Senin, 23 Mei 2022

MENGEJAR.....JABATAN ???

Dadaku mendesir saat submit surat permohonan mengikuti lelang jabatan eselon II. Sungguhkah aku sedang mengejar jabatan ??????

Untuk menjawab ini, ingatanku kembali ke tahun 2017, 2018 dan 2019. Pas banget, karena pertanyaan pada formulir mengharuskan aku mengingat masa-masa tersbut.

Tahun 2017

Aku masih berada di eselon IV ketika setiap saat dipanggil oleh pimpinan kantor (bukan pimpinan bidang) untuk menemui di ruangannya. Apa yang aku lakukan di ruangan itu ? Penjelasanku berikut dapat aku pertanggung jawabkan dihadapan Allah Azza wa Jalla.

Aku duduk sofa dan beliau mendekati dengan membawa kertas-kertas kemudian menanyakan ke aku, surat-surat masuk ini harus di disposisi ke bidang mana saja ? Setelah membacanya, aku mengatakan sesuai dengan nomor asala surat, perihal surat dan penandatangan surat. Maka bagian itulah yang kemudian ditulis oleh beliau di lembar disposisi. Okelah, selesai tugas setiap surat masuk datang dan aku ke ruangan beliau. 

Ada kalanya, kertas-kertas yang beliau bawa berisi konsep surat dari bidang-bidang lain dengan permintaan agar aku mengoreksi isi surat karena menurut beliau banyak yang tdaik benar. Maka, jadilah aku yang hanya eselon IV memberikan koreksi terhadap surat-surat seluruh bidang yang akan dikirimkan ke luar kantor baik kabupaten/kota maupun pusat.

Saat ini aku mengatakan bahwa waktu itu aku sangat bodoh. Bodoh sekali  ketika mengiyakan saat pimpinan kantorku mengatakan "tolong jangan dicerita ke siapapun bahwa ini ibu yang menyarankan disposisi dan memperbaiki konsep mereka...... Saya akan katakan bahwa ini saya yang mengoreksi".

Kebodohanku disebabkan, aku tidak ingin menimbulkan masalah, untuk beliau selaku pimpinan dan untukku sendiri karena aku masih eselon IV menghadapi mereka yang menduduki jabatan eselon III dengan kon sep surat yang aku editkan.  Hanya itu alasan keboodohanku. Tanpa aku sadari bahwa ternyata itu benar-benar bodoh setelah aku mengalami hal berikutnya.

Tahun 2018

Jadilah aku dipromosi ke eselon III dengan jabatan sebagai sekretaris. Keakuranku dengan pimpinan hanya bertahan sampai dengan bulan Juni 2018 karena sesudahnya aku mendapatkan hal yang sangat tidak manusiawi baik secara verbal, tertuis melalui Whats App (pribadi dan grup) maupun perlakuan secara fisik.

  1. Aku dikatakan pernah bahkan sering marah-marah kepada pimpinan kantor. Enak sekali orang itu mengucapkan demikian, tanpa dia sadari bahwa aku ini ibu dari 2 anak dan anak dari seorang ibu. Aku  punya tugas untuk membuktikan bahwa hasil didikan orangtuaku tidak salah sehingga aku selalu hati-hati dan sangat menjaga sikap dan perkataanku. Bukan hanya kepada pimpinan melainkan kepada semua orang bahkan kepada staf yang sering berulah dan menyebabkan sebagai atasannya akan melibatkan aku. Aku punya tanggung jawab untuk mendidik anak-anakku sehingga tidak mungkin aku mengedepankan sifat dan sikap yang tidak sesuai dengan ajaranku kepada anak-anakku itu. Saat hal itu aku sampaikan ke anak-anakku, mereka berujar "kalau ibu pemarah dan bisa memarahi orang tanpa pilih-pilih, pasti kami ini yang akan stress terlebih dahulu karena setiap saat dekat dengan ibu" Ucapan anakku ini menghibur sekali dan merupakan kekuatan bagiku.
  2. Saat ucapan tentang aku yang pemarah itu aku bantah, dengan mudah pimpinanku itu mengatakan bahwa "Ibu ini sakit jiwa karena baru saja berbuat bisa langsung melupakan perbuatannya".... Dan aku tercengang mendengar kata-kata itu. Cerita di blogspot dengan judul Kejadian Semalam di alamat  https://un-niek-niek.blogspot.com/2018/12/kejadian-semalam.html  merupakan kejadian sesungguhnya yang aku alami di lobby hotel Best Western usai melaksanakan assessment untuk memilih eselon III dan IV yang kosong. Sesungguhnya ini sangat keterlaluan. Aku berharap, yang dari kepegawaian pusat bisa menetralisir atas keberatanku. Namun sebaliknya justru mengatakan bahwa pimpinan kantorku adalah sahabat karibnya yang tidak rela diperlakukan seperti itu oleh aku. Aku bingung, apa yang sudah kulakukan terhadapnya ? Akhirnya, aku hanya pasrah kepada yang Maha Hidup saja.
  3. Pimpinanku pernah berujar padaku saat menjemput tamu di VIP Room Bandara, "Saya akan tarik semua kewenangan ibu" hanya karena staf di Sekretariat menyajikan  nasi bungkus ketika ada rapat, padahal waktu rapat itu berlangsung aku sedang ada kegiatan di Malang sedangkan staf di sekretariat tidak ada yang menceritakan kesepakatan mereka tentang konsumsi kepadaku. Dan apa yang dikatakan itu, benar-benar menjadi kenyataakn. Segala sesuatu yang berkaitan dengan dinas kalau sumbernya dari aku maka tidak akan digubris. Pimpinanku lebih sering memanggil bawahanku. Aku dikebiri !!!!
Beberapa orang menyarankan agar aku menemui beliau dan meluruskan persoalan. Tetapi kalau pintunya selalu menolak aku untuk menghadap, bagaimana aku bisa meluruskan ? Selain itu, dari hai ke hari ada saja kesalahan yang ditujukan kepadaku padahal itu bukanlah kesalahanku. Yang benar-benar membuat aku tidak mau lagi berniat menemui adalah setelah mendengar sebutan bahwa "Bu Uniek ini sakit jiwa".

Dikebiri ??? Ya Betul sekali.......tahun 2019 itu aku dikebiri bahkan ketika peringatan Harganas tahun 2019 namaku tidak ada dalam kepanitian. Akan tetapi lucunya kemudian aku diberi tanggung jawab untuk mengelola konsumsi dan marchendise. Satu tugas yang sangat beresiko tinggi karena berkaitan dengan barang, orang lain dalam jumlah besar dari dalam dan luar provinsi serta kepuasan orang lain. Tugas itu berjalan lancar, alhamdulillah....tidak ada pihak yang komplain....alhamdulillah marchendise terbagi adil ke semua peserta yang ahdir, alhamdulillah dokumennya masih aku simpan. Dan lebih konyolnya lagi, pimpinanku tidak tahu bahwa segala hal yang berkaitan dengan Harganas itu konsepnya justru dari orang yang dikebiri. Silahkan baca https://uniek-m-sari.blogspot.com/2019/07/dibalik-harganas-xxvi-tahun-2019.html

Tahun 2019

Aku akhirnya dipindah menjadi Kepala Bidang dan dilepas dari jabatan Sekretaris. Surat Keputusannya ada, aku terima setelah 3 minggu aku dilantik pindah dari Sekretariat ke Bidang. Saat aku memperbandingkan antara SK pengangkatanku sebagai seketaris dengan SK pengangkatan sebagai Kepala Bidang aku melihat ada yang jaggal yaitu
  1. Tidak ada 2 paraf pada nama pimpinan pusat yang menandatangani SK tersebut. Dari sisi administrasi perkantoran, jelas SK tersebut tidak ada yang bertanggung jawab sampai dengan di tanda tangani oleh pimpinan pusat.
  2. Tanda tangan pimpinan pusat yang sangat berbeda padahal orangnya sama hanya selisih 11 bulan saja namun tanda tangannya berbeda sekali.
Aku tidak ingin menampilkan screen shoot dari 2 hasil perbandinganku di atas, namun kalau diminta buktinya maka bisa aku buktikan sebab kedua SK tersebut aku simpan secara digital di aplikasi kepegawaianku.
Dari hal-hal tersebut maka dapat aku simpulkan bahwa kepindahanku dari sekretaris menjadi kepala bidang adalah kepindahan yang dipaksakan harus terjadi.
Apakah dengan mengetahui perbedaan tersebut aku melakukan tindakan hukum ? Tidak, aku terima saja, bukan karena takut melainkan Aku Kasihan karena pimpinan kantorku akan pensiuan dan apabila SK itu aku proses ke jalur hukum maka dia akan pensiun dengan menyandang status tertentu dalam proses hukum tersebut. Aku masih teposeliro dengan usianya. Kasihan, orang sudah mau pensiun berurusan dengan hukum.  Disamping itu, kalau aku proses ke jalur hukum maka institusiku yang akan diobrak abrik.
Kenapa saat ini aku ceritakan ? Karena aku gemetar saat submit surat permohon ikut lelang jabatan beberapa waktu yang lalu.

Sungguhkah aku mengejar jabatan ?
Jawabanku, TIDAK.

KOMPETEN ITU APA ?

Dengan banyak label yang disematkan oleh pimpinan kantorku, sampai dengan predikat "sakit jiwa" sebenarnya aku ingin membuktikan bahwa BUKAN AKU YANG SAKIT JIWA, BUKAN AKU YANG SUKA MARAH-MARAH SAMA ATASAN, BUKAN AKU YANG TIDAK BISA MELAKSANAKAN TUGAS SEBAGAI MANABER.

Aku ikut lelang jabatan. Kukerjakan tahap demi tahap semaksimal yang aku mampu. Dari segi pangkat dan masa kerja kepangkatan mungkin aku yang paling muda diantara kandidat lain. Dari segi kesarjanaan mungkin aku bukan level setingkat doktor dan sarjana strata 3. Tetapi sebagai pegawai negeri sipil, kompetensi bekerjaku yang dinilai. Dari 6 kandidat, alhamdulillah aku berada di posisi pertama. Yang melegakan lagi bahwa assessor-nya bukan dari internal kantorku melainkan dari Menpan-RB dan dari BKN Pusat. Berarti, mereka secara independen menilai aku memiliki kompetensi manajerial yang bagus dibanding kandidat lainnya. Bahkan ketika diminta untuk mengirimkan surat keteragan sehat jiwa, aku dinyatakan sehat oleh dokter jiwa dari Rumah Sakit Idaman.

Posisi terbaik saat assessment yang menunjukkan kompetensiku baik-baik saja dan surat pernyataan bahwa aku tidak sakit jiwa, merupakan hal paling sangat memuaskan buat aku.

Kalau ada yang berfikiran bahwa aku mengejar jabatan, itu SALAH BESAR. Aku hanya perlu sampai pada pembuktian kompetensiku dan kesehatan jiwaku. Semoga apa yang sudah dilakukan pimpinanku dulu, termaafkan oleh orangtua-orangtuaku dari ibu-bapakku, nekek/kakekku, buyut-buyutku yang mendidik aku menjadi manusia yang memiliki etika, moral dan akhlaq...... Sayangnya, sebagian besar dari mereka sudah tiada dan aku tidak tahu apakah pernah tersirat dalam pikiran mantan pimpinanku itu untuk meminta maaf. Semoga damai dalam hatinya di masa pensiuan yang aman karena aku tidak memproses hukum atas SK yang aku terima.

