Minggu, 04 Agustus 2019

CERMIN

Ini terjadi pada hari Senin tanggal 11 Januari 2010

Setelah selesai berhias dengan bantuan cermin-cermin kecil yang ada diperlengkapan make-up, aku berdiri dan mematut diri di depan cermin besar. Wow !!!! Ada yang aneh pada wajahku di cermin itu. Terlihat lebih bagus dari biasanya. Hmmmmmmm... aku bukanlah seorang perempuan cantik seperti artis ibukota. Tetapi wajahku memang agak beda. Maaf....aku memang terlihat lebih cantik dari hari biasanya.

Tentu saja aku bingung. Kudekatkan wajahku di cermin.....memang terlihat cantik. Aku agak menjauh dari cermin.....tetap terlihat cantik. Hey...ada apa dengan wajahku ? Kupandang sekali lagi wajahku di cermin.....so beautifull. Ah....sudahlah bagus juga kalo memang dandananku kali ini membuat aku terlihat cantik. Aku harus segera ke kantor karena hari ini apel pagi dan ada rapat dengan ibu-ibu Tim Penggerak PKK Propinsi.

Saat menemui gadis kecilku untuk berpamitan, tanpa sengaja aku melihat wajahku di cermin yang ada di kamarnya......Ya ampun.....ga’ salah lihatkah aku ? Aku bukannya terlihat cantik melainkan seperti udang yang baru diangkat dari kuali. Serba merah !!! Kudekatkan wajahku ke depan cermin yang ada di kamar gadis kecilku..... Hihihi.....ga’ cuma warna mukaku yang kayak udang di rebus, melainkan lipstick yang kupakai tidak cocok dengan warna riasan di wajahku. Alhasil aku menyimpulkan riasanku pagi ini...amburadul !!!! Bahkan Bundaku menertawakan dandananku pagi ini.

Aku ga’ jadi pamit ke gadis kecilku....melainkan menuju kamar anakku yang sulung, karena di situ juga ada cermin besar. Waaaaooowww...... wajahku benar-benar amburadul...... Ada yang salah dengan dandananku hari ini rupanya. Akhirnya aku kembali ke kamarku, dan berdiri di depan cerminku sendiri.....koq tampaknya fine-fine aja gitu loh....... Lantaran dua cermin “berkata” mukaku amburadul maka aku bersihkan wajahku dan memulai berhias lagi. Tidak memakan waktu lama karena aku memang tidak suka berhias yang terlalu berlebihan.....aku selesai.

Mematut sekali lagi di cermin dalam kamar anakku.........kemudian pamit pada Bunda dan gadis kecilku. Ketika Acil (Bibi’ / pembantu di rumah kami) berpapasan denganku di pintu kamar, dia kelihatan terkejut melihat aku masih di rumah karena memang biasanya aku sudah berangkat ke kantor ketika dia datang.

“ Ibu........ belum berangkat ke kantor bu ?” tanyanya keheranan.
“ Iya belum.....soalnya aku mesti mengulang dandan nih Cil. Lucu aja, dandan pertama kelihatan baik-baik dan cantik di cermin kamarku...eh waktu lihat di cermin anakku ternyata dandananku amburadul” jawab aku sambil mengambil kunci kontak.

Jam sudah menujukkan pukul tujuh lebih empat puluh lima menit. Jelas, aku sudah terlambat untuk apel pagi. Untung rapat dengan Ibu-Ibu Tim Penggerak PKK dijadwalkan pukul sembilan.

“ Maaf Ibu.....cermin di kamar Ibu belum sempat Ulun (saya) bersihkan kemarin soalnya cairan pembersih kacanya habis.....” sahut si Acil sambil mendahului langkahku sebab dia akan membukakan pintu pagar.

Ups........langkahku terhenti. Bundaku yang berada di teras senyum di kulum mendengar kata-kata Acil. Kata-kata Bundaku yang kemudian terngiang-ngiang selama perjalanan menuju kantor.

“ Saat kamu melihat dirimu di cermin yang tidak bersih...... kamu terlihat cantik, bagus, tanpa cacat dan tanpa cela.....padahal sebenarnya wajah kamu saat itu amburadul..... Bayangkan kalau cermin itu adalah hati kamu sendiri..........”

