Senin, 04 Maret 2019

HATIKU-HATINYA

Aku berdiri di jalan setapak yang sunyi. Sudah tiga puluh menit berada di tempat ini. AKu memang datang terlalu cepat dibanding janji bertemu pagi ini. Seharusnya, aku tiba pukul 08.00 tetapi saking bersemangatnya, aku mendahului waktu janji dan sudah tiba pukul 07.00 setengah jam yang lalu. Semula, aku duduk di bangku itu, tak jauh dari tempat aku berdiri ini. Sekarang, bangku itu sudah diduduko sepasang kekasih yang asyik bercengkrama berdua.

Ah.....apakah mereka sama seperti aku, sedang merasakan gejolak hati dan begitu bungahnya sehingga tidak sabar untuk bisa berjumpa lagi dengannya.....tanyaku membathin, sambil sekilas melihat ke arah pasangan yang saat ini sedang duduk saling memanjakan. Yang lelaki merangkul pundak,perempuan sedangkan si perempuan bersandar manja di tubuh lelaki. Mereka tampak mesra. Mereka tampak bahagia.

Aku kemudian menggerakkan kaki perlahan. Kami tidak berjanji bertemu disini. Melainkan berjanji bertemu di salah satu sudu taman ini, dimana ada tumbuh pohon saga. Pohon berbatang besar dengan daun kecil-kecil dan bunga berwarna merah saga. Pastinya bukan di bagian ini, karena disni hanya banyak perdu dan pohon-pohon ketapang yang berdaun lebar dengan dahannya yang membentang. Langkah perlahanku menarik perhatian beberapa orang dan mereka menyapaku dengan ramah.

Huuuuueeeeh.....mereka mungkin berfikir, aku sedang mencari udara segar setelah seharian berkurung saja di dalam rumah..... Mereka keliru. Tempat ini hampir setiap sore aku kunjungi. Tidak pernah lepas dalam sehari, kecuali bila aku tidak berada di sini atau sedang hujan..... Bahkan terkadang bila hujan gerimis sekalipun, aku masih bisa membawa payung untuk berada di taman ini.

Tamannya tidak jauh dari rumahku......

Langkah kakiku sampai di tempat aku berjanji untuk bertemu. Perasaan bungahku kian membuat jantungku berdetak keras. Detak itu, semakin berasa keras, manakala tatap mataku tertuju pada sosok yang duduk membelakangiku. Ya....kursi taman di dekat pohon saga ini memang arahnya ke Timur sedangkan jalan setapak dari Utara ke Selatan. Aku melihatnya.

Aku melihat dia duduk, sesuai dengan apa yang dikatakannya saat membuat janji tadi. Dia mengenakan jaket bulu berwarna cream. Warna kesukaannya. Meskipun tubuhnya terbalut busana yang menutup hampir seluruh tubuhnya, aku melihat kemolekan pada dirinya. Rambutnya yang tertutup kerudung cokelat tua seperti katanya malam tadi, tentu masih ikal. Aku mendengar dia bersenandung mengikuti lagu yang dia putar di alat yang ada di tangannya. Seperti janjinya malam tadi. Dia bersenandung lagu kesenangan kami berdua.

Bunga anggrek mulai timbul.......aku ingat padamu....waktu pertama bertemu....kau duduk disampingku.....

Aku tersenyum sendiri sambil mempercepat langkahku menuju ke arahnya.

"Se.....se....selamat....pagi.....Anita" sapaku terbata-bata seperti tidak yakin bahwa dia adalah perempuan yang sama yang berjanji denganku malam tadi.

Perempuan itu menoleh. Aku melihat wajahnya !!!! Aku melihat wajahnya !!!! Ya Tuhan.....dia benar-benar Anita. Senyumnya.....senyum milik Anita.

"Selamat pagi.....Hans" jawabnya. 

Aku tercekat. Suaranya memang suara Anita. Aku belum pernah mendengarnya lagi sejak.......... AH, aku menghapus bayanganku itu karena aku harus segera duduk di samping Anita dan mengatakan sesuatu yang selama ini aku pendam.

"Aku turut berduka atas berita itu" ujarku yang disambut dengan senyum milik Anita. Tadi Anita membantuku duduk di sampingnya, karena dia tahu, tongkat yang membantuku berjalan tidak dapat membuat langkah kakiku kian cepat. Anita duduk kembali di sampingku.

"itu sudah bertahun-tahun lalu Hans......Aku sekarang disini....di depanmu....ada apa ?"