Sekarang baru terpikirkan olehku, dengan tidak berada sebagai Sekretaris maka saat pimpinan pensiua, bukan aku yang menjadi Plt dan bukan aku yang mendapat kesempatan untuk ikut lelang jabatan pimpinan di Kalsel. Sekali lagi, karena aku bukanlah pengejar jabatan maka aku juga tidak berminat untuk komplain-komplain mengenai hal tersebut.

Dan inilah jawabanku bila disuruh ikut lelang jabatan lagi : MOHON MAAF, AKU TIDAK MENGEJAR JABATAN JADI CUKUP SEKALI AKU IKUT LELANG UNTUK MEMBUKTIKAN KOMPETENSI-KU DAN KESEHATAN JIWAKU
Silahkan saja kalian yang berjudi dengan masa depan kalian. Masa depanku sudah tertulis di lauh mahfudz......seperti yang aku terima saat ini.

Salam.

Jumat, 09 April 2021

PERJALANAN : Yang Satu Itu

KESATU

Beberapa bundaran sudah kami lalui. Mobil yang dikendalikan oleh Mas Ray akhirnya berbelok ke arah kanan setelah rambu di jalan menunjukkan arah menuju ke Sampit.

Ya, kami menuju ke Sampit. Sebuah kota kecil di Kalimantan Tengah. Sudah enam jam sejak berangkat pukul 7 tadi, aku duduk di samping Mas Ray yang mengemudi dengan santai. Dari Banjarmasin ke Palangkaraya yang semestinya bisa tiba pukul 11 siang namun kami tiba pukul 12 siang. Itupun dua kali persinggahan, salah satunya di Tumbang Nusa, jembatan terpanjang yang terkenal tempat banjir di tahun 90-an.

Sesekali kudengar gumamannya mengikuti lagu yang diputar sepanjang perjalanan kami. Aku sendiri memegang sebuah novel yang terkadang aku baca tetapi lebih banyak kupegang saja sedangkan pikiranku beredar ke beberapa hari yang lalu.

"Bukannya mendadak Din, tetapi kamunya saja mungkin yang lupa bahwa aku pernah cerita Joko akan mengawinkan anaknya bulan April. Dan itu, bulan sekarang," ucap Mas Ray sambil mengayun-ayunkan selembar undangan di tangannya. Mimik wajahnya agak kecewa saat aku menanyakan kenapa mendadak mengajak ke Sampit padahal aku sedang menyelesaikan novel yang sudah kujanjikan bisa terbit di bulan April ini. Mendengar jawaban Mas Ray, aku tidak dapat berkata-kata lagi. Barangkali, memang aku yang lupa.

"Oke deh, kita ke Sampit. Apakah anak-anak ikut serta ?" tanyaku kemudian. Kulihat senyum lebar di bibir Mas Ray. Senang sekali mendengar jawabanku. Tapi, kapan sih aku memberikan jawaban yang tidak menyenangkan bagi dia ? Serasa, sejak menjadi isteri-nya, aku selalu berusaha menyenangkan Mas Ray dengan jawaban-jawaban yang tidak mengecewakan. Kecuali tentang yang satu hal itu.

"Anak-anak biar sama ibu saja Din.....kita berdua saja. Lagian Surya kan sedang menyusun skripsi dan biasanya kalau kakak tidak ikut maka adiknya juga memilih tidak ikut kan ?" jawab Mas Ray sambil duduk di tepian ranjang. Jadi dia mau, anak-anak tinggal saja di Banjarmasin, tidak ikut ke Sampit. Aku melontarkan senyum, bingung sebenarnya. Akan lebih nyaman bila anak-anak ikut karena aku bisa membagi perhatian ke mereka daripada hanya berdua. Karena bila hanya berdua, mau tidak mau aku hanya akan fokus kepada lelaki yang sudah hidup bersamaku hingga dua puluh dua tahun ini. Sudah beberapa bulan ini aku enggan fokus lagi padanya.

"Boleh membawa laptop ?" tanyaku sambil lalu dan berdiri dari meja kerja, tempat buku dan kertas berhamburan menuju ke sisi lain dari tempat tidur berukur besar dengan seprai berwarna  biru muda dengan motif bunga besar-besar.

"Please deh Din.....sekali ini saja, kamu lepas dululah laptop-mu itu. Bisa saja kan novel-nya ditulis lagi sesudah kita kembali dari sampit ?' ujar Mas Ray sambil memandang penuh permohonan. Aku sedikit geli melihat caranya memandang itu. Mau sih menampakkan senyumku karena teramat senang dengan permohonannya itu.....tetapi, ah tidak. Aku sedang menjalankan aksi marah besar sehingga hanya kata-kata singkat saja yang kulontarkan dan tanpa senyum.

"Bisa kan Din ya.....kamu tinggalkan sejenak laptop kamu di sini dan kita ke Sampit tanpa laptop" kembali Mas Ray meminta kepastianku. Aku melengos, lalu merebahkan tubuh ke kasur yang empuk.

"Sebaiknya ijinkan aku membawa laptopku.....kalau ingin aku ikut ke Sampit," ujarku setengah memaksa. Kumiringkan tubuhku ke kiri dan itu berarti aku memunggung Mas Ray. Kudengar Mas Ray menghembuskan nafas dan berdiri dari tempat semula dia duduk. Kudengar, dia masuk ke kamar mandi. Aku tahu, hembusan nafas itu akibat ketidak berdayaan. Selama dua puluh tahun lebih, aku tidak pernah mebhasakan diriku dengan sebutan aku dan memanggil Mas Ray dengan sebutan kamu. Mas Ray selalu memanggilku Din, karena dia selalu membahasakan diriku dengan panggilan Adinda. Sedangkan aku juga memanggilnya Mas Ray meskipun saudara-saudara dan teman-temannya memanggil Abang Rizal.

Aku memejamkan mata. Betul, tidak lama kudengar air mengucur dari shower. Dan pembicaraan mengenai keberangkatan ke Sampit terjadi hanya pada hari itu.

"Din, kita menginap di hotel mana ya ?" suara Mas Ray membuyarkan ingatanku tentang kejadi beberapa hari yang lalu.

"Rekomendasi dari Joko, dimana katanya ?" jawabku balik bertanya.

"Ada beberapa sih.....tapi yang kamu perlukan fasilitas yang bagaimana ?"

Upppppsssss.....dia masih dengan kebiasaannya, mendahulukan apa yang menjadi keinginanku. Ada desiran dalam dadaku. Lalu kenapa bulan lalu Mas Ray membicarakan tentang yang satu itu dan benar-benar membuat aku marah. Aku tidak pernah semarah itu, tetapi kali ini aku benar-benar tidak dapat menutupi kemarahanku dan itu masih berlanjut hingga saat ini.

"Aku tidak penting kan ?" jawabku agak sembrono. Rasa marah yang tiba-tiba singgah itu, menghilangkan desiran dalam dadaku dan menghilangkan kebungahan karena keinginanku tetap menjadi prioritas. Gara-gara aku mengingat yang satu itu.

"Nah...koq bisa kamu tidak penting Din ? Ini Sampit lho....." sahutnya santai. mas Ray sekilas menoleh ke arahku kemudian kembali pada kemudi mobil karena jalannya berliku-liku.

Iya, ini Sampit. Gara-gara yang dia ucapkan beberapa bulan lalu itu, Sampit bukan hanya menjadi kota kecil yang penuh kenangan manis bagiku tetapi sekarang menjadi satu hal yang kalau bisa aku hindari. Jadi, bagiku bukan lagi hal yang penting.

"Terserah saja......hotel manapun boleh" jawabku kemudian.

"Nggak perlu fasilitas wifi nih ? Kan kamu bawa laptop untuk mengerjakan novel ?"

Ya ampun !!! Rencananya memang mau bawa laptop sebagai sarana pengalihan agar tidak fokus ke dia. Tetapi saat aku akan memasukkan laptop ke koper, Wulan menatap dengan mata setengah membelalak.

"Mamah.....pergi cuma dua hari untuk kawinan anaknya temen....tetep bawa laptop ? Yang bener aja deh Mah. Coba mamah berhitung dengan bener-bener......perjalanan tujuh jam, sampai di Sampit mungkin sore atau malam....nah lalu apa ndak capek....ndak perlu istirahat......apa segitunya sampai tetep mau bawa laptop ?" kata-kata anak kelas tiga es-em-a itu tidak bisa dihentikan. Mengalir bagai air yang penuh sembilu, menusuk-nusuk ke pikiran dan ke hatiku.

Wulan mengambil laptop di tanganku dan menaruhnya lagi ke dalam lmari kecil yang terdapat di meja kerja dalam kamarku. Aku hanya bisa terdiam dan kemudian menyelesaikan pekerjaan, memasukkan pakaian-pakaian dan kebutuhan selama di Sampit nanti.

"Din.....boleh enggak aku meminta ke kamu ?"

Mas Ray mengajukan pertanyaan dan mengharuskan aku menoleh ke arahnya. Lelaki dengan sedikit brewok tipis menghias di bagian tulang pipinya masih tetap menatap ke arah muka. Aku yakin, dia tahu kalau aku menatapnya dari samping. Menyadari itu dari senyum tipis yang tersungging dari wajahnya, aku kembali mengalihkan padanganku ke depan.

"Apa tuh ?" tanyaku seolah acuh.

"Selama di Sampit......laptopnya nggak usah dibuka ya ?" ucapan dari bibir Mas Ray perlahan terdengar. Hampir tidak terdengar. Ada getar keraguan di pita suaranya. Aku menelan ludah.

Berarti, Wulan tidak cerita ke ayahnya tentang laptop itu. Kedua anak remaja di rumahku itu, tersrnyum-senyum saja saat aku masuk mobil dan menjelang kami berangkat. Mereka tidak mau ditinggal di rumah mertuaku, tetapi tetap di rumah saja. Kesepakatannya, mertuaku yang akan datang ke rumah kami yang hanya beberapa blok saja jauhnya. Bahkan Surya berkomentar yang membuat ayahnya tertawa ngakak

"Bulan madu ya ayah ?!" ujarnya saat mobil mulai bergerak keluar dari garasi. Anak-anak itu memang tidak tahu kalau sudah hampir satu bulan ini aku menjaga jarak dengan ayahnya. Gara-gara yang satu hal itu.

"Gimana Din ?" Mas Ray minta kepastian. Sekali ini aku menghela nafas dan menoleh lagi ke arahnya.

"Kompensasinya apa ?" aku balik bertanya

"Waduh......apakah permintaan suami harus dikenakan kompensasi ?"

"Suami ?" aku mengulang satu kata itu.

"Lho, yang minta kan .....suami kamu, Din ?" kali ini suara Mas Ray agak meninggi. Tapi tidak ada nada marah disitu.

"Ooooooh.....sesekali, aku boleh dong minta kompensasi." jawabku enteng. Mas Ray sepertinya kehabisan kata-kata. Mungkin sebutan kata aku dalam jawabanku itu tadi yang mengganggu kerongkongannya untuk berujar.