Kata-kata Bunda mengingatkan aku saat masih berada di jaman jahiliyah karena belum mengenakan jilbab. Kasusnya hampir sama namun saat itu Bapak yang menegur aku sebab ternyata lampu kamarku mati sehingga dalam suasana temaram aku berdandan. Akibatnya ya seperti dakocan yang habis dandan.... Bunda Cuma bilang,

“ Dalam keadaan temaram, segala sesuatu di depan cermin nampak bagus dan sempurna.....padahal dalam keadaan terang benderang.....tahi lalat kecil pun akan nampak....Bayangkan kalau cermin itu adalah hati kamu sendiri,”

Aku punya dua catatan untuk kasus yang sama bahwa bayangan kita di cermin akan nampak bagus, cantik, indah dan sempurna saat sekitar kita temaran karena kurang cahaya. Selanjutnya, walau ada cahaya.....hal itu akan terjadi lagi bila cerminnya tidak pernah dibersihkan.

Seandainya cermin kotor itu hati kita..........MAKA APA YANG KITA LAKUKAN SEPERTINYA BAGUS DAN SEMPURNA PADAHAL SEBALIKNYA. KOTORNYA HATI KARENA KITA TIDAK PUNYA CAHAYA YANG CUKUP UNTUK MENERANGI DAN JUGA KARENA KITA LUPA UNTUK SELALU MEMBERSIHKANNYA.

Jadi sering-seringlah bersih hatimu dengan istighfar dan dzikrullah.

GUBUK BAMBU DI TENGAH GOSONG

Akhirnya kuputuskan ikut Bunda, berangkat ke Kuala Pembuang besok pagi. Sepertinya jenuh juga melihat dan menghitung angka-angka dari penelitian untuk skripsiku. Bapak sudah setahun ini bertugas di Koramil Kuala Pembuang (Sekarang jadi Ibukota Kabupaten Seruyan di Propinsi Kalimantan Tengah). 

Menuju ke Kecamatan Kuala Pembuang bisa di tempuh dengan tiga jenis angkutan. Pertama jalan udara dengan menggunakan pesawat jenis Cassa yang bermuatan 24 orang sekitar 50 menit. Kedua menggunakan jalan darat melalui Danau Sembuluh yang kemudian diteruskan dengan klotok (perahu bermesin) menuju ke hilir sekitar 3 (tiga) jam. Dan terakhir jalur air yakni menggunakan speedboat atau longboat menyisir Laut Jawa untuk masuk ke Sungai Seruyan memakan waktu 6 jam. Aku sudah pernah ke Kuala Pembuang liburan semester tadi tetapi menggunakan pesawat. Kali ini aku bilang pada Bunda ingin menggunakan speedboat. Bunda setuju dan itu berarti, kami harus siap sekitar pukul enam pagi.

Tidak ribet untuk mendapatkan tumpangan speedboat, apalagi armada speedboat itu milik teman Bunda yang sama-sama aktif di Organisasi Gabungan Wanita Kabupaten. Tarif-nya tidak terlalu mahal, dua puluh lima ribu satu orang. Aku dan Bunda sudah sampai di dermaga speedboat kurang lima belas menit dari pukul enam pagi. Hari ini kami menggunakan longboat sebab penumpangnya agak banyak. Longboat diawaki dua orang yakni motoris yang pegang kemudi dan pengendali mesin yang selalu menempel di mesin longboat. 

Tepat pukul enam longboat mulai melaju menyisiri sungai Mentaya. Aku baru mengerti, kenapa harus sudah berangkat sebelum pukul enam. Ternyata perjalanan ini menuju ke arah matahari terbit sehingga akan mengganggu penglihatan driver nya. Aku dan Bunda berada pada posisi paling belakang, dekat dengan mesin longboat.

