruhnya melihat ke layar laptopku.

" Aku sedang mengerjakan ini.......bisakah tidak menggangguku ?" ujarku kemudian.

Kedua perempuan gendut itu kemudian berlalu. Aku yakin, akan ada cerita negatif tentangku untuk pimpinan di kantor terkait dengan penolakanku tersebut.

Membuat Renstra sebenarnya tidaklah sulit. Aku sudah mempelajari caranya ketika Diklat PIM III tahun 2012, akupun mempelajarinya saat materi kuliah manajemen srategik. Tidak sulit membuat rencana strategi.......tetapi itu bukan tugas aku yang cuma lower manager. Itu merupakan tugasnya middle dan top manager. Jadi maaf, silahkan suruh orang-orang cerdas lainnya saja untuk membuat renstra itu, jangan suruh aku yang tidak cerdas ini.

Melihat mereka berdua menjauh, aku termenung dan ingat kejadian di tahun 2012.....saat lomba duta mahasiswa.

Sore itu, telpon ku berdering tidak putus-putus padahal aku sudah telanjang di kamar mandi. Suamiku marah sekali ketika dalam keadaan tidak berpakaian aku mengangkat telpon itu dan berbicara dengan si penelpon. Saat itu, aku masih menganggapnya teman. Temanku itu bertanya, undang-undang terntang kependudukan dan KB.

Aku menjawab scara jelas dua undang-undang yang dipergunakan untuk program KB yang lama dan yang baru. Ternyata, undang-undang itu yang dipertanyakan saat lomba duta mahasiswa. Dia sudah bertanya ke kepala bidang KS-PK tetapi si Kabid tidak tahu. Kemudian dia menelponku. Entah, apakah jawaban  mengenai undang-undang itukah yang menjadikan provinsiku menang dalam lomba tersebut ? Aku ikut senang dengan kemenangan yang diraih temanku itu.

Tetapi kesenanganku itu kemudian sirna ketika Kabidku yang tepuk dada bahwa dialah yang memberitahu tentang undang-undang tersebut sehingga mereka menang. Subhanallah. Tetapi tidak apalah..... Pada tahun 2013 kembali menang dan aku ikut senang meskipun dalam hati aku menahan rasa yang kupendam sebab tidak diakui sebagai salah satu yang memberi dukungan atas kemangannya. Yang membuatku agak risih adalah temanku itu mulai tepuk dada bahwa dialah yang menyebabkan provinsi kami menjuarai lomba yang sama selama dua tahun berturut-turut.

Di tahun 2013 itu aku mengikuti kegiatan di Makassar dan beberapa provinsi memberi ucapan selamat atas kemenangan duta mahasiswa kami. Aku tersenyum dan bertanya....apakah mereka mau tahu kunci keberhasilannya ? Aku lupa namanya tapi seingatku ada 3 provinsi yaitu dari NTT, Sumsel, Lampung dan Riau yang bertanya kunci keberhasilan yang kukatakan.

" Suruhlah wakil dari provinsi bapak-bapak mempelajari undang-undang nomor 52 tahunn 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga kemudian jawablah semua pertanyaan dengan mengacu pada undang-undang tersebut"

Saranku itu bukanlah sebuah kunci keberhasilan melainkan sesuatu yang sangat umum sekali. Aku hanya ingin membuktikan bahwa hal itulah yang menyebabkan kemenangan berturut-turut diterima oleh provinsiku.  Dan....tahun 2014, tidak satu titel pun melekat di wakil provinsi dalam lomba yang sama. Seharusnya, bila memang temanku itu bertangan dingin untuk memenangkan setiap lomba maka paling tidak mendapat satu piala untuk katagori tertentu. Tetapi, ini tidak membawa satupun predikat dalam kejuaraan tersebut. Drastis sekali......dari juara pertama selama dua tahun berturut-turut, tahun ini tidak mendapat apa-apa.

Ingatanku buyar.....ah sudahlah....itu kenangan yang cukup aku simpan dalam alam pikiranku saja. Sekarang, aku tidak akan lagi membantu menaikkan power siapapun juga karena buntut-buntutnya, aku juga yang akan diinjak untuk naiknya mereka pada posisi-posisi terbaik.

Bebannya sudah tidak lagi menjadi bebanku sebab harus ada garis yang tegas.....siapa aku dan siapa kamu dalam pekerjaan ini. Terserah, Tuhan tidak akan berdiam diri atas semuanya.

MENGEJAR.....JABATAN ???

Dadaku mendesir saat submit surat permohonan mengikuti lelang jabatan eselon II. Sungguhkah aku sedang mengejar jabatan ?????? Untuk menjawa...