Itu adalah pembicaraan yang tidak berujung sebab sesudah itu Mas Ray tidak lagi berkata-kata. Perhatiannya tertuju ke jalan yang naik-turun dan berkelok. Suara tape mobil sudah tidak terdengar sebab tiba-tiba saja dia matikanlagu-lagu nostalgia yag sejak dari Banjarmasin tadi dia putar. Aku sendiri kemudian terlelap.

KEDUA

Sampit, kami sudah tiba di salah satu halaman sebuah hotel. Berarti aku tertidur lebih dari dua jam di perjalanan. Itupun terbangun ketika mendengar suara pintu mobil ditutup. Kulihat, Mas Ray berjalan memasuki loby hotel. Aku menggeliat dan merapikan posisi duduk. Kemudian memasang kembali jilbab yang sempat berantakan karena posisi tertidur tadi. Tak berapa lama, mas Ray keluar dari loby hotel dan mengetuk kaca pintu mobil. Aku membukanya selebar mungkin.

"Kita menginap disini......fasilitasnya lengkap, termasuk wifi" ujarnya kemudia dan menyerahkan kunci kamar hotel ke tanganku. Aku keluar sesudah Mas Ray bergeser. Mengambil koper di bagasi kemudian menyeretnya ke loby hotel. Disambut oleh Bell Boy. Mas Ray merapikan posisi mobil kemudian menyusul ke lby hotel. Diantar  Bell Boy, kami menuju ke lantai 3 kamar nomor 5.

Setelah menerima tips, bell boy keluar dari kamar mandi. Aku membuka koper dan mengeluarkan pakaian kemudian mengganungnya agar tidak lusuh. Pakaian-pakaian yang akan dipakai menghadiri undangan pernikahan anaknya Joko. Teman Mas Ray yang isteri-nya kebetulan teman satu es-em-pe denganku. Mas Ray langsung merebahka diri di kasur. Hanya dalam sekejap, kudengar nafasnya teratur naik-turun, pertanda dia sudah tertidur. Untungnya, ketika tiba di palangraya sebelum melanjutkan ke perjalanan ke Sampit, kami sudah singgah mengerjakan shalat yang dijamak antara dzuhur dan ashar. Jadi, kubiarkan Mas Ray tertidur sedangkan aku masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Lumayan lah, bathtub nya sudah terisi air hangat sehingga aku bisa berendam di dalamnya.

Setelah merasa cukup segar, aku bangkit dari bathtub dan mengeringkan tibuh, lalu menggunakan hair dryer, kukeringkan rambutku yang basah karena berendam barusa. Setelah semua kering, aku megenakan daster bermotif bunga kecil-kecil, mengikat rambut baru keluar dari kamar mandi.

Kulihat Mas Ray sudah duduk di tepi ranjang. Rupanya baru juga bangun tidur. Mungkin karena suara hair dryer yang kupakai tadi membangunkannya. Melihat aku keluarga dari kamar mandi, Mas Ray mendongak dan menatapku.

"Sudah mandi Din ?" tanyanya. Kurasa basa-basi saja. Dia beranjak dari tepi ranjang danmeraih pakaian yang tadi sudah kugantung di lemari.

"Setelah aku selesai mandi, kita keluar yu......menjelajah Sampit sampai kita lelah...." ujarnya kemudian sebelum menghilang di balik pintu kamar mandi. Aku belum sempat menjawab.....tetapi setidaknya, aku menyetujui ajakannya. Perlahan kuambil stelan pakaian santai. Satu paket dengan jilbabnya. Kukenakan satu persatu. Lalu aku mulai memoles wajah dengan bagian-bagian make up yang ada. Saat aku menyematkan bros pada jilbab, Mas Ray keluar dari kamar mandi.

"Sudahs iap Din ?" tanyanya kemudian "Berarti kita bisa jalan ya kan ?"

"Kenapa nggak bisa ?" sahutku sekenanya.

"Dikira Adin mau kerja di depan laptop," jawabnya secepat kilat.

"Laptopnya ternyata ketinggalan ," jawabku lagi sambil memamlingkan wajah darinya. Aku tidak mau melihat lonjakan kegirangan di wajah lelaki itu. Tetapi mataku tidak melihat namun telingaku yang mendengar suara gembiranya.

"Sunggug Din ???? Sungguh ??? Wuhuuuuiii....kita bisa jalan-jalan sampai puas, " sedikit berseru dia berujar sambil memelukku dari belakang.

Waduh....mau dikemanakan rasa marah ini. Apa benar Mas Ray tidak menyadaribahwa aku sedang mara sekali akibat kata-katanya sebulan yang lalu ? Aku berkelit sedikit.

"Sudah rapi nih.....ayi burun," ujarku sambil melepas pelukannya.

Sore itu, kami mengelilingi kota Sampit. Tidak berubah dari dua puluh tahun lalu saat kutinggalkan. Setelah menikah memang aku diajak as Ray tinggal di Banjarmasin. Aku tidak pernah lagi menjenguk kota ini karena orangtuaku pindah ke Jawa setelah aku menikah. Sedangkan aku, anak tunggal. Yang agak berbeda hanya bundaran saja. Sekarang sudah ada beberapa bundaran yang harus kami temui. Waktu masuk kota Sampit tadi, aku tidak memperhatikan jumlah bundaran yang ada. Namun dalam perjalanan dari hotel dan mengelilingi kota Sampiit aku sudah bertemu dua bundaran.

Jam menunjukkan pukul 5 sore saat mobil kami memasuki sebuah rumah dengan halaman yang sangat luas. Rumah itu tanpa pagar. Ukurannya tidak terlalu besar. Dindingnya berwarna ungu muda. Warna yang kusuka. Jendela-nya berwarna kuning gelap. Daun pintunya putih tulang. Sementara dihalamannya terdapat pohon-pohon yang sangat kusuka. Ada mangga gadung, karena pohon itu juga ada di halaman rumah kami di Banjarmasin. Ada pohon atoa. Ada pohon jeruk. Di dekat rumah ada taman bunga kecil. Isinya pun bunga-bunga kesukaanku. Mawar, melati, anggrek yang bergantungan serta......sakura !!!.

Mas Ray turun dari mobil sementara aku masih terpesona memandang halaman rumah yang kondisinya tidak jauh dengan kondisi rumah kami di Banjarmasin. Tiba-tiba, dadaku berdegub kencang. Ada apa ini ? Kulihat Mas Ray dengan santai menuju ke teras rumah yang nuansa-nya modern minimalis itu. Aku jadi teringat erptengakaran kami sebulan lalu. Aku menemukan bukti transfer-trasnfer Mas Ray ke seseorang yang berada di Sampit. Jumlahnya tidak sedikit. Saat aku bertanya tentang bukti transfer yang kutemukan disudut tumpukan bajunya dalam lemari itu, Mas Ray tidak dapat menjelaskan seperti yang aku harapkan. Nama Aulia tertera dalam bukti transfer itu.

Waktu itu aku membayangkan seorang Rizaly mengirimkan uang untuk kebutuhan seseorang di Sampit secara sembunyi-sembunyi dariku. Rizaly...suamiku !!! Mengirimkan uang kepada seseorang bernama Aulia d  Sampit. Ya, aku mengingat semuanya. Jantungku semakin berdegub kencang. Apakah sore ini dia akan lebih terus terang mengenai hal tersebut ?

Ya ampun !! Itu sebabnya aku seharusnya membawa laptop agar aku tidak menemui sesi ini. Bagaimana mungkin aku siap bila kemudian suami-ku memperkenalkan Aulia kepadaku, sebagai seseorang yang secara diam-diam dikirimi uang olehnya. Mataku berasa panas. Aku benar-benar tidak siap. Lelaki yang kusebut Mas Ray, suami-ku itu, berpaling ke arahku. Aku masih tetap berada di dalam mobil. Sepertinya tidak kuasa untuk menggerakkan tanganku, membuka pintu dan turun dari mobil kemudian bertemu dengan............pandanganku jadi kabur, begitu melihat sosok perempuan membukakan pintu rumah dan menyambut dengan senang kedatangan Mas Ray.


KETIGA

Mataku perlahan terbuka, kuedarkan sekeliling. Nuansa kamar seperti kamar Wulan. Dindingnya biru muda. Gordien hijau daun. Kacanya....kamar Wulan !! Tetapi bukan....aku sedang di Sampit.

Hidungku mencium aroma minyak kayu putih. Aku merasa ada tangan yang memijat-mijat kakiku. Sementara sebuah tangan yang sangat aku kenal menggenggan jari-jari tanganku. Aku menarik jariku agar terlepas. Tetapi genggaman itu semakin erat.

"Din....sudah sadar ya ? Kamu kenapa ??? Kamu kenapa ?" suara cemas milik Mas Ray. Airmataku mengalir. Suara yang dua puluh tahun lebih sangat lekat dalam hati dan pikiranku kenap kali ini sangat melukai perasaanku. Aku ingin sekali melepaskan tanganku dari genggamannya.

Saat aku melihat ke arah kaki kiriku yang dipijat-pijat, perempuan yang tadi menyambut Mas Ray duduk disitu dan disampingnya berdiri seorang lelaki yang menatapku dengan cemas. Aku menarik kakiku agar tidak lagi bisa disentuh perempuan itu. Rasanya sentuhannya semakin memyakiti perasaanku. Bagaimana mungkin Mas ray tega, membiarkan dia yangmenyakiti perasaanku itu menyentuh tubuhku. Apakah perasaan Mas Ray benar-benar sudah seperti batu dan menganggap kehidupan kami selama lebih dari dua puluh tahun itu sesuatu yang biasa-biasa saja sehingga dengan mudah menghancurkan perasaanku.

Aku benar-benar dikhianati bahkan dijadikan pecundang saat ini. Tidak berdaya dan dalam genggaman mereka. Airmataku semakinmengalir.

"Adinda....kenapa ?" kali ini suara palsu Mas Ray benar-benar membuat tangisku pecah.

"Ibu...kecapekan ya ?" ujar lelaki yang tidak kukenal itu, setengah ragu. Siapa dia ? Aku hanya bisa menangis. Teganya mereka. Suasana jadi hening sesaat. Tak berapa lama terdengar suara anak kecil memanggil

"Papaaaaaah...."

Aku terkejut. Mas Ray tetap menggenggam erat tanganku. Tangan satunya menyeka airmataku dengan kertas tissue yangs ejak tadi dipegang. 

Lelaki yang tadi memanggil aku dengan sebutan "ibu" itu yang kemudian bergerak. Tubuhnya membungkuk, meraih seorang anak perempuan dan menggendongnya.

"Ada tamu ya Pah ?" tanyanya kemudian sambil memandang ke arahku. Lelaki yang menggendongnya menurunkan anak itu ke dekatku.

"Ayo Natali, salim sama nenek. Nenek kesini mau bertemu Natali, karena kecapekan, nenek tadi tertidur sebentar....ayo salim dan ucapkan salam"

Anak perempuan itu mendekatiku dan mengulurkan tangan mungilnya. Mas Ray melepaskan tanganku dan menyuruh menyambut tangan anak perempuan bernama Natali itu yang disuruh memanggil aku dengan sebutan nenek.

Berarti......dia bukan anak Mas Ray. Uppppssssss..... kututup bibirku rapat-rapat agar yang kupikirkan itu tidak terlontar di lidahku.