Aku kembali tercekat. Ya Tuhan......mampukah aku berterus terang padanya setelah kejadian itu ?

"Hans.....that's not your fault that you left me cause your parent decision" ujar Anita kemudian sambil memperbaiki posisi duduknya.

"But.... I still love you my dear.... I try to find you every where..... Try to explain what happened after we discuss about my family's decision"

"I thinks......it's finished.....you have to married with her.....your parent's friend daughter"

Ucapan Anita itu aku hentikan dengan sekali tutupan telapak tanganku.

"No....it's not happened my dear...... I love you so much and there's no one can changes my love to you.....where have you been after that day ?"

Anita menatap ke arahku dengan mulut sedikit ternganga.

"So....so....you....you...." kata-kata yang kemudian keluar dari bibirnya terdengar terputus-putus sambil jemarinya menunjuk ke arahku. Aku memahami keterbata-batannya itu sambil melebarkan senyum.

"Yeah..... I've never get married until now because I've waited for my true love....." aku memberi isyarat dengan daguku, menunjuk ke arahnya. Anita seperti tidak percaya kemudian menunjuk ke dirinya sendiri.

"Me......????" ujarnya setengah berbisik lalu dia memalingkan wajahnya dan beberapa saat kemudian aku mendengar isak tangisnya.....
"Why you are crying ? Please....please don't do that....pelase stop crying my love.....please..." aku berusaha menarik bahunya dan ingin mengusap airmata yang keluar dari kedua bola mata Anita. Tetapi tangan Anita mencegah aku melakukan keinginanku.

"You hear the wrong information about me" suara Anita sedikit rendah. Dia usap sendiri airmatanya.
"It's a foolish decision, I thinks.....why we at this game..... Hans....why ?" lanjutnya
"Sorry.....Anita....what do you mean ?" tanyaku tanpa menyembunyikan kebingunganku.

Anita menatap ke arahku. Mejamah tangan kiriku setengah takut namun setengahnya ingin sekali. Aku sendiri tidak dapat menahan hati, tangan Anita langsung aku raih dan aku genggam. Kuletakkan ke dadaku sehingga tubuh Anita dengan sendirinya tersandar di tubuhku. Seperti sepasang kekasih yang tadi aku lihat.

"Hans.....the man who you think about....he's not my husband...... I've never get married yet...like you"

Genggaman tanganku terlepas dan aku tatap Anita dengan sepenuh bola mataku.

"What ??????"  Aku tidak dapat menyembunyikan keterkejutanku. Kulihat Anita mengangguk berulang-ulang. Seolah ingin meyakinkan aku bahwa kata-katanya benar. Aku baru menyadari sesuatu...... Jari Anita ada cincinnya !! Bergegas kuangkat tangan kanan Anita dan aku terkesiap. Itu cincin.......kecubung ungu yang pernah kuberikan padanya. Memperhatikan apa yang aku aku lakukan, Anta tersenyum simpul.

"I love...you.....it's never died.....my love.....so....why didn't we met long-long time ago Hans ?"

Ucapan Anita seolah menyesali apa yang sudah terjadi. Aku sendiri takjub atas apa yang kudengar. Berarti ini yang Anita maksudkan betapa kebodohan dan permainan hidup yang menyebabkan kami begini.

"Can we......start it by now.....and try to happiness together, right now ?" tanyaku setengah berharap. Anita tertawa sejenak lalu berucap

"Now...??? Like this ?" Anita berdiri dan menunjukkan wajahnya, kedua tangannya bahkan kakinya juga yang semula tadi kukira lebih tegak dari aku ternyata disampingnya pun ada penyangga, sebuah tongkat...... Aku tergelakj.

"Never mind !! It's our moment....it's our day.....now..." ujarku bersemangat.....
"Please....please.....don't make the new mistakes......will you marry me Anita ? I beg you"

Anita menatap ke arahku. Matanya bulat, berbinar. Tangan kami menyatu dan kami saling pandang. Senyum kami sama-sama mengembang. Mentari terasa mulai menghangati kami berdua. Anita mengangguk, aku bahagia sekali dan sekali rengkuh aku peluk perempuan yang sangat aku cintaii ini.

Untuknya.....rentang waktu penantian yang begitu lama tetap aku jalani dengan hanya satu do'a. Sebelum nyawaku kembali kepada sang pemilik hidup, aku ingin bertemu dengan separuh hatiku..... Beruntung sekali, aku dapat mengenali wanita yang kucintai ini melalui akun fesbuk. Meskipun..... aku sudah.....

