Senin, 10 Juni 2013

TEMAN KU

Teman Dekat

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Aku pikir, kalimat itu banyak benarnya. Namun, tidak semua orang bisa menjadikan pengalaman sebagai guru yang memberi pelajaran. Utamanya, pengalaman yang memberi dampak tidak bagus. Bahkan ada yang dengan santainya mengulang kembali pengalaman yang tidak bagus itu dari tahun ke tahun tanpa ada penyesalan.

Sewaktu kecil, aku punya teman baik. Bapaknya seorang perwira tinggi yang bertugas satu kesatuan dengan bapakku. Walaupun bapakku hanya seorang perwira menengah, tetapi Novi tidak melihat perbedaan pangkat itu dalam pertemanan kami. Kebetulan, aku dan Novi sama-sama aktif di Pramuka yang dikelola oleh kesatuan tempat orangtua kami bertugas.

Kadang-kadang Novi diantar sopir-nya untuk bermain di rumahku. Tetapi, aku tidak mungkin main ke rumahnya sebab aku tidak punya mobil seperti Novi. Tetapi, Novi tidak melihat ketidak berpunyaan-ku, kami tetap akrab hingga tamat sekolah dasar. Novi tamat dari SD Rajawali sedangkan aku tamat dari SDN Telaga Ilmu.

Temanku yang lain, namanya Heri, sudah memperingatkan agar aku tidak terlalu dekat dengan seseorang. Katanya, ibarat telur kalau berdekatan terus bisa retak dan mudah pecah. Aku mengabaikan kata-kata Heri dan kuanggap dianya saja yang tidak suka atas pertemananku dengan Novi. Aku dan Novi diterima di SMP yang sama, SMP Negeri Seroja. Hanya sayangnya, kami beda kelas. Novi diterima di kelas A adalah anak-anak yang lulus SD dengan predikat ranking 1 sedangkan aku diterima di kelas B yang diperuntukkan bagi mereka yang lulus dengan predikat ranking 2 dan 3.

Perbedaan kelas ini ternyata menjauhkan aku dengan Novi. Dia bertemu dengan Fia dan akrab dengan anak baru yang satu kelas dengannya. Aku, semula berharap tetap bisa akrab dengannya, ternyata kerap tidak bisa bergabung saat Novi dan Fia bercengkerama. Setelah sekian lama, aku akhirnya benar-benar terpisah dari Novi. Ini sangat menyakitkan buat aku. Bukannya aku tidak punya teman selain Novi, tetapi aku hanya berharap kami tetap bisa dekat dan akrab walaupun memiliki teman yang lain.

Aku benar-benar kecewa dengan pertemanan kami, tatkala mengetahui Novi tidak pamit padaku saat pindah ke Sumatera mengikuti orangtuanya. Aku justru tahu dari Fia, kalau Novi sudah pindah ke Sumatera. Aku berpikir, ternyata pertemanan bisa juga menimbulkan rasa sakit. Oleh karenanya, aku tidak lagi ingin dekat hanya dengan satu orang melainkan dekat dengan banyak orang. Hingga sekarang, aku tidak punya teman dekat namun aku punya banyak teman.

Teman Bermainku

Pengalaman benar-benar menjadi guru terbaik sepanjang kita menarik hikmah dan pelajaran di dalamnya. Aku mencoba menarik pelajaran dari pertemananku dengan Novi sehingga aku melebarkan sayap untuk memiliki banyak teman. Aku tidak lagi punya teman dekat. Aku punya teman Endang, Selamet, Aris, Debora, Rini, Eli, Husin, Ujang, Rahmat, Isye, Madi, Nurul dan lain-lain. Bukan cuma di asrama tempatku tinggal melainkan juga di sekolah, di Pramuka, di kegiatan ekstra kurikuler lainnya seperti vocal group dan menari.

Diantara sekian banyak temanku, ada yang bernama Nunung. Sebagai anak tentara, kami tinggal di asrama yang sama namun barak yang berbeda. Orangtua Nunung adalah sipil yang bertugas sebagai sopir jadi dia berada di barak yang diperuntukkan bagi sipil. Nunung, bertetangga dengan Eli dan bapaknya Eli itu satu kantor dengan bapakku, dengan pekerjaan yang sama dengan bapaknya Eli yakni sopir kantor. Saat itu, bapakku sudah menjadi perwira tinggi jadi aku tinggal di barak yang diperuntukkan bagi perwira.