"Nenek, selamat datang....." ucap anak itu dengan sopan dan mencium tanganku...."cepat sehat nek," lanjutnya. Hanya sesaat, kemudian dia beralih ke perempuan yang tadi menyambut Mas Ray dan minta dipangku.

"Mamah.....nenek sakit apa ?" ucapnya sambil menunjuk ke arahku.

"Tadi papah kan sudah bilang kalo nenek kecapekan....ayo Natali main dulu di ruangan depan ya..... mamah mau ngobrol dulu sama nenek," suara perempuan itu terdengar lembut bicara kepada Natali. Aku jadi berfikiran, siapa mereka ini ? Mengapa Mas Ray tampak akrab dengan mereka ? 

Kulihat, Natali berlari keluar. Kudengar ada anak kecil lain yang menyambutnya. Aku berungsut mau duduk. Mas Ray membantuku. 

"Adinda, kenapa sayang ?" kali ini Mas Ray berbisik di telngaku saat membantu aku duduk di ranjang. Aku tidak menjawab. rasa di dadaku bercampur-campur dengan banyak tanda tanya. Setelah akubisa duduk, kedua orang asing lelaki dan perempuan itu, menarik kursi dan duduk di dekat ranjang. Sementara Mas Ray berada di dekatku, meraih tanganku dan kembali menggenggam jemariku.

"Ibu....terima kasih, selama ini mengijinkan saya dengan isterinya Norma, untuk tinggal di rumah ibu ini.....kami akan menjaga rumah ini dengan sebaik-baiknya" ujar si  lelaki sambil meraih bahu perempuan yang disebutnya Norma dan yang tadi menyambut Mas Ray. Ternyata......perempuan itu bukan Aulia. Nama itu yang aku takutkan ketika masih berada di dalam mobil tadi.

Mas Ray meraih bahuku. Sebenarnya aku masih enggan. Aku masih merasa dikhianati. Belum ada kejelasan dari Mas Ray tentang Aulia itu.

"Adinda, kenalkan....Ini Nurdian Aulia.....anak Om Ruli....ingat kan ?" suara Mas Ray biasa-biasa saja tetapi seperti menyiram kepanasan yang ada di tubuhku. Bukan bikin nyaman melainkan membikin tubuh berasa meriang. Aku memandang ke arahnya.

"Sayang, kemarin kan menanyakan tentang transfer-transfer itu....nah ini penjelasannya..... Mas Ray mentransfer ke anak Om Ruli yang kebetulan ditugaskan perusahaannya di Sampit..... Adinda ingat kan bahwa bunda sebelum pindah ke Jawa meninggalkan sertifikat tanah ke kita ? Adinda mau menjual tanah itu jadi Mas Ray yang membelinya kemudian Mas Ray minta Aulia untuk membangunkan rumah di tanah bunda. Ini rumah kita.....ini rumah kalau kita ingin menghabiskan masa tua bersama Din. Mas Ray membuatnya sesuai keinginan Adinda. Warnanya, bunga-bunganya, tanamannya....semuanya" penjelasan dari Mas Ray disampaikan secara pelan-pelan.

Airmata yang semula sudah berhenti mengalir, tiba-tiba keluar semakin deras karena merunuhkan benteng amarah yang selama sebulan ini aku tahan. Tidak tahu lagi apa yang aku rasakan. Senang. Sedih. Malu. Semua campur  menjadi satu. Kedua orang yang dikenalkan Mas Ray hanya manggut-manggut.

"Dek, ibu benar-benar kecapekan sepertinya......ambilkan teh hangat ya...." aku mendengar suara yang dikenalkan Mas Ray bernama Aulia itu berujar ke perempuan disampingnya, Norma. Perempuan itu kemudian keluar dari kamar. Namun tidak lama, Aulia menyusul hingga tinggal aku berdua dengan Mas Ray.

"Mas Ray jahat....."ujarku setelah diam beberapa menit lamanya. Mas Ray tidak menyahut. Panggilan untuknya yang keluar dari bibirku sudah cukup menunjukkan bahwa aku ini isterinya....bukan lagi seterunya. Perlahan, tangan Mas Ray yang semula menggenggam jemariku, perlahan bergeser ke pundakku.

"Sudah lega sayang ?"

Aku mengangguk.

"Masih mau di rumah kita ini atau kembali ke hotel ?"

Aku menatap tepat di bola mata Mas Ray. Mata yang selama ini selalu menatapku itu tetap menatap lembut ke arahku. Direngkuhnya aku, dipeluknya dan....

"I miss you, Din" ujarnya sambil sekilas mengecup dahiku. Sesaat aku menikmati pelukannya. Aku juga merindukan pelukan itu setelah sebulan aku memendam rasa gara-gara yang satu itu.

"Yuk, balik ke hotel saja....." Mas Ray memutuskan dan mengajak aku berdiri.

Kami keluar dari kamar. Kulihat Norma sudah membawa secangkir teh yang asapnya masih mengepul. Sementara, Natali asyik bermain balok bersama seorang anak perempuan lain dan suara mereka sedikit riuh.

Setelah menghabiskan teh buatan Norma, berbincang sebentar dengan Aulia kemudian kami pamit kembali ke hotel dan sesudah menghadiri perkawinan anak Joko, kembali ke Banjarmasin.

Langit semburat berwarna jingga saat mobil kami bergeser keluar dari halaman rumah. Berasa semakin hanta, karena Mas Ray tidak melepaskan genggamnya dariku.

Ya Tuhan......cintaku bermula di Sampit dan perjalanan ini semakin menguatkan cinta kami.


Minggu, 04 Agustus 2019

PENASARANKU

Something Happened in Sampit on 1985


Saat itu baru sekitar setahun kami berdomisili di Sampit karena Bapakku pindah tugas. Bapak dapat rumah dinas di kompleks perumahan Angkatan Darat di jalan Gatot Subroto. Kompleks itu cukup luas, terdiri dari beberapa barak. Sebelah Timur agak ke Utara adalah barak para Bintara dan Tamtama sedangkan di sebelah Timur persis barak Tamtama dan Sipil. Sedangkan di sebelah Barat barak untuk Kompi Pleton A. Bapak dapat rumah di barak Perwira. Kompleks perumahan Angkatan Darat tempat tinggal kami adalah kompleks perumahan tua. Konon barak-barak itu peninggalan tentara Belanda. Barak Sipil dulunya adalah rumah sakit sehingga tidak heran, hanya beberapa meter di sebelah Timur nya adalah kompleks kuburan muslimin. 

Rumah Dinas yang kami tempati adalah rumah kopel yang terdiri dari satu bangunan dengan dua pintu namun rumah disamping itu tidak pernah ditempati siapapun. Karena tidak seorangpun mau menjadi tetangga kami maka rumah disamping itu dijadikan sanggar tempat para remaja berkumpul untuk melakukan kegiatan kesenian seperti latihan keroncong, vocal group dan lainnya. Namun ramainya rumah di sebelah kami hanya hari Sabtu dan Minggu saja. Selebihnya, rumah itu sepi sekali. 

Sampit sendiri di tahun 1985 adalah kota sepi bila dibandingkan Banjarmasin tempat kami tinggal sebelumnya. Kesepian itu menjadi semakin terasa sebab kepindahan Bapak menyebabkan Bunda juga memiliki kegiatan yang lumayan banyak. Sebenarnya Bapak dan Bunda tidak pernah melarang aku untuk bergaul dan mengundang teman ke rumah agar tidak kesepian. Namun itu tidak pernah kulakukan. Aku lebih suka membeli buku dan majalah setiap minggunya. Bahkan aku malah menyibukkan diriku dengan pekerjaan rumah.

Apalagi saat kelas 1 SMA itu sekolah kami sedang diperbaiki sehingga anak-anak kelas 2 dan 3 masuk pagi dan kami masuk siang. Benar-benar sempurna kesepian dalam hari-hariku. Sebenarnya Bunda memiliki pembantu, tetapi kalau pembantu itu datang dan Bunda berangkat untuk kegiatan organisasi-nya, si Bibi aku suruh pulang. Aku yang mengerjakan pekeraan rumah mulai dari menyapu, ngepel lantai, cuci piring, memasak dan cuci pakaian.

Aku punya petunjuk jam sendiri untuk penyelesaian pekerjaan rumah itu. Bila pukul delapan yang lewat adalah truck yang mengangkut tentara-tentara muda dari Kipan A menuju ke arah Timur. Saat itu aku sudah selesai mengepel lantai. Sedangkan bila pukul sepuluh, saat aku mencuci pakaian ditandai dengan lewatnya lori di belakang rumah kami yang mengangkut serbuk limbah gergajian dari PT. Inhutani III yang berada di tepi Sungai Mentaya di buang ke Pasir Putih di sebelah Barat. Sedangkan sekitar pukul setengah dua belas saat aku harus mandi dan siap berangkat sekolah adalah teriakan penjual bubur yang berteriak buuur...buuur diikuti suara adzan shallat dzuhur. Rutinitas terus aku lakukan sampai akhirnya Bibi berhenti dan alih profesi jadi penjaja sayur keliling. Weleeeh....

Sampai pada suatu ketika, aku sendirian di rumah ditemani lagu-lagu dari ABBA menyelesaikan pekerjaanku. Beres, tinggal mencuci pakaian. Saat aku mulai menarik baskom besar berisi cucian kotor, aku mendengar suara....gedubraaakkkk !!! Semula kupikir baskom yang kutarik pecah, maklum Bapak baru pulang dari Koramil-Koramil jadi baju dinas yang tebal dan berat itu memenuhi baskom pertama yang baru kutarik. Namun aku tidak melihat air luber sebagai tanda baskomnya pecah. 

Aku berdiri dan masuk ke dalam. Ternyata, buku-buku koleksiku dari rak yang menempel di dinding sudah berhamburan di lantai. Kupungut buku itu satu persatu dan menyusunnya di rak itu kembali. Setelah rapi, aku kembali ke pekerjaanku yang tadi tertunda. Baru juga “mengucek” dua stel pakaian Bapak tiba-tiba terdengar lagi suara .....gedubraaakkkk !!! Pikiranku langsung tertuju pada buku-bukuku. Aku diam sejenak. Bukankah ini sudah lebih dari pukul delapan....berarti tidak ada truck Kompi A yang lewat. Jalan di kompleks perumahan kami memang terbatas dan tidak diperkenankan truck umum melaluinya. Aku masuk kembali ke ruang tengah dan ternyata benar.....buku-bukuku berhamburan lagi. Kupungut lagi dan kususun lagi. Ketika aku kembali ke belakang untuk melanjutkan mencuci, lori lewat dengan suara-nya yang khas. Aku sejenak berdiri memperhatikan lori itu....kemudian duduk dan melanjutkan pekerjaan. Selesai pada baskom yang pertama, memasuki baskom kedua terdengar lagi bunyi.........gedubrak dan aku tahu itu buku-bukuku yang berhamburan. Lori yang lewat tadi baru kembali sejam berikutnya. Sadar bahwa tidak ada sesuatu yang bisa mengakibatkan dinding rumah kami bergetar sehingga buku-buku itu jatuh dan berhamburan, serta merta aku masuk ke dalam. Aku berdiri sejenak dan kemudian memungut lagi buku itu satu persatu, sambil menyusun ke rak aku berucap,

“ Eh, aku cape’ kalo di suruh terus-terusan ngerapiin nih buku...tau enggak pekerjaan aku banyak jadi kalo mau main-main jangan sama aku..... Kalau buku ini berhamburan aku ndak mau lagi menyusunnya..... paham ?!”