Setelah menyisir Sungai Mentaya, longboat berbelok ke arah kanan dan terlihatlah bentangan pantai yang panjang dan lebar. Pantai Ujung Pandaran. Aku belum pernah ke pantai itu, walau beberapa kali ada kesempatan untuk wisata ke daerah itu tetapi Bapak tidak pernah mengijinkan aku untuk ikut. Menurut ceritanya, Pantai Ujung Pandaran adalah daerah yang “baru dibuka” untuk kegiatan wisata sehingga masih sangat alami dan banyak cerita mistis di situ.

Aku memandang hamparan pasir Pantai Ujung Pandanran yang terkena sinar matahari…..mungkin karena masih bersih jadi menyilaukan sekali. Setelah melewati Ujung Pandaran, masih ada hamparan pasir yang juga pantai namun tidak seluas Ujung Pandaran dan beberapa meter dari pantai itu terdapat dinding batu. Aku melihat seperti pantai dengan pagar yang bagian atas pagar itu ditumbuhi rumput-rumput juga pepohonan perdu. Indah sekali !!!

“ Itu Tanjung Silap…..,” sebuah suara memberitahukan aku nama pantai yang begitu indahnya. Ternyata pengendali motor longboat yang bersuara. Mungkin dia memperhatikan aku yang menatap ke arah pantai tanpa berkedip. Ups…bagaimana dia tahu kalo aku tidak berkedip sedangkan aku pake kacamata hitam biar tidak silau. Hihhi…. 

Tanjung Silap sebenarnya lebih “cantik” daripada Ujung Pandaran tetapi mustahil untuk dijadikan obyek wisata. Pantai-nya berada di bawah dinding batu yang kuperkirakan tingginya duapuluh meter lebih. Satu-satunya akses menuju pantai itu ya harus menuruni dinding batu dulu. Menurut perkiraanku, Pantai di Tanjung Silap ini selain tidak punya akses untuk dikunjungi juga tingkat keamanannya sulit di tebak terutama bila musim air tinggi, bisa jadi pantai itu tertutup air laut.

Pemandangan di Tanjung Silap berganti. Sepertinya Longboat menjauhi pantai sebab berikutnya aku hanya melihat jejeran tumbuhan setinggi batang korek api dan deburan ombak yang jauh sekali. Ternyata tidak…….si pengendali mesin longboat itu kembali menjadi guide-ku menjelaskan bahwa Tanjung Silap memang memiliki lekukan yang tajam ke dalam pulau. Itu sebabnya disebut Tanjung (Daratan yang menjorok ke laut). Uhuuuy….palajaran ilmu sosial-ku emang cepak banget kali. Atau karena terpesona melihat keindahan tepi pulau dari Laut Jawa sehingga aku jadi telat mikir (telmi)..hehehe.

Longboat kembali melaju. Tidak berapa lama, kami sampai di sebuah tanjung lagi. Kali ini tanpa pantai melainkan jejeran pohon kelapa dengan suaranya yang riuh rendah di tingkahi deburan ombak. Andaikata ada seniman yang ikut bersama kami, barangkali akan tercipta sebuah lagu yang sangat cantik dan indah. Kembali mataku beradu dengan tatapan pengendali mesin longboat. Ya Tuhan…….jauhkan aku dari perasaan gedhe rumangsa terhadap “penguasa” mesin Longboat ini. Orang itu kembali tersenyum dan menunjuk ke depan.

“ Itu namanya Tanjung Kalap…..” ujarnya kemudian. Aku tidak menyahut, hanya bibirku membentuk huruf O. Bunda yang duduk di samping mencubit pahaku. Aku menoleh dan tersenyum yang kalau diterjemahkan ke dalam kalimat menjadi weleeeeh… Bunda anakmu ga’ akan bergenit-genit koq….. Pemandangan di Tanjung Kalap itu benar-benar indah namun di dalam bathin aku ada sedikit debaran…wow. Ini berdebar karena pandangan pengendali mesin itu ataukah karena suara riap daun-daun kelapa dari kejauhan dan suara deburan ombak.

Tengah asyik merasakan “keanehan” bunyi ombak yang jauh sekali, tiba-tiba longboat berhenti. Aku melihat badan longboat mendarat di sebuah pantai. Ups…kebetulan sekali….aku kebelet nih. Bunda dan aku minta ijin untuk buang air kecil dulu di pantai mumpung speedboatnya menyandar. Pengendali mesin itu mengernyitkan dahi lalu mengijinkan dengan catatan jangan lama-lama sebab mengejar waktu, takut kemalaman sampai di Kuala Pembuang.

