Rabu, 13 Maret 2019

PELAJARAN

Hanum menepiskan tangannya dari genggamanku. Lalu dia berdiri menatap tajam ke arahku sementara kulihat bibirnya terkantup rapat dan aura kemarahan tidak dia tutupi dari wajahnya. Hanum benar-benar marah !! Nafasnya naik turun. Lalu dengan nada suara yang rendah dia melontar kata-kata yang terus kuingat sampai sekarang

"Untungnya aku tidak bersuamikan orang seperti kamu.......yang tidak bisa menjaga harkat danmartabat perempuan dan bisanya memandang sebelah mata saja pada perempuan kemudian mengabaikan perilaku tidak senonoh dari manusia berjenis kelamin yang sama denganmu. Coba kalau suamiku tahu bahwa isteri-nya sudah dilecehkan melalui kata-kata oleh orang itu......aku yakin, suamiku akan mendatangi orang itu dan menempelengnya sebagai upaya perlindungan atas hak perempuan sepertiku!!!"

Telunjuk Hanum mengarah ke wajahku. Aku tidak menyangka, akan melihat kemarahan Hanum. Sesudah melontar kata-kata yang tidak kuduga itu, Hanum pergi dan berlalu serta tidak pernah lagi menghubungiku.

Hari ini, bayangan Hanum melintas diingatanku. Aku menghela nafas berat. Sungguh, bayangan Hanum yang marah dan menunjuk tepat ke mukaku dengan kata-katanya itu, kembali terulang diingatanku. Dia benar. Dia beruntung tidak bersuamikan aku. Karena saat inipun aku sedang dilanda sebuah perasaan yang tidak dapat aku katakan.

Pagi tadi saat Mimi, isteriku, mandi aku masih berebahan di pembaringan. Kelelahan teramat sangat menjalar ke seluruh tubuh membuat aku enggan bangkit dari kasur. Aku mendengar bunyi handphone milik Mimi berbunyi. Entah kenapa, hari itu tanganku usil dan mengambil handphone isteri-ku itu. Kulihat ada pesan masuk di grup sekolahnya. Ah ya, Mimi tidak satu sekolah denganku sehingga teman-temannya tentu tidak aku kenal. Jemariku lantas membuka pesan masuk itu. Sementara, telingaku mendengar Mimi bersenandung sebuah lagu lama, Love Story. Mimi masih di kamar mandi. Pesan grup itu kubuka dan aku terbelalak membaca isi pesannya. Tertulis dari Sam dengan kalimat Mimi....alangkah eloknya kalau kamu ndak usah memakai apapun sehingga bisa kulihat lekuk tubuhmu dan pantamu yang bahenol itu.....ingin sekali aku menepuknya barang sekali.

Handphone Mimi langsung aku kembalikan ke layar stand by, kuletakkan di kasur seperti semula dan aku memindah posisi tubuhku memunggungi handphonde itu. Dadaku berdegub kencang. Emosi-ku naik ke ubun-ubun dan....... yaaaaaa kata-kata Hanum melintas diingatanku.

Kasusnya hampir sama. Hanum salah satu temanku di salah satu es-em-pe. Karena ayahku seorang pejabat di kantor pengadilan maka aku tidak hanya mengecap pendidikan di satu sekolah. Es-em-pe saja aku sudah pindah 2 SMP. SMA aku pun ada di 4 kota, Banjarmasin, Sampit, Palembang.dan Jakarta. Hanum, temanku di es-em-pe Surabaya. Kami dipertemukan dalam grup WA. Grub yang ramai dengan guyonan, canda dan saling mengolok-olok. Sebenarnya Hanum juga suka becanda. Aku tahu itu dari komentar-komentarnya yang sering bikin tertawa. Terkadang juga judes, itu sangat berasa bila ada anggota grup yang mulai bercanda yang aneh-aneh.

Sampai suatu hari, Jim melontarkan satu banyolan yang bagi Hanum tidak etis dengan kalimat Hanum, boleh dong aku memukul bokongmu......yang saat itu masih ditanggapi dengan sedikit becanda oleh Hanum. Tapi Jim tidak berhenti sampai disitu melainkan melontarkan kata-kata yang semakin membuat marah Hanum. Betul saja.......berakhir dengan kalimat-kalimat Hanum yang menohok siapapun yang membacanya dan Hanum kemudian left dari grup.