Ah, sebuah bola membuyarkan pelukan kami.....seorang bocah berlari ke arah kursi kami dan mengambil bola yang tadi mengenai sandaran kursi taman, dimana aku dan Anita duduk. Anak lelaki itu tersenyum lebar, sembari melambai dia menjauh

"Be happy grand-ma ... grand pha....."
Aku tersenyum simpul sambil menatap Anita......Hatiku.

Minggu, 23 Desember 2018

KEJADIAN SEMALAM



Haris memeluk tubuh isterinya dengan erat. Sesaat kemudian dia cium kedua pipi Afika dengan lembut dan berlanjut ke dahi kemudian dia peluk lagi seolah tidak ingin melepaskan perempuan yang sudah memberinya tiga orang anak itu. Afika sendiri agak terkejut dengan pelukan yang tiba-tiba itu. Dia tidak menyangka, Haris akan berbuat demikian setelah mereka mendengarkan sebuah rekaman melalui pesawat handphone miliknya. Suara rekaman di handphone itu masih terdengar namun samar sebab yang jelas terdengar justru suara Haris di telinga kanan Afika.

"Maafkan, aku tidak bisa menjagamu......maafkan kalau kamu menghadapi mereka seorang diri..... maafkan aku ya sayang"

ucapan Haris terdengar dengan semakin erat memeluk tubuh perempuan yang sudah dinikahinya hampir dua puluh lima tahun. Afika menenggelamkan wajahnya di dada Haris. Dia dengar degub jantung Haris yang agak kencang. Sesaat kemudian, mereka saling pandang dengan masih saling berpelukan.

"Perempuan itulah yang tidak sehat jiwanya, Afika.....Kamu mau aku apakan perempuan itu ? Aku yang selama puluhan tahun tidur bersama kamu dan sampai kemarin aku-lah yang tahu kamu sehat atau tidak sehat.....bukan dia....bukan perempuan itu.....dia tidak pernah hidup bersama kamu sekejap saja kecuali di kantor....kenapa dengan mudah dia mengatakan kesehatan jiwa kamu terganggu..... ayo sayang.....kamu mau, aku apakan perempuan itu ? Kita tuntut secara hukum saja....kamu mau ?"

Haris berkata sambil melonggarkan pelukannya dan memegang kedua bahu Afika. Afika menatap dalam ke mata suaminya. Lalu menggeleng. Suara handphone masih terdengar berupa percakapan beberapa orang yang diselingi dengan suara riuh di sekitarnya.

"Abang diam saja di tempat Abang.....Abang berdo'a saja untuk kekuatan Dede..... Abang cukup mendukung Dede....Biarkan saja perempuan itu mengatakan seperti yang Abang dengar di handphone tadi....." ujar Afika kembali duduk di kasur tempat dimana handphone itu berada.

"Dede akan menghadapinya dengan kekuatan Allah Ta'ala saja, Bang.....manusia semacam itu tidak bisa dihadapi dengan kata-kata manusia.....perempuan semacam itu sudah tidak punya hati....dia hanya punya nafsu Bang....dan hanya Allah yang Maha Tahu.....manusia perempuan semacam itu, lebih pantas mendapatkan apa dalam hidupnya.....Dede tidak sakit hati Abang....."

Haris mendekati isterinya dan merangkul bahu Afika dari arah kanan. Handphone sudah tidak mengeluarkan suara lagi. Tidak ada kata-kata lagi diantara mereka. Masing-masing tenggelam dalam ingatannya. Ingatan yang sama namun waktu dan cara yag berbeda. Kalau Afika mendengar langsung kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh kedua manager-nya sedangkan Haris mendengar dari rekaman di handphone Afika.

---------

Bu Rosna, manager utama di perusahaan BUMN tempat Afika bekerja memanggil Afika ke Hotel Mutiara karena tamu yang datang dari Jakarta, Bu Carla, adalah atasan mereka berdua yang harus dihadapi. Afika tidak berfikir yang macam-macam ketika memutuskan memenuhi permintaan Bu Rosna. 