Entah siapa yang kuajak bicara saat itu, hanya feeling saja bahwa aku harus mengatakan itu sebab kenyataannya aku memang capek kalau harus bolak-balik hanya untuk menyusun buku yang berhamburan. Huwallahua’lam bishshawab......apa memang ada yang mendengar kata-kataku sebab kemudian tidak terdengar lagi suara gedubrak dan tidak ada lagi buku berhamburan sampai dengan aku mandi dan shallat dzuhur. 

Aku tidak menceritakan kepada Bapak dan Bunda tentang kejadian “unik” tersebut, sampai ada kejadian selanjutnya.

Sampit memang sepi, kesepian itu makin terasa bila malam hari. Keramaian di kompleks kami hanya berlangsung sampai usai shallat Isya. Sesudah itu hanya terdengar suara canda dari rumah-rumah tetangga baik di depan, di kopel samping kiri maupun samping kanan. Bila sudah pukul sembilan malam, yang terdengar hanya suara televisi sedang suara canda-tawa sudah tidak ada lagi. Kalau jam menunjukkan pukul sebelas, hanya suara jangkrik, cit-cit kelelawar dan karariang (bahasa jawa “gareng”) yang terdengar. 

Rumah yang konon dibangun oleh Belanda ini dindingnya rapat sekali sebab menggunakan papan ilat sehingga tidak ada celah di antara papannya. Sedangkan jendela dengan susun sirih tidak memungkinkan aku untuk bisa mengintip. Padahal aku ingin mengintip !!!! Ahhhh …..

Pada tahun 1985 itu, becak adalah angkutan utama di Sampit. Bunda punya tukang becak langganan yang sering mengantar ke pasar atau pergi ke kegiatan-kegiatannya. Becak langganan Bunda ini cukup seru. Bagian belakangnya terdapat antene yang bergoyang-goyang saat becak berjalan. Antene itu diberi bunyi-bunyian dalam jumlah yang banyak dan sehingga kalau becak berjalan, antene-nya bergoyang akan menimbulkan bunyi gemerincing yang ramai sekali. Khas-nya becak Matdali (nama tukang becaknya). Krincang...krincing... krincang... krincing... krincang...krincing.....aku kadang membayangkannya seperti penari “ngremo” yang kakinya di beri “krincing-krincing” sehingga setiap goyangan penari itu menimbulkan bunyi dibarengi gerak yang eksotis. 

Bunyi itu, berulangkali membuat aku terbangun dari tidur. Gemerincing mainan di becak Matdali !!!! Yang membuat aku penasaran.....gemerincing itu selalu terdengar lewat jam dua belas malam dari arah Timur menuju Barat. Suara gemerincing itu akan terdengar sampai jauh sekali dan berakhir di Jembatan Putih. Ciri dari jembatan yang terbuat dari papan ulin tebal itu sangat aku kenal.....sebab beberapa papan di antaranya tidak diberi paku hingga menimbulkan hentakan yang keras. Gludak...gludak...gludak!!!! Gemerincing becak itu kadang berhenti di situ. Namun ada kalanya langsung hilang terbawa angin. 

Aku penasaran, dengan suara gemerincing becak Matdali. Tetapi malam ini, aku tidak akan penasaran lagi sebab aku sudah menyiapkan lubang kecil untuk mengintip ke arah jalan yang dekat dengan jendela kamarku. Hampir sebulan aku membuat lubang kecil itu setiap hari dari jepit rambut.

Ini malam ketiga aku berniat menunggu becak Matdali lewat sesudah lubang itu jadi. Aku akan menggoda Matdali bila ketahuan tengah malam baru pulang menarik becak. Matdali yang berperawakan tinggi kekar itu bahasa Madauranya kental sekali padahal dia belum pernah menjejakkan kaki ke Madura tempat nenek moyangnya berasal sebab dia lahir dan besar di Sampit. Dia pernah bilang dalam bahasa campuran Madura – Banjar dengan logat Madura-nya kepada Bunda,

“ Engko’ ta’ kan kejar setoran buk....so’ale becak punya engko’ sorangan jadi engko’ nyari duit nda’ lu perlu mpe’ sampe malam narek becak ta iye.....” (saya tidak mengejar setoran bu, karena becak punya saya sendiri jadi saya nyari duit tidak perlu sampai tengah malam menarik becak....ya kan)

Aku tertawa dalam hati, malam ini kebohongan Matdali terbongkar. Rupanya disaat menunggu itu aku ketiduran dan terbangun ketika dari kejauhan terdengar suara yang sangat aku kenal. Kena kau, Matdali....pikirku. 

Bermodal ukuran pendengaran saja, saat becak kurasa dekat dengan rumahku dengan serta merta aku memasang mata dan mengintip keluar......suara gemerincing itu terdengar jelas sekali, namun ketika mataku kulebarkan hanya melihat hitam yang pekat....................

Telingaku menangkap suara adzan, barangkali sudah subuh. Aku membuka mata perlahan kemudian terdengar suara “Alhamdulillah”. Suara dari beberapa orang yang tak jauh dariku. Waduh, habis sudah waktu shallat subuh....aku menggumam dalam hati dan berusaha untuk bangun. Namun badanku terasa dingin dan.....bajuku basah ! Kuusap wajahku....basah juga.....aku menoleh ke arah kiri, Bunda memegangi kepalaku dengan mata tertutup dan berlinangan air sedang bibirnya bergerak

“ Nak....bisa duduk ?” sebuah suara terdengar dari arah kakiku. Bapak memegang kakiku dengan tangannya yang kekar. Terasa sedikit kencang. Aku berusaha duduk. Serta merta Bapak mendekat di sisi kanan sedang Bunda memperkeras ayat Qursyi-nya di telingaku. Aku yang memang menyukai baca-an itu sejak kecil dengan mudah mengikutinya. Aku lihat tetanggaku ada semua dalam kamar tempat tidurku. Mereka tersenyum. Mungkin mereka senang karena aku ikut membaca ayat Qursyi itu. Tapi aku tidak habis mengerti, ada apa denganku ? Bapak memberiku air putih, rasanya segar sekali di kerongkonganku.

“ Apa yang kamu kerjakan malam tadi heh.....?” Bapak menanyaiku dengan nada suaranya yang khas kalau sedang tidak senang dengan perbuatanku yang tidak benar. Aku duduk menatap wajah Bapak. Kukira Bapak akan meneruskan dengan kata-kata yang diserta amarah tetapi kemudian kulihat gurat senyumannya.....

“ Apa yang kamu kerjakan malam tadi, membuat badan kamu panas seharian jadi kamu tidak sekolah juga tidak mengerjakan apapun seharian ini dan sore tadi kamu marahin Bapak.......gara-gara Oom Parno datang ke rumah....,” ujar Bapak kemudian.

Aku menoleh ke arah Bunda. Bunda tidak bicara apa-apa. Kepalaku direngkuhnya dan diletakkan ke dada sehingga aku bisa mendengar detak jantung Bunda. Ah kacau....ada apa ini ?

“ Iya Nak.....kamu teriak-teriak mengatakan lidah Om Parno mengerikan, panjang, merah dan ada apinya......terus Bapak....nih juga Om Parno kamu marah-marahin soalnya sering membiarkan kamu sendirian......” Om Parno staff  Bapak yang berujar sembari tertawa terkekeh-kekeh. 

Aku tersenyum kecut. Tiba-tiba dari arah belakang, aku merasa dingin menjalari ubun-ubun hingga ke tubuhku.. Aku tengadah dan kulihat seorang tua sedang menuangkan air di kepalaku. Air...aiiiir oooooo baru aku sadar... aku menarik nafas panjang..... lalu saat berikutnya aku ceritakan tentang buku yang berhamburan dan penasaranku atas bunyi gemerincing becak Matdali !!! Seusai bercerita, aku disiram sekali lagi dan itu yang terakhir. Diiingiiiiiin…..dan basah !!!!!

Sejak kejadian itu, dinding rumah yang membatasi dengan rumah kosong di sebelah di bongkar Bapak sehingga rumah kami menjadi sangat luas. Pekerjaan rumahku makin tambah. Aku justru tidur di kamar “bekas” rumah kosong. Lucunya, bila terbangun tengah malam aku kadang masih mendengar suara gemerincing becak kadang juga mendengar suara nafas orang tidur nyenyak di bawah jendela kamarku...di luar.....padahal jarak antar rumah satu dengan yang lain sekitar 10 meter.

Subhanallah.....Allah memang menciptakan alam itu ada dua........nyata dan tidak nyata. Aku mengamini adanya dua alam yang diciptakan Allah secara sempurna untuk mengingatkan kita agar senantiasa dekat dan mendekat kepadaNYA. 

Apakah facebook dunia nyata ? TIDAK sebab kita tak pernah berjumpa secara fisik dengan orang yang kita jadikan teman. 
Apakah facebook dunia tidak nyata ? TIDAK, sebab dialog itu nyata, walau nama-nama yang tertera kerap tidak asli atau sebenarnya tetapi “orangnya” ada dan setiap perbuatannya dilakukan oleh tubuh kita yang kasat mata (riil). 

YANG TIDAK NYATA DAN BENAR-BENAR MAYA WALAUPUN TAMPAKNYA ADA ADALAH HASIL PEMBUKTIAN DARI PENASARANKU YAITU......SUARA BECAK DAN PENGENDARANYA YANG TERNYATA.............. TANPA KEPALA !!!!!!!! Psssssssssttt....bagian ini tidak pernah kuceritakan pada Bapak (almarhum) dan Bunda.....

CERMIN

Ini terjadi pada hari Senin tanggal 11 Januari 2010

Setelah selesai berhias dengan bantuan cermin-cermin kecil yang ada diperlengkapan make-up, aku berdiri dan mematut diri di depan cermin besar. Wow !!!! Ada yang aneh pada wajahku di cermin itu. Terlihat lebih bagus dari biasanya. Hmmmmmmm... aku bukanlah seorang perempuan cantik seperti artis ibukota. Tetapi wajahku memang agak beda. Maaf....aku memang terlihat lebih cantik dari hari biasanya.

Tentu saja aku bingung. Kudekatkan wajahku di cermin.....memang terlihat cantik. Aku agak menjauh dari cermin.....tetap terlihat cantik. Hey...ada apa dengan wajahku ? Kupandang sekali lagi wajahku di cermin.....so beautifull. Ah....sudahlah bagus juga kalo memang dandananku kali ini membuat aku terlihat cantik. Aku harus segera ke kantor karena hari ini apel pagi dan ada rapat dengan ibu-ibu Tim Penggerak PKK Propinsi.

Saat menemui gadis kecilku untuk berpamitan, tanpa sengaja aku melihat wajahku di cermin yang ada di kamarnya......Ya ampun.....ga’ salah lihatkah aku ? Aku bukannya terlihat cantik melainkan seperti udang yang baru diangkat dari kuali. Serba merah !!! Kudekatkan wajahku ke depan cermin yang ada di kamar gadis kecilku..... Hihihi.....ga’ cuma warna mukaku yang kayak udang di rebus, melainkan lipstick yang kupakai tidak cocok dengan warna riasan di wajahku. Alhasil aku menyimpulkan riasanku pagi ini...amburadul !!!! Bahkan Bundaku menertawakan dandananku pagi ini.

