Selasa, 01 Oktober 2013

PISAU ITU MENANCAPNYA DI HATI

Aku masih ingat kejadian setahun yang lalu.
Entah kenapa, waktunya disetting oleh Allah Ta'ala sangat bertepatan sekali. Hari itu aku mendapat kabar bahwa saudara ibuku akan datang mengunjungi kami di Kalimantan.  Kabar yang kuterima pada hari Kamis sore itu, menyenangkan sekaligus membingungkan hatiku. Bagaimana aku tidak bingung, saudara ibuku itu akan datang pada hari Jum'at pagi menggunakan Lion Air dan akan kembali pada Sabtu siang dengan pesawat yang sama. Seumur-umur, mereka belum pernah menjejakkan kaki di Kalimantan jadi bagiku, itu sebuah silaturhami yang sangat berharga. Aku ingin melayani saudara ibuku itu sebab karena kesibukannya, satu keluarga itu hanya menginap satu malam saja di rumahku. Ini hal yang menyenangkan bagiku.

Hal yang membuatku bingung adalah bahwa hari itu, ada pelantikan di kantor. Sesungguhnya, aku tidak peduli, siapa yang akan dilantik untuk naik pada kedudukan setingkat lebih tinggi dari aku dan jajaranku. Yang ada di kepalaku bahwa ini bukan waktunya untuk aku naik jabatan sebab ada banyak kekuranganku untuk duduk dalam jabatan yang lebih tinggi lagi. Saat itu, aku belum mengikuti Diklat Kepemimpinan. Saat itu, yang ada di kepalaku hanyalah menyenangkan hati ibuku dengan cara menjamu saudara beliau sebaik-baiknya. Aku memutuskan untuk ijin, agar aku bisa menjemput dan mencarikan mobil sewaan untuk rombongan satu keluarga itu bisa keliling-keliling di kotaku.

Pagi-pagi sekali, dengan pikiran yang hanya tertuju pada rencanaku itu, aku mengirim sms kepada pimpinanku untuk ijin tidak menghadiri pelantikan. Jawaban dari pimpinanku cukup mengejutkan.

"Saya tidak mengijinkan, anda harus datang di pelantikan hari ini"

 Jawabannya tidak hanya sekali. Justru kalimat kedua membuat perasaanku seperti dilukai.

"Kalau anda tidak hadir, akan saya beri sanksi"

Terus terang, jawaban kedua ini membuat aku menangis. Hanya karena ijin untuk tidak hadir untuk menyenangkan hati orangtuaku, aku akan mendapat sanksi dari pimpinan. Bahkan saya diberi sebutan ANDA, bukan MBAK atau BU seperti yang selama ini beliau lakukan bila menjawab sms aku. Saat itu aku hanya berpikiran, pimpinanku ternyata seorang yang otoriter. Maka dengan airmata di pipi, aku menghadiri pelantikan hari itu.

Aku tidak terlambat dan sempat melihat satu demi satu pegawai kantorku. Dari hasil pengamatanku, sebenarnya ada 3 (tiga) orang yang tidak hadir dalam pelantikan tersebut. Aku tidak tahu, apakah mereka "ijin" seperti aku dan kemudian mendapat ancaman seperti aku. Aku tidak tahu. Yang ada di kepalaku saat itu adalah aku ingin hadir dan secepatnya pulang sebab aku mau buru-buru mencari rental mobil.

Pelantikan berjalan lancar. Itu seremonial yang hanya manusia dilantik dan Tuhannya yang tahu nilai sakral dari pelantikan tersebut. Janji dan sumpah itu bagiku bukan main-main. Sebab kalau tidak didunia ditagihnya maka akan ditagih di akhirat kelak. Subhanallah.

Usai pelantikan, biasanya dilanjutkan dengan pengarahan. Kali ini, ada yang luar biasa dari pengarahan pimpinan di kantorku. Pengarahan tidak dengan buku dan pulpen sesuai dengan tingkat jabatan yang dilantik melainkan dengan membawa pisau dapur.
Astaghfirullah.......aku bertanya, ada apa koq ibu ini membawa pisau dapur ke acara pelantikan ?

Setelah menyimak dengan sungguh-sungguh barulah aku sadar bahwa pelantikan kali ini diwarnai dengan perilaku negatif seseorang yakni dengan mengirimkan sms ke pejabat di pusat. Aku tidak tahu isi sms-nya namun yang aku tahu, sms itu terkait dengan dilantiknya pejabat hari ini. Rupanya, ada yang tidak suka. Wah, mbuh-lah.....aku yang penting pelantikan dengan senjata pisau itu selesai dan bisa secepatnya pulang sebab sms dari rumah kuterima bahwa saudara ibuku sudah sampai di rumah. Sebelum pulang, aku sempat bercerita tentang sulitnya aku mencari mobil rentalan ke teman di ruangan. Bahkan aku sempat membacakan bbm teman lainnya yang hari itu tidak hadir tanpa mendapat ancaman. Barangkali karena dia akan berangkat kegiatan tingkat nasional jadi tidak perlu diancam. Selain itu, aku juga membacakan sms lainnya ke temanku sebelum benar-benar pulang ke rumah.

Terus terang, cerita tentang sms gelap dan pisau itu tidak akan berarti apa-apa bagiku, seandainya pimpinanku membiarkan aku berbahagia dengan saudara-saudaraku yang baru tiba. Tapi sepertinya tidak demikian. Pukul empat sore, aku ditelpon langsung oleh pimpinan, diminta ke kantor sebab ibu ini ingin bicara denganku. Sampai duduk dihadapan pimpinan ini, terus terang aku tidak mempunyai pemikiran apapun kecuali memenuhi panggilannya. Aku betul-betul mulai merasa tidak enak ketika pimpinan ini memulai kalimat inti dari tujuannya memanggil aku. Katanya,

" Terkait dengan sms gelap, terus terang Mbak merupakan orang pertama yang saya curigai sudah  mengirim sms itu karena Mbak orangnya kritis dan sukanya mengkritik....."