Ada satu kejadian yang tidak aku lupakan seumur hidupku. Saat itu aku dan Nunung bertengkar gara-gara aku tidak mengijinkan dia masuk ke mobil dinas yang parkir di halaman rumahku. Aku melarangnya sebab aku dilarang bapakku dengan alasan mobil dinas itu masih kotor dan belum dicuci bapaknya Eli pagi tadi. Pertengkaran itu, kemudian menjadi catatan penting dalam hidupku sebab aku kemudian dipanggil oleh ibu-nya Eli dan dia maki habis-habisan aku. Aku dikatakan oleh ibunya Eli sebagai anak yang lancang karena mencampuri urusan orangtua dan  menceritakan kepada orang lain bahwa bapaknya Eli nggak bisa jadi sopir yang baik sebab mobil dinasnya selalu kotor.

Saat itu aku tidak bisa menggambarkan perasaanku bagaimana dimaki oleh ibunya Eli. Aku hanya bisa mengingat posisiku saat itu, duduk memeluk lututku dan mendengarkan ibunya Eli dibantu ibunya Nunung memaki-maki aku. Laripun sudah tidak mungkin lagi dan sepertinya itu juga bukan hal terbaik yang bisa kulakukan. Aku bingung dengan makiaan tersebut sebab aku tidak tahu, dimana letak kesalahanku ? 

Namun satu hal yang kucatat dalam pikiranku bahwa temab juga bisa mendatangkan kesulitan. Contohnya seorang Nunung sudah berkata bohong sehingga ibunya Eli marah padaku. Andaikata perkataan Nunung bukanlah kebohongan maka seharusnyalah aku tidak melarang Nunung masuk ke mobil dinas itu sehingga tidak perlu dia mendengar penjelasan dariku bahwa mobil itu kotor karena belum dicuci bapaknya Eli. Artinya, karena perkataan kepada orang yang dianggap teman ketika berbalik menjadi musuh maka itu akan menjadi senjata yang melukai hati kita sendiri.

Sejak saat itu, aku menuntup diriku untuk hati-hati dalam bercakap-cakap. Walaupun aku berteman dengan siapapun dan dimanapun, aku tidak lagi pernah mengumbar cerita tentang siapapun kepada siapapun. Justru dengan sikapku itu, aku menjadi tempat bercerita teman-temanku sebab mereka yakin aku tidak akan membuka mulutku untuk memperpanjang cerita.

Temanku Buku

Aku jera bicara kepada teman. Walau temanku tetap banyak, aku sangat terbatas dalam berkata-kata. Kecuali penting dan benar-benar sesuatu yang bermanfaat baru aku bisa berucap.

Temanku untuk mencurahkan perasaan dan pikiran akhirnya buku harian. Semua hal aku tulis di buku harianku. Kesedihan, kesenangan, kesulitan, kebahagiaan, airmata dan tawa-tawa aku ceritakan pada buku harianku. 

Temanku berbicara untuk menambah pengetahuan adalah buku-buku. Buku sastra, buku fiksi, buku ilmiah, majalah remaja, majalah ilmiah, buku agama dan sebagainya menjadi temanku sehari-hari. Sepertinya aku tumbuh dengan aman bersama buku-bukuku. Aku bisa menceritakan banyak hal melalui tulisanku. Aku bisa mendapat banyak pengetahuan melalui buku-bukuku.

Aku tidak meninggalkan teman sebab hidup tanpa teman juga tidak ada gunanya. Tidak ada yang bisa aku ceritakan dalam perjalanan hidupku tanpa teman. Namun hingga sekarang aku berpegang pada ketetapanku sendiri......tidak ada teman akrab dan tetap menjadi pendengar yang baik untuk orang yang bercerita serta tidak akan menjadi corong atas bala bencana.

Semoga Allah Ta'ala memberika barokah NYA
Aamiiin
(Kuambil dari memori-ku dengan nama-nama yang disamarkan, semoga tetap menjadi diriku sendiri kapanpun dan dimanapun.....Insya Allah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENGEJAR.....JABATAN ???

Dadaku mendesir saat submit surat permohonan mengikuti lelang jabatan eselon II. Sungguhkah aku sedang mengejar jabatan ?????? Untuk menjawa...