Aku ga’ jadi pamit ke gadis kecilku....melainkan menuju kamar anakku yang sulung, karena di situ juga ada cermin besar. Waaaaooowww...... wajahku benar-benar amburadul...... Ada yang salah dengan dandananku hari ini rupanya. Akhirnya aku kembali ke kamarku, dan berdiri di depan cerminku sendiri.....koq tampaknya fine-fine aja gitu loh....... Lantaran dua cermin “berkata” mukaku amburadul maka aku bersihkan wajahku dan memulai berhias lagi. Tidak memakan waktu lama karena aku memang tidak suka berhias yang terlalu berlebihan.....aku selesai.

Mematut sekali lagi di cermin dalam kamar anakku.........kemudian pamit pada Bunda dan gadis kecilku. Ketika Acil (Bibi’ / pembantu di rumah kami) berpapasan denganku di pintu kamar, dia kelihatan terkejut melihat aku masih di rumah karena memang biasanya aku sudah berangkat ke kantor ketika dia datang.

“ Ibu........ belum berangkat ke kantor bu ?” tanyanya keheranan.
“ Iya belum.....soalnya aku mesti mengulang dandan nih Cil. Lucu aja, dandan pertama kelihatan baik-baik dan cantik di cermin kamarku...eh waktu lihat di cermin anakku ternyata dandananku amburadul” jawab aku sambil mengambil kunci kontak.

Jam sudah menujukkan pukul tujuh lebih empat puluh lima menit. Jelas, aku sudah terlambat untuk apel pagi. Untung rapat dengan Ibu-Ibu Tim Penggerak PKK dijadwalkan pukul sembilan.

“ Maaf Ibu.....cermin di kamar Ibu belum sempat Ulun (saya) bersihkan kemarin soalnya cairan pembersih kacanya habis.....” sahut si Acil sambil mendahului langkahku sebab dia akan membukakan pintu pagar.

Ups........langkahku terhenti. Bundaku yang berada di teras senyum di kulum mendengar kata-kata Acil. Kata-kata Bundaku yang kemudian terngiang-ngiang selama perjalanan menuju kantor.

“ Saat kamu melihat dirimu di cermin yang tidak bersih...... kamu terlihat cantik, bagus, tanpa cacat dan tanpa cela.....padahal sebenarnya wajah kamu saat itu amburadul..... Bayangkan kalau cermin itu adalah hati kamu sendiri..........”

Kata-kata Bunda mengingatkan aku saat masih berada di jaman jahiliyah karena belum mengenakan jilbab. Kasusnya hampir sama namun saat itu Bapak yang menegur aku sebab ternyata lampu kamarku mati sehingga dalam suasana temaram aku berdandan. Akibatnya ya seperti dakocan yang habis dandan.... Bunda Cuma bilang,

“ Dalam keadaan temaram, segala sesuatu di depan cermin nampak bagus dan sempurna.....padahal dalam keadaan terang benderang.....tahi lalat kecil pun akan nampak....Bayangkan kalau cermin itu adalah hati kamu sendiri,”

Aku punya dua catatan untuk kasus yang sama bahwa bayangan kita di cermin akan nampak bagus, cantik, indah dan sempurna saat sekitar kita temaran karena kurang cahaya. Selanjutnya, walau ada cahaya.....hal itu akan terjadi lagi bila cerminnya tidak pernah dibersihkan.

Seandainya cermin kotor itu hati kita..........MAKA APA YANG KITA LAKUKAN SEPERTINYA BAGUS DAN SEMPURNA PADAHAL SEBALIKNYA. KOTORNYA HATI KARENA KITA TIDAK PUNYA CAHAYA YANG CUKUP UNTUK MENERANGI DAN JUGA KARENA KITA LUPA UNTUK SELALU MEMBERSIHKANNYA.

Jadi sering-seringlah bersih hatimu dengan istighfar dan dzikrullah.

GUBUK BAMBU DI TENGAH GOSONG

Akhirnya kuputuskan ikut Bunda, berangkat ke Kuala Pembuang besok pagi. Sepertinya jenuh juga melihat dan menghitung angka-angka dari penelitian untuk skripsiku. Bapak sudah setahun ini bertugas di Koramil Kuala Pembuang (Sekarang jadi Ibukota Kabupaten Seruyan di Propinsi Kalimantan Tengah). 

Menuju ke Kecamatan Kuala Pembuang bisa di tempuh dengan tiga jenis angkutan. Pertama jalan udara dengan menggunakan pesawat jenis Cassa yang bermuatan 24 orang sekitar 50 menit. Kedua menggunakan jalan darat melalui Danau Sembuluh yang kemudian diteruskan dengan klotok (perahu bermesin) menuju ke hilir sekitar 3 (tiga) jam. Dan terakhir jalur air yakni menggunakan speedboat atau longboat menyisir Laut Jawa untuk masuk ke Sungai Seruyan memakan waktu 6 jam. Aku sudah pernah ke Kuala Pembuang liburan semester tadi tetapi menggunakan pesawat. Kali ini aku bilang pada Bunda ingin menggunakan speedboat. Bunda setuju dan itu berarti, kami harus siap sekitar pukul enam pagi.

Tidak ribet untuk mendapatkan tumpangan speedboat, apalagi armada speedboat itu milik teman Bunda yang sama-sama aktif di Organisasi Gabungan Wanita Kabupaten. Tarif-nya tidak terlalu mahal, dua puluh lima ribu satu orang. Aku dan Bunda sudah sampai di dermaga speedboat kurang lima belas menit dari pukul enam pagi. Hari ini kami menggunakan longboat sebab penumpangnya agak banyak. Longboat diawaki dua orang yakni motoris yang pegang kemudi dan pengendali mesin yang selalu menempel di mesin longboat. 

Tepat pukul enam longboat mulai melaju menyisiri sungai Mentaya. Aku baru mengerti, kenapa harus sudah berangkat sebelum pukul enam. Ternyata perjalanan ini menuju ke arah matahari terbit sehingga akan mengganggu penglihatan driver nya. Aku dan Bunda berada pada posisi paling belakang, dekat dengan mesin longboat.

Setelah menyisir Sungai Mentaya, longboat berbelok ke arah kanan dan terlihatlah bentangan pantai yang panjang dan lebar. Pantai Ujung Pandaran. Aku belum pernah ke pantai itu, walau beberapa kali ada kesempatan untuk wisata ke daerah itu tetapi Bapak tidak pernah mengijinkan aku untuk ikut. Menurut ceritanya, Pantai Ujung Pandaran adalah daerah yang “baru dibuka” untuk kegiatan wisata sehingga masih sangat alami dan banyak cerita mistis di situ.

Aku memandang hamparan pasir Pantai Ujung Pandanran yang terkena sinar matahari…..mungkin karena masih bersih jadi menyilaukan sekali. Setelah melewati Ujung Pandaran, masih ada hamparan pasir yang juga pantai namun tidak seluas Ujung Pandaran dan beberapa meter dari pantai itu terdapat dinding batu. Aku melihat seperti pantai dengan pagar yang bagian atas pagar itu ditumbuhi rumput-rumput juga pepohonan perdu. Indah sekali !!!

“ Itu Tanjung Silap…..,” sebuah suara memberitahukan aku nama pantai yang begitu indahnya. Ternyata pengendali motor longboat yang bersuara. Mungkin dia memperhatikan aku yang menatap ke arah pantai tanpa berkedip. Ups…bagaimana dia tahu kalo aku tidak berkedip sedangkan aku pake kacamata hitam biar tidak silau. Hihhi…. 

Tanjung Silap sebenarnya lebih “cantik” daripada Ujung Pandaran tetapi mustahil untuk dijadikan obyek wisata. Pantai-nya berada di bawah dinding batu yang kuperkirakan tingginya duapuluh meter lebih. Satu-satunya akses menuju pantai itu ya harus menuruni dinding batu dulu. Menurut perkiraanku, Pantai di Tanjung Silap ini selain tidak punya akses untuk dikunjungi juga tingkat keamanannya sulit di tebak terutama bila musim air tinggi, bisa jadi pantai itu tertutup air laut.

Pemandangan di Tanjung Silap berganti. Sepertinya Longboat menjauhi pantai sebab berikutnya aku hanya melihat jejeran tumbuhan setinggi batang korek api dan deburan ombak yang jauh sekali. Ternyata tidak…….si pengendali mesin longboat itu kembali menjadi guide-ku menjelaskan bahwa Tanjung Silap memang memiliki lekukan yang tajam ke dalam pulau. Itu sebabnya disebut Tanjung (Daratan yang menjorok ke laut). Uhuuuy….palajaran ilmu sosial-ku emang cepak banget kali. Atau karena terpesona melihat keindahan tepi pulau dari Laut Jawa sehingga aku jadi telat mikir (telmi)..hehehe.

Longboat kembali melaju. Tidak berapa lama, kami sampai di sebuah tanjung lagi. Kali ini tanpa pantai melainkan jejeran pohon kelapa dengan suaranya yang riuh rendah di tingkahi deburan ombak. Andaikata ada seniman yang ikut bersama kami, barangkali akan tercipta sebuah lagu yang sangat cantik dan indah. Kembali mataku beradu dengan tatapan pengendali mesin longboat. Ya Tuhan…….jauhkan aku dari perasaan gedhe rumangsa terhadap “penguasa” mesin Longboat ini. Orang itu kembali tersenyum dan menunjuk ke depan.

“ Itu namanya Tanjung Kalap…..” ujarnya kemudian. Aku tidak menyahut, hanya bibirku membentuk huruf O. Bunda yang duduk di samping mencubit pahaku. Aku menoleh dan tersenyum yang kalau diterjemahkan ke dalam kalimat menjadi weleeeeh… Bunda anakmu ga’ akan bergenit-genit koq….. Pemandangan di Tanjung Kalap itu benar-benar indah namun di dalam bathin aku ada sedikit debaran…wow. Ini berdebar karena pandangan pengendali mesin itu ataukah karena suara riap daun-daun kelapa dari kejauhan dan suara deburan ombak.

Tengah asyik merasakan “keanehan” bunyi ombak yang jauh sekali, tiba-tiba longboat berhenti. Aku melihat badan longboat mendarat di sebuah pantai. Ups…kebetulan sekali….aku kebelet nih. Bunda dan aku minta ijin untuk buang air kecil dulu di pantai mumpung speedboatnya menyandar. Pengendali mesin itu mengernyitkan dahi lalu mengijinkan dengan catatan jangan lama-lama sebab mengejar waktu, takut kemalaman sampai di Kuala Pembuang.

Aku dan Bunda turun dengan membawa satu botol air mineral. Kulihat dua orang penumpang lainnya juga turun menyisir pantai itu. Kami menemukan sebuah gubuk yang terbuat dari jalinan bambu dengan atap dari daun nipah (enau). Di sekitar gubuk itu di tumbuhi tanaman menjalar sejenis kacang, yang merayap ke salah satu pohon kelapa yang ada di dekat gubuk itu. Setelah melihat penumpang lain buang air kecil jauh dari kami, Bunda menyuruh aku dulu kemudian bergantian. Di saat menunggu Bunda buang air kecil, aku sempat melihat ke sekeliling secara seksama. 