Ya Allah......Ya Tuhanku....aku, merupakan urutan pertama sebagai tertuduh pengirim sms gelap karena dipandang paling kritis dan dipandang tidak suka dengan pelantikan hari itu.

Demi Allah yang menciptakan langit dan demi Allah yang menciptakan bumi......tuduhan ini sangat tidak bisa aku terima dan sangat tidak dapat dimaafkan. Siapapun yang mengawali ide menunjukkan jarinya ke aku agar menjadi tertuduh sebagai pengirim sms ke kantor pusat itu sudah bukan manusia lagi namanya.

Pembicaraan itu seperti muntahan kotoran kambing yang teramat bau dihidungku dan bagaikan suara keledai yang paling bodoh ditelingaku. Aku mengartikan, pelantikan dengan membawa pisau itu, tidak ditancapkan kemana-mana melainkan ke hatiku. Ini aku ketahui setelah jauh hari kemudian, ternyata 3 orang yang saat tidak hadir dalam pelantikan itu, tidak diancam sebagaimana aku.

Sambil mengetik ini, airmataku kembali mengalir, luka itu kembali menganga dalam bathinku, perih itu masih terasa dalam benakku. Sakit itu......ditinggalkan begitu saja tanpa ada permintaan maaf apalagi memperbaiki nama baikku.

Aku bingung dan selalu tidak mengerti, kenapa ada orang yang bisa menari diatas linangan airmata orang lain? Mengapa ada orang yang bisa bernyanyi diatas luka hati orang lain. 

Aku tidak mengerti, dimana Tuhan yang selama ini disembahnya setiap lima waktu, dimana malaikat yang diyakininya mencatat setiap amal baik dan amal jahat selama hidupnya ? 

Aku tidak dapat berhitung, seberapa kuat orang itu memanggul beban hidup di akhirat kelak, dengan cara berbuat menjijikan semacam itu.

Adakah yang bisa mengobati perasaanku ? Setiap kali orang-orang di kantorku bicara tentang pelantikan, yang terbayang justru pisau dan kata-kata yang tertancap dalam hatiku.

Setiap mengingat tuduhan itu, airmata ini mengalir tidak bisa dibendung.
DEMI ALLAH TUHAN YANG AKU SEMBAH, AKU MEMANG SUKA MENULIS DAN MENG-KRITISI APAPUN YANG BAGIKU TIDAK TEPAT NAMUN AKU BUKANLAH ORANG HINA YANG TIDAK PUNYA IMAN SEHINGGA HARUS PROTES DENGAN CARA PICISAN DAN KAMPUNGAN YANG JUSTRU MENUNJUKKAN SEBAGAI ORANG IDIOT YAKNI MENGIRIM SMS GELAP !!!

Kepada ibu, yang sudah jelas-jelas menempatkan aku sebagai tertuduh pertama aku mengucapkan terima kasih dan semoga tuduhan itu menjadi cemeti bagiku untuk menjadi orang baik bukan untuk jabatanku melainkan untuk keluargaku. Sebab aku bekerja untuk membantu suamiku mencari nafkah yang menjadi darah daging anak-anakku. Tidak akan aku memberi makan anak-anakku dari airmata siapapun, tidak akan kuberi makan anak-anakku dari caci maki siapapun.

Kepada siapapun yang tega bertindak idiot dan tidak beriman sehingga aku menjadi tertuduh utama, aku mengucapkan terima kasih dan semoga apa yang kalian lakukan mendapat balasan yang terbaik dari Allah Azza Wa Jalla. Yang perlu kalian tahu adalah bodoh kalau tidak berusaha menjadi yang terbaik dalam hal apapun sebab bila hari ini sama dengan kemarin itu sama artinya merugi dalam hidup......itu sebabnya aku selalu berusaha menjadi yang terbaik karena aku tidak ingin menjadi yang bodoh. Adalah tolol kalau menganggap bahwa Allah itu buta,  Allah itu tuli dan  Allah itu bisa ditipu makanya aku tidak akan berbuat tolol dengan meniadakan Allah Ta'ala dalam segala tindakanku.

Tulisan ini, ungkapan yang terpendam dalam hatiku dan hanya Allah Ta'ala dokter dan penguat jiwaku sehingga aku masih bisa bertahan menjadi yang terbaik dalam hidupku bagi keluargaku sampai saat ini. Biar, hanya aku yang menangis lagi setiap mengingat pisau dan tuduhan itu.

1 komentar:

  1. Sesungguhnya dengan memahami emosi pimpinan dengan berfikiran bahwa tidak semua orang memiliki kekuatan untuk menghadapi teror semacam itu, lebih membuat perasaan lebih nyaman dan sangat maklum bila pelantikan harus dengan membawa pisau. Namun tuduhan yang serampangan, ditujukan kepada orang yang hanya karena gemar menulis kemudian ada pihak yang merasa tersindir lalu menjadikan alasan untuk menilai negatif bahkan menuduh yang tidak dikerjakannya, maka hanya Tuhan yang bisa mengurai semua itu. Kalau tidak saat hidup di dunia....mungkin kelak bila sudah tak bernyawa...... sedangkan lidah dan lisannya belum sekata pun meminta maaf dan ridla pada orang yang sudah dituduh.

    BalasHapus

MENGEJAR.....JABATAN ???

Dadaku mendesir saat submit surat permohonan mengikuti lelang jabatan eselon II. Sungguhkah aku sedang mengejar jabatan ?????? Untuk menjawa...