Aku dan Bunda turun dengan membawa satu botol air mineral. Kulihat dua orang penumpang lainnya juga turun menyisir pantai itu. Kami menemukan sebuah gubuk yang terbuat dari jalinan bambu dengan atap dari daun nipah (enau). Di sekitar gubuk itu di tumbuhi tanaman menjalar sejenis kacang, yang merayap ke salah satu pohon kelapa yang ada di dekat gubuk itu. Setelah melihat penumpang lain buang air kecil jauh dari kami, Bunda menyuruh aku dulu kemudian bergantian. Di saat menunggu Bunda buang air kecil, aku sempat melihat ke sekeliling secara seksama. 

Jauh di seberang pantai di sebelah kananku ada sebuah kapal besar yang sedang berlabuh. Sedang di sisi sebelah kiri aku melihat hamparan warna hijau dari tumbuhan. Sedang suara deburan ombak benar-benar membelah kesunyian di pantai itu. Begitu Bunda selesai buang air kecil, kami bergegas kembali ke longboat yang menyandar di tepi pantai. Pengendali mesin membantu Bunda naik kemudian membantu menaikkan aku juga. Beberapa saat setelah aku dan Bunda berada di dalam longboat, kendaraan air itu bergoyang-goyang menjauhi pantai. Padahal mesin longboat itu belum dihidupkan. Pengendali mesin longboat memandang dan tersenyum ke arah aku. Aje gile….kenapa nih sang pengendali mesin…..mati aku kalo dia naksir aku heheeee…. Tiba-tiba kudengar “guide” ku ini bersuara,

“ Untung cepat naik ke longboat….kalau tidak….” pengendali mesin longboat itu menghentikan kalimatnya 
“ Kalau tidak kenapa ?” tanyaku penasaran.
“ Kita tadi terdampar di gosong. Tempat Ibu dan kamu buang air kecil tadi bukan pantai melainkan sebuah gosong yang timbul karena air laut sangat surut. Begitu air laut kembali naik….gosong itu akan tenggelam….,” lanjutnya kemudian sambil menoleh ke arah dimana longboat tadi menyandar. 

Aku ikut menoleh, begitu juga dengan Bunda. Tidak ada lagi hamparan pasir di situ melainkan air laut yang bergelombang.

“ Kita menghentikan mesin biar longboat tidak terbalik sebab sering terjadi gosong muncul tiba-tiba dan karena kecepatan tinggi menabrak gosong lalu longboat terbalik. Saat ini kita masih berada di tempat berhenti tadi, belum bergeser sedikitpun…..tapi gosong itu sudah hilang…nah andaikata tadi tidak cepat naik…barangkali kalian sudah tenggelam bersama gosong tadi ,” kalimat terakhir dari pengendali mesin itu membuat sekujur tubuhku membeku. 

Bunda menggamit tanganku. Subhanallah nyawaku tadi sebenarnya sedang diujung tanduk. Kalau gosong itu muncul tiba-tiba lalu tenggelam secara tiba-tiba pula…..berarti gubuk yang ada di gosong itu ……. Aku memandang ke arah Bunda. Bunda memberi kode agar aku tutup mulut.

Sampai sekarang, gambaran gubuk di gosong dengan segala pemandangannya masih melekat dalam ingatanku. Aku tidak bisa menjawab, gubuk siapa yang ada di gosong yang muncul dan tenggelam secara tiba-tiba itu ?

(Disaat berikutnya ketika ada berita pesawat bouroq yang hilang di wilayah Sampit, aku membayangkan pesawat yang terbang dalam cuaca buruk itu mendarat di “pantai” yang sebenarnya adalah sebuah gosong………..dan penumpangnya turun…beristirahat di dalam gubuk itu……who knows ????)

MENGEJAR.....JABATAN ???

Dadaku mendesir saat submit surat permohonan mengikuti lelang jabatan eselon II. Sungguhkah aku sedang mengejar jabatan ?????? Untuk menjawa...