Jauh di seberang pantai di sebelah kananku ada sebuah kapal besar yang sedang berlabuh. Sedang di sisi sebelah kiri aku melihat hamparan warna hijau dari tumbuhan. Sedang suara deburan ombak benar-benar membelah kesunyian di pantai itu. Begitu Bunda selesai buang air kecil, kami bergegas kembali ke longboat yang menyandar di tepi pantai. Pengendali mesin membantu Bunda naik kemudian membantu menaikkan aku juga. Beberapa saat setelah aku dan Bunda berada di dalam longboat, kendaraan air itu bergoyang-goyang menjauhi pantai. Padahal mesin longboat itu belum dihidupkan. Pengendali mesin longboat memandang dan tersenyum ke arah aku. Aje gile….kenapa nih sang pengendali mesin…..mati aku kalo dia naksir aku heheeee…. Tiba-tiba kudengar “guide” ku ini bersuara,

“ Untung cepat naik ke longboat….kalau tidak….” pengendali mesin longboat itu menghentikan kalimatnya 
“ Kalau tidak kenapa ?” tanyaku penasaran.
“ Kita tadi terdampar di gosong. Tempat Ibu dan kamu buang air kecil tadi bukan pantai melainkan sebuah gosong yang timbul karena air laut sangat surut. Begitu air laut kembali naik….gosong itu akan tenggelam….,” lanjutnya kemudian sambil menoleh ke arah dimana longboat tadi menyandar. 

Aku ikut menoleh, begitu juga dengan Bunda. Tidak ada lagi hamparan pasir di situ melainkan air laut yang bergelombang.

“ Kita menghentikan mesin biar longboat tidak terbalik sebab sering terjadi gosong muncul tiba-tiba dan karena kecepatan tinggi menabrak gosong lalu longboat terbalik. Saat ini kita masih berada di tempat berhenti tadi, belum bergeser sedikitpun…..tapi gosong itu sudah hilang…nah andaikata tadi tidak cepat naik…barangkali kalian sudah tenggelam bersama gosong tadi ,” kalimat terakhir dari pengendali mesin itu membuat sekujur tubuhku membeku. 

Bunda menggamit tanganku. Subhanallah nyawaku tadi sebenarnya sedang diujung tanduk. Kalau gosong itu muncul tiba-tiba lalu tenggelam secara tiba-tiba pula…..berarti gubuk yang ada di gosong itu ……. Aku memandang ke arah Bunda. Bunda memberi kode agar aku tutup mulut.

Sampai sekarang, gambaran gubuk di gosong dengan segala pemandangannya masih melekat dalam ingatanku. Aku tidak bisa menjawab, gubuk siapa yang ada di gosong yang muncul dan tenggelam secara tiba-tiba itu ?

(Disaat berikutnya ketika ada berita pesawat bouroq yang hilang di wilayah Sampit, aku membayangkan pesawat yang terbang dalam cuaca buruk itu mendarat di “pantai” yang sebenarnya adalah sebuah gosong………..dan penumpangnya turun…beristirahat di dalam gubuk itu……who knows ????)

Sabtu, 03 Agustus 2019

HMMMMMMMMM SIAPA TAKUT

Makan malam baru saja usai. Aku melangkah menuju loby hotel ketika teman se-kamar datang dan menggamit tanganku.

“ Mbak, bisa enggak ya, kalau kita se-kamar empat orang, “ katanya kemudian setelah kami agak menjauh dari teman-teman yang duduk di sofa yang ada dalam ruangan loby. Aku menatap ke arahnya.

“ Begini Mbak…dua teman kita tadi sewaktu naik taksi dari bandara diberi tahu oleh supir taksi-nya bahwa ini hotel tua sekali dan banyak penghuninya….mereka takut soalnya si penghuni sering menampakkan diri walaupun tidak menakut-nakutin…,” ujarnya beberapa saat kemudian.

Aku menarik nafas disertai seulas senyum kutujukan padanya.

“ Mbak…itu mungkin persaiangan hotel atau armada taksi…ingat enggak waktu kita naik taksi dari bandara tadi…supir-nya mengatakan bahwa hotel yang kita inapi ini tidak menyediakan armada taksi…berbeda dengan hotel lain seperti yang disebutkannya….,” ujarku mengingatkan.

Temanku itu mengangguk. Aku berharap teman se-kamarku ini tidak termakan cerita negative mengenai hotel ini karena ini baru malam pertama dan kami masih tiga malam lagi berada di hotel ini ! Alhamdulillah kalau kemudian kami sepakat tetap tidur sesuai dengan reservasi awal, setiap kamar berdua. Sekitar pukul Sembilan kami kembali ke kamar masing-masing walau ada sebagian yang masih berada di ruang loby, terutama para laki-laki.

Sesampai di kamar, hal rutin yang aku lakukan. Membersihkan wajah, ganti pakaian, wudlu dan shallat Isya. Begitu pula dengan temanku se-kamar. Setelah itu, temanku langsung terlelap sementara aku membuat paper untuk persiapan training minggu berikutnya. Sambil mengerjakan paper itu, aku membuka facebook. Lumayan-lah, walau temanku sudah tidur, aku tidak kesepian saat mengerjakan paper itu. Jam menunjukkan pukul 11 malam. Mataku sudah mulai terasa mengantuk. Jam tangan dan hape kuletakkan di dekat bantalku sedang konesp paper kuletakkan di atas meja kecil dekat dengan tempat tidurku.

Aku menarik selimut sembari mengucapkan beberapa surrah pendek yang sering aku ajarkan pada anak-anakku dan diakhiri do’a tidur. Barangkali di tengah perulangan ayat qursy yang kuucapkan dalam hati, aku terlelap……sampai dengan terdengar suara ribut di kepalaku. Upppppssss…..siapa malam-malam begini memukul papan nyaring sekali…. Mataku terbuka sebentar dan suara klutak klutak klutak itu tidak berhenti. Ah…aku bangun dan suara itu berhenti. Kulihat, temanku masih tidur dengan nyenyak. Aku perhatian tempat tidurnya yang memang terpisah denganku….ujungnya menyentuh bagian kepala dari tempat tidurku. Dan bagian kepala itu terbuat dari kayu. Ooooooo barangkali, temanku tadi tidur agak banyak bergerak sehingga ribut sekali.

Aku kembali menarik selimut dan memulai membaca ayat qursy lagi…sampai terlelap…dan bangun kedua kalinya karena rebut yang sama. Hemmmmmm…apa iya, teman aku itu gagah benar saat tidur sehingga harus ribut seperti ini ?????? Tiba-tiba aku teringat cerita seusai makan malam tadi. Huuuuuufffffffssss….. inikah ??? Aku menarik selimut sambil ujarku kemudian,

“ Kalau mau main, main saja-lah….aku mau tidur….” dan aku kembali membaca ayat qursy sampai terlelap.

Pagi harinya saat sarapan, temanku yang tahu bahwa aku tidur agak malam menanyakan kejadian yang ganjil yang mungkin aku dengar dan aku lihat. Aku sebenarnya mau mengatakan sesuatu tapi oooh tidaklah masih dua malam lagi kami tidur di kamar itu.

“ Mbak mungkin kecape’an ya…semalaman tidur usik banget sampai kepala ranjang tempat tidurku ga’ berhenti berbunyi….kletak kletuk semalaman….” ujarku sambil cengengesan.

Kejadian itu, aku simpan dalam hati….sampai pada hari ketiga kami berada di hotel tersebut. Kegiatan baru usai menjelang maghrib. Aku cuma berfikir…waduh, keburu banget nih shallat maghrib-nya ketika melangkah keluar dari ruang pertemuan bersama teman se-kamar. Dua kali putaran bahkan berbalik… kami tidak menemukan kamar angka triple yang kami tempatin. Hah….jangan-jangaaaaan….

“ Kita tersesat Mbak…..” ujar temanku sambil menghentikan langkah. Aku mengangguk. Beberapa saat tadi memang kami berpapasan dengan peserta lain yang kami tahu nomor kamarnya jauh di atas kami. Aku tertawa kecil dalam hati. Koq bisa tersesat di hotel !!!! Tiba-tiba aku melihat pegawai hotel keluar dari salah satu gang.

“ Mas….bisa antar kami ke kamar…saat ini kami tersesat sementara ini sudah hamper maghrib,” ujarku menghentikan langkah si pegawai hotel. 

Serempak kami menjawab nomor kamar ketika si pegawai menanyakan nomor kamar kami. Aku sempat memperhatikan cara berjalan si pegawai itu sebab hanya beberapa kali dia melangkah….aku harus berlari kecil mengejarnya. Tepat adzan maghrib berkumandang kami tiba di depan pintu kamar. Pegawai hotel itu mempersilakan kami masuk. Karena sudah keburu, kami langsung masuk. Sesaat kemudian aku sadar belum mengucapkan terima kasih…aku membuka pintu dan wow…cepat sekali orang itu berjalannya karena sudah tidak ada di sekitar kamarku. Padahal untuk menuju tangga atau lift perlu melewati empat kamar lagi…. ya sudahlah.

Ketika makan malam….aku bertemu dengan pegawai hotel itu dan saat kuucapkan terima kasih…dia malah bengong kayak sapi ompong yang bikin aku bingung. Temanku memang bertanya ada apa…. aku ga’ bisa menjawab karena bila aku katakan akan berpengaruh sekali padahal kami masih semalam besok di hotel ini.

Subhanallah…..aku benar-benar tidak habis mengerti….apakah teman-ku sekamar ini memang takut kalau kemudian aku melihat toilet masih kotor bekas air pipis-nya ? Aku bersihkan sendiri sebelum aku menyelesaikan hajatku di kamar kecil itu. Hemmm…hemmm

Tahukah….beberapa saat sebelum pesawat berangkat menuju ke Banjarmasin ternyata teman aku mengatakan aku-lah yang penakut karena tidak membersihkan toilet. Teman aku mengatakan aku penakut sebab tidak menutup pintu bila dari kamar kecil. Teman aku mengatakan….aku-lah yang penakut karena setiap ke kamar kecil membunyikan kran air keras sekali.

Huwallahu a’lambishshawaab…hanya Allah yang Maha Tahu segala sesuatunya…………

Banjarmasin, 25 April 2010

SANG PEJABAT

Pagi itu aku bertemu dengan seorang pejabat di kantor-ku. Aku katakan pejabat karena memang yang bersangkutan punya kedudukan dan secara syah berdasarkan administrasi memiliki jabatan. Sssssssssssttttt....tetapi tidak setiap orang yang punya jabatan akan senang di sebut pejabat, sedangkan temanku yang satu ini kerap membahasakan dirinya sebagai pejabat. 

Awalnya cerita ini, aku bertemu si pejabat. Dia menyalamiku....ah, kebiasaan seorang pejabat. Lalu menanyakan kabarku....juga basa-basi seorang pejabat hehehe.....( karena kemarin sore kami bertemu dalam keadaan sehat wal'afiat dan baik-baik saja) pertanyaan berikutnya benar-benar khas seorang pejabat yang kerap dia lontarkan emhemmm, (aku tidak tahu secara pasti dia jiplak darimana ) pertanyaan klise seperti ini :

" Ada masalah apa.....apa yang bisa aku bantu ????"

Uppsss....pucuk di cinta ulam-pun tiba. Aku benar-benar sedang mau menanyakan sesuatu kepada-nya. Masalah yang sederhana saja yaitu surat pemanggilan....