Afika menyadari bahwa hubungan antara dia dengan Bu Rosna kurang harmonis sudah beberapa bulan ini. Penyebabnya, Afika menemukan hal yang tidak pantas dilakukan oleh seorang atasan kepada bawahannya. Bagi Afika, itu sangat bertentangan dengan hati nuraninya namun tidak mungkin bagi Afika untuk menyampaikan hal tersebut ke Bu Rosna. Afika mendengar dari beberapa orang yang sudah lama bekerja dengan Bu Rosna bahwa Bu Rosna akan membully siapapun yang tidak sejalan dengan apa yang sudah dia putuskan. Afika memilih jalan sendiri. Bukan, itu bukan jalan dia sendiri melainkan jalan yang dia pilih sesudah dia berkonsultasi ke banyak orang. Afika sudah berkonsultasi ke senior-nya yang sudah dimutasi ke Surabaya. Afika sudah berkonsultasi dengan Usradz Rofi'i tempat dia sering hadir majelis ta'lim. Afika pun sudah berkonsultasi dengan suaminya bahkan beberapa temannya di kantor. Keputusan Afika cukup berani yakni berhenti untuk tidak bersentuhan langsung dengan Bu Rosna, kecuali melaksanakan pekerjaan kantor.

Persoalan Afika muncul setelah Afika memutuskan mengurangi kontak langsung dan berduaan saja dengan Bu Rosna. Justru Bu Rosna tidak lagi memberikan tugas-tugas kepada Afika melainkan langsung ke bawahan Afika. Afika sadar, ini merupakan salah satu cara Bu Rosna membuat Afika panik. Tetapi Afika mengikuti saran Pak Dedi di Surabaya, katanya keep on the track Mbak, I know you can do it better. Sedangkan Ustadz Rofi'i mengatakan, istiqomah saja dalam kebaikan.......berikan saja saran-saran terbaik untuk anak buah Bu Afika sehingga pekerjaan yang dibebankan pimpinan Bu Afika berhasil dengan baik....meskipun pimpinan Bu Afika tidak tahu tetapi Allah Ta'ala Maha Mengetahui.  

Afika duduk menghadapi kedua manager yang beda level itu di sofa lobby hotel. Haris menunggu di parkir hotel. Reflek tangan Afika menghidupkan mode rekaman di handphone karena feeling Afika mengatakan, malam ini ada pembicaraan yang sangat serius terkait dengan sikap Afika yang memang berubah selama beberapa bulan ini. Perkiraan Afika benar. Bu Rosna memulai pembicaraan dengan kontrol emosi yang kurang bagus. Itu sangat jelas terdegar dari suaranya saat bicara. Bu Carla yang duduk disampingnya sesekali menatap ke arah Afika. Afika mendengarkan penuturan Bu Rosna dengan seksama. 

Ada hal-hal yang disampaikan Bu Rosna yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Afika bukan type orang yang menyela pembicaraan penting dengan semaunya sendiri. Afika selalu meminta ijin terlebih dahulu saat mau menyela. Kali ini dengan pongah dan terbata-bata Bu Rosna mengatakan bahwa Afika pernah berkata kasar kepadanya dengan nada agak tinggi yaitu .....Ibu Rosna berhenti dulu....biar saya selesaikan dulu....ujar Bu Rosna sambil memperagakan yang bukan Afika lakukan.

Afika hanya tersenyum tipis dan membiarkan pemutar baikan fakta itu berlangsung. Sekilas Afika ingat pesan suaminya agar tidak banyak berkata-kata di hadapan orang yang sedang di puncak emosi. Afika diam. Hanya ketika Bu Carla mengomentari atau bertanya, Afika memberikan jawaban. Afika tahu, bila dia berkata-kata menggunakan bahasa Indonesia maka akan sering diputus dan disela oleh Bu Rosna maka untuk penjelasan sesuai yang diinginkan, Afika menggunakan bahasa Inggris. Benar saja, pembicaraan itu tidak disela sama sekali oleh Bu Rosna. Inti-nya, Afika tidak ingin mengutarakan apa yang dia simpan dihatinya. Namun berharap, Bu Carla paham bahwa sebagai bawahan, Afika masih melaksanakan perintah-perintah Bu Rosna meskipun tidak terang-terangan karena perintah-perintah Bu Rosna tidak lagi melalui Afika melainkan langsung kepada staf di bawah Afika. Saat Bu Carla meminta Afika berterus terang saja, Afika mengatakan tidak, Afika akan simpan semuanya dan tidak akan mengatakan kepada siapapun.

Menyadari hanya menjadi pendengar, Bu Rosna kemudian mengambil alih lagi pembicaraan dan kali ini membuat Afika tertegun. Dengan emosi yang masih tidak stabil, Bu Rosna menyatakan bahwa Afika memiliki kesehatan jiwa yang terganggu karena di mata Bu Rosna, Afika memiliki kesalahan namun dengan keukeuh Afika mengatakan tidak bersalah. Afika kembali tersenyum mendengar penuturan ini kemudian Afika mengatakan bahwa dia tahu dimana salah yang sudah dia lakukan, Setelah menyadari kesalahan itu makanya dia menjauh sejauh mungkin dari sumber masalah, Namun Afika bertahan untuk tidak mengatakan apa sumber masalahnya.