" Kami perlu surat pemanggilan untuk teman yang akan mengikuti kegiatan di salah satu kantor pemerintahan propinsi sebagai dasar untuk pencairan dana "

Sebenarnya aku berharap dia menjawab "ada" atau mungkin "tidak ada" karena memang secara administrasi dia yang berwenang untuk menerima surat pemanggilan dan mengeluarkan surat penugasan. Dengan dasar atas kedua surat itulah kemudian administrasi keuagan berupa pencairan biaya kegiatan bisa dilakukan.

Ahhaaaayyy.... beberapa saat berikutnya, aku terduduk di bangku yang tidak jauh dari tempatku berdiri sebab kata-kata yang keluar ternyata bukan "ada" dan "tidak ada".

Panjang di kali lebar sama dengan luas dan kalau lebih dari lima menit aku terdiam di bangku itu maka panjang dan lebar jawaban yang diberikannya menjadi tak terhingga. Kalau kemudian ada kedalaman di dalam kata-katanya itu....berarti sudah menyangkut masalah volume.

Aku tidak mengeluhkan diriku yang terpenjara pada jawaban luas tak terhingga yang pada ujungnya toh berakhirkan kata TIDAK ADA ( ciri khas seorang pejabat pula nih ). Aku justru kemudian berpikir.....kenapa pejabat itu memiliki luas dan volume jawaban yang sebenarnya malah menunjukkan betapa ke-pejabatan-nya tidak diiringi dengan pendalaman pengertian dari tugas pokok dan fungsinya  ?

Dengan memahami tugas pokok dan fungsi maka sebenarnya, temanku yang pejabat itu bisa mengontrol hak dan kewajiban yang melekat pada jabatannya untuk memudahkan dirinya sendiri menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dia lontarkan kepadaku pagi itu. Aku tidak ingin menjawab lontaran pertanyaannya karena bagiku pejabat senior semacam temanku itu seharusnya lebih mengerti dari aku yang masih bau kencur ini.....karena bagiku tak baik aku menasehati senior seperti temanku itu.

Selama seminggu aku mengamati dan memikirkan semua itu. Akhirnya aku mengerti akan satu hal. NIAT itu MEMPENGARUHI TUJUAN BEKERJA dan TUJUAN BEKERJA  MEMPENGARUHI POLA PIKIR lalu POLA PIKIR AKAN TERLIHAT PADA PERKATAAN yang BERWUJUD DALAM PERBUATAN.


Semoga aku tidak seperti temanku yang pejabat itu bila menduduki sebuah jabatan. Ahhhh hemmmmmmmmmmmm !!! ( Ngantuk deh )

CATATAN di UJUNG JALAN

Seandainya saya suka  mengeluh, barangkali apa yang saya tuliskan ini akan saya keluhkan sesegeranya setelah peristiwa itu terjadi. Tetapi, saya lebih suka  diam dan seandainya masalah itu tidak dapat saya tangani, saya lebih suka mengungkapkan dalam puisi dan kata-kata tanpa harus menuju pada siapapun kecuali yang merasa. Saya yakin, Allah Ta’ala akan memberi jalan keluar dan keputusan yang terbaik.

Inilah catatan kecil yang selama ini saya simpan.

Sesaat setelah dilantik, ada tekad dalam hati saya untuk mewujudkan dua hal penting atas kedudukan dari jabatan itu yakni pembenahan administrasi dan mewujudkan keinginan atasan saya untuk mengadakan Air Conditioner (AC) di setiap ruangan kantor terutama ruangan tempat saya bekerja. Sebagai orang baru tentu perlu memiliki peganganNamun tempat berpegang pertama yang memberikan banyak input tentang orang-orang di ruangan baru itu ternyata berakhir dengan kekecewaan. Orang itu adalah Nyonya X.

Bermula dari sebuah kepercayaan kepadanya, pengelolaan penginapan saya serahkan secara utuh. Namun kepercayaan itu ternoda karena kebersihannya tidak terjaga dan administrasi disepelekan sedangkan itu adalah point pertama yang disampaikan kepada saya,  tidak lama setelah saya diberi tanggungjawab ketatausahaan. Dengan meledak-ledak Nyonya X melontarkan kata-kata yang tidak saya tanggapi dengan emosional.  Satu kata yang kemudian membuat saya mengambil kesimpulan bahwa Nyonya X tidak dapat dipegang kata-katanya adalah saat dia berucap : SEMUA SUDAH SAYA LAKUKAN, HANYA MENYEMBAH IBU UNIEK SAJA YANG BELUM.

Subhanallah ……pertanyaan yang mendasar saat itu adalah, HAL APA YANG SAYA SURUHKAN ATAS DIRINYA SEOLAH SAYA PENGUASA YANG LALIM SEMACAM FIR’AUN YANG MINTA DISEMBAH ? Astaghfirullah….  saya punya iman dan tahu betul bahwa DOSA BESAR kalau kita menyembah selain Allah Ta’ala dan laknat Allah Ta’ala atas orang yang minta disembah !!!! Sungguh, Nyonya X  tempat saya pegang pertama itu ternyata berani mempermainkan kata-kata tanpa melihat pada IMAN yang diyakininya.

Semenjak kejadian itu, staf lain membantu pengelolaan penginapan mendapatkan berbagai tindak intimidasi baik mental maupun fisiknya. Saya memback-up sesuai kemampuan yang saya punya. Tidak sekali dua  kali saya harus mempertanggung jawabkan sesuatu di hadapan atasan saya hal yang sebenarnya tidak saya lakukan dan kalaupun saya lakukan itu didasarkan atas kemauan Nyonya X saat masih saya percayai. YaAllah Ya Rabb…..saya kerap merasa dipojokkan dan hanya di atas sajadah saya mengadukan sebab mengadukan kepada kepala ruangan seringkalii tidak dianggap sebagai masalah. Apalagi, saya paling tidak suka menghadap ke atasan saya untuk menyampaikan masalah sebab atasan saya juga sudah dibebani masalah yang terkait dengan kedinasan maupun pribadi.

Semua hal yang bersifat intimidasi dan fitnahan dari Nyonya X terhadap staf yang lain saya hadapi dengan sekemampuan saya….. sampai akhirnya bisa mewujudkan apa yang sudah menjadi tekad saya. Penginapan, berjalan sesuai dengan adminstrasi yang seharusnya. Hasil pengelolaan penginapan bisa dirasakan oleh seluruh staf bahkan ruangan tempat saya bekerja sudah memasang AC 2 PK. Kepuasan tersendiri karena saya bisa mewujudkan keinginan atassan saya mengenai AC tersebut. Sampai akhirnya tanggal 29 Nopember 2010, saya dihadapkan pada permasalahan yang membuat saya mati rasa.

Hari itu Nyonya X bersama suaminya masuk ke ruangan kepala dengan alasan ada yang mau dibicarakan sehubungan dengan permasalahan Nyonya X yang menyangkut tuduhan staf saya. Staf saya ini yang mengelola penginapan dan maaf dia paling sering diintimidasi berupa kata-kata sampai ancaman mau dipukul oleh suami Nyonya X.  Permasalahan itu saya anggap selesai sebab staf saya mengakui kesalahannya dan saya selaku atasannya memintakan maaf untuk itu walau kepala ruangan berusaha berkilah untuk lari dari tanggungjawab sebagai atasan langsung saya. Namun yang membuat  saya terperangah adalah luapan kata-kata Nyonya X yang sudah saya dengar sebelumnya….. berikut ucapan-ucapan tentang atasan yang melantik saya.

Saya sakit hati yang teramat dalam sebab beliau di kata-katai dengan semaunya sementara kepala ruangan hanya mendengarkan tanpa bereaksi.  Saya saat itu hanya banyak berucap istighfar…..hanya istighfar mendengar orang yang saya hormati, yang keinginannya menjadi tanggungjawab untuk saya penuhi, yang menempatkan tanggungjawab kepemimpinan di pundak saya……begitu rendahnya di mata Nyonya X  hanya karena serantang lauk-pauk yang sering dia antarkan.

Subhanllah, astaghfirullah…..dalam hati saya menangis. Kalaupun saya kemudian jatuh sakit dan opname…… itu memang sudah janji saya kepada Allah Ta’ala untuk jatuh sakit dan beristirahat. Dengan begitu saya tidak perlu berfikir atas perbuatan dan perkataan Nyonya X bersama suaminya.

Seusai operasi…..seusai semua rasa sakit di tubuh ini hilang saya rasakan…..ternyata bathin saya tetap sakit. Seminggu sesudah keluar dari rumah sakit  saya tidak dapat tidur di malam hari. Sesudah menangis di pelukan suami saya dengan menceritakan segala perbuatan dan perkataan Nyonya X atas diri saya dan atas diri atasan yang melantik saya…..suami saya, memberikan kata-kata yang menguatkan hati saya dengan berpegang pada kekuatan yang dimiliki Allah Azza Wa Jalla. Setelah itu baru saya bisa tidur lelap.

Subhanallah, astaghfirullah…..saya yakin,akan ada jalan keluar terbaik untuk atasan saya yang diberikan oleh Allah Azza Wa Jalla sehingga bisa dihentikan dari penistaan oleh Nyonya X. Dan, apa yang sudah didapatkan tanpa sepengetahuan beliau ini….tidak berlanjut pada penggantinya siapapun dan kapanpun. Alhamdulillah, saat ini Allah Ta’ala sudah menarik beliau dari lingkaran Nyonya X dan semoga  Allah Azza Wa Jalla senantiasa memberikan kebaikan kepada beliau sampai kapanpun.

Saya ingat saat diminta untuk membantu membenahi kondisi di kantor yang memang banyak tidak sesuai. Saat itu saya berkata 3 bulan dibanding 8 tahun dan 3 orang dibanding puluhan orang sepertinya mustahil untuk bisa mengubah kondisi secepat yang diinginkan. Saya tidak berani berjanji kepada beliau untuk membantu karena takut saya ikut tercemar. Namun saya justru berjanji kepada hati kecil saya, bahwa saya tidak akan tercemar sehingga bisa mewujudkan apa yang beliau inginkan. Hanya sayangnya, terkadang……. di awal jabatan, saya begitu percaya kepada perkataan satu orang yang  kemudian berbalik menjadi orang yang memutar balikkan kebenaran demi dirinya pribadi.
Subhanallah…astaghfirullah, semoga Allah Ta’ala mengampuni kesalahan saya dan bisa memperbaiki apa yang sudah keliru saya jalankan.

Terima kasih Bapak, saya senang mendapat pelajaran hidup berharga selama menjadi bawahan Bapak….meskipun Bapak tidak mengetahuinya. setidaknya saya masih bisa berpegang pada prinsip bahwa DIAM BUKAN BERARTI TIDAK BERANI DAN BODOH tetapi DIAM UNTUK PASRAH KEPADA ILLAHI DAN INI JAUH LEBIH BESAR FAEDAH. Semoga, hari-hari yang Bapak jalani ke depan…..jauh dari fitnah dan ghibah….amiiin.

MENGEJAR.....JABATAN ???

Dadaku mendesir saat submit surat permohonan mengikuti lelang jabatan eselon II. Sungguhkah aku sedang mengejar jabatan ?????? Untuk menjawa...