Bu Rosna, kembali melontarkan kata-kata bahwa Afika memiliki kelainan jiwa dibanding teman-temannya yang lain. Kali ini Afika mempertanyakan di tingkat mana kelainan jiwa yang dialami Afika. Bu Rosna menjawab dengan berputar-putar tidak tentu arah dan tidak menjawab pertanyaan Afika.

--------

Afika tersentak. Ingatan di lobby hotel itu berhenti. Haris memandangi wajah isterinya. Dia bersyukur, Afika tidak nampak terbebani dengan semua itu. Wajah Afika masih tenang. Senyum Afika mengembang. Waktu sudah menunjukkan pukul satu tengah malam.

"Shallat dulu ya Bang....baru tidur.... Afika mau minta ketenangan dari Allah" ucap Afika sambil menuju ke kamar mandi. Setelah berwudlu, Afika mengganti pakaian tidur, mengambil mukena untuk mengerjakan shallat dua raka'at. Shallat sunnat yang sering dia lakukan bila tiba-tiba saja dia mendapatkan suasana yang tidak nyaman. Keimanan yang sempat dijadikan permainan oleh Bu Rosna dengan kata-kata "Bu Afika kan percaya sama Tuhan.....yakin sama Allah....tetapi kenapa sikapnya justru menunjukkan ketidaksamaan antara kata-kata dan perbuatn....Bu Afika merasa benar dan tidak merasa bersalah.

Afika bersujud dengan lebih lama.....dari bibir terlontar kata-kata diiringi air mata....

Ya Allah, kalau benar bagiku adalah kesesuaian antara yang dilakukan dan dikatakan dengan kaidah yang berlaku, ternyata bagi mereka benar adalah sesuai antara keadaan riil.....sedangkan kaidah itu bersifat teori.
Ya Allah, bukankah kaidah itu adalah norma atau aturan.....salah satunya adalah aturan agama yang ENGKAU turunkan dan aku pegang kebenaranya.....kalau bagi mereka benar itu adalah sesuai keadaan riil maka ketika Bu Rosna mengambil hak orang lain itu adalah hal yang benar. Karena riil-nya memang begitu. Sedangkan aku melihat berdasar kaidah agama, kaidah hukum negara dan kaidah tata pemerintahan....bahwa riil yang dilakukan Bu Rosna itu salah.
Ya Allah, aku bersujud kepada ENGKAU....kuatkan hati dan pikiranku karena mereka telah mempermainkan jiwaku yang ada dalam genggamanMU ini ya Allah.....aku menyerahkan jiwaku ini hanya pada genggamanMU dan mereka mempermainkan itu ya Allah.........
Tolong jangan tegur mereka dengan tegura yang keras....tolong kasihi mereka ya Allah karena mareka tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah.
Ya Allah.....kalau apa yang aku dengar kali ini adalah beban berat maka aku titipkan beban itu kepadaMU dan ijinkan aku bersitirahat malam ini agar aku besok bisa berbuat kebaikan lagi dalam kehidupanku ya Rabb.....aaaamiiin.

Afika bangkit dari sujud dan mengusap kedua pipinya hingga kering dari airmata yang semula menempel di pipinya. Haris masih duduk di tikar sajadah, memandang ke arah Afika. Begitu melihat senyum Afika mengembang, dan melihat Afika mengulurkan tangan, Haris menangkat tangan Afika, memeluknya lagi dan mencium keningnya.

"Bisa tidur ?" tanyanya kemudian yang disambut dengan anggukan kepala Afika.

Berdua menuju ke pembaringan dan terlelap dengan saling berpelukan. 

Tidak ada masalah yang tidak terselesaikan dan keyakinan pada Allah-lah yang menguatkan Afika. Kepercayaan pada suami-lah yang memperkuat Afika. Keyakinan akan kebenaran pula yang menguatkan Afika. 


Fabi ayyi 'alaa i robbikuma tukadzdzibaan

MENGEJAR.....JABATAN ???

Dadaku mendesir saat submit surat permohonan mengikuti lelang jabatan eselon II. Sungguhkah aku sedang mengejar jabatan ?????? Untuk menjawa...