Beberapa hari kemudian aku menemui Hanum. Kebetulan ternyata kami tinggal di kota yang sama. Waktu janji bertemu, Hanum diantarkan suaminya. Karena suaminya harus kembali ke kantor, maka Hanum ditinggal oleh suaminya setelah ngobrol denganku sejenak. Di kafe milik Kay  teman SMA-ku, kami bertemu. Aku berjanji hanya sebentar bicara dengan Hanum dan kepada suaminya aku minta ijin akan mengantar Hanum pulang. Tetapi suaminya menolak, dia akan jemput isteri-nya tepat di jam makan siang di kafe Orange ini.

Aku menyampaikan pada Hanum bahwa dia marah, itu benar. Bahwa dia kemudian memberi teguran keras pada Sam, itu benar. Bahwa dia meninggalkan grup, itu yang tidak benar. Kalau dia sudah memaafkan Sam, seharusnya dia tetap berada di grup dan berbuatlah seperti biasa lagi. AKu melihat wajah Hanum memang agak berubah. Semula dia mempermainkan tissue yang sejak tadi ada di tangannya. Es jeruk di depannya sudah berembun, belum juga dia sentuh karena mendengarkan apa yang kusampaikan. Tetapi begitu sampai pada ujaranku agar dia bisa bersikap biasa-biasa lagi ke Sam, tissue itu dia remas. Hanum kemudian bersidekap, melihat tangan di dadanya bahkan terlihat seperti menekan agar sesuatu tidak terloncat dari apa yang didekapnya.

Melihat perubahan itu, aku sempat terhenti. Namun kemudian Hanum memberi kode dengan jarinya untuk aku meneruskan kata-kataku. Aku bilang
"Ayolah Hanum......kita kan sudah lama tidak bertemu, tidak berkumpul.....jadi anggap biasa saja apa yang dilontarkan oleh Sam.....toh kamu sudah memaafkannya.....kalau sudah memaafkan tentu bisa melupakan dan menganggap itu tidak terjadi kan ?"

Saat itulah Hanum berdiri. Aku meraih tangannya meminta untuk duduk. Tapi dia menepiskan dengan keras dan..................

Airmataku menetes. Aku, lelaki beristeri dan isteriku diperlakukan rendah oleh temannya, apa iya aku akan berdiam diri ? Airmataku menetes, ingat kembali kata-kata Hanum......kalau suamiku tahu bahwa isterinya sudah dilecehkanmelalui kata-kata oleh orang itu......aku yakin, suamiku akan mendatangi orang itu dan menempelengnya sebagai upaya perlindungan atas hak perempuan sepertiku. 

Kudengar pintu kamar mandi berderak, tanda Mimi sudah selesai mandi. Kupejamkan mata setelah menghapus air yang menetes diantaranya. Kuatur nafasku dengan baik. Kudekap tanganku didadak agar yang ada dalam hatiku tidak terlontar. Mimi menyentuh tubuhku. Aku biarkan tangannya yang dingin setelah kena air itu merembes di piyama yang kukenakan.

"Pah.....papah....." suara Mimi terdengar sambil menepuk tubuhku dengan pelan. Kemudian berhenti karena aku tidak menyahut. Semoga, dia berfikir kalau aku kembali tertidur. Tak berapa lama, langkah Mimi menjauh. Kudengar lagi pintu terbuka lalu ditutup. Sesaat kemudian, aku membuka mata. Aku telentang. Kulirik, handphone Mimi sudah tidak ada di atas kasur. Tentu sudah dia bawa. Kebiasaan Mimi bila pagi hari, masak buat sarapan, masak buat bekal Adi, Reina dan Noval serta aku sambil mendengarkan tausyiah da'i yang lagi kondang di era milenial ini. Sayup-sayup aku mendengar suara tausyiah itu. Sesekali terdengar suara Mimi memanggil ketiga anak kami. Rasanya aku enggan untuk bangkit dari tempat tidur. Tetapi, aku harus tetap ke kantor dan mengantarkan ketiga anakku ke sekolahnya masing-masing. Tanganku meraih handphone yang ada i lemari kecil dekat tempat tidurku. Kucari nomor hap Iswandi, lalu aku kirim pesan kepadanya agar menjemput dan mengantar anak-anakku ke sekolah. Iswandi, sopir di kantor, menjawab siap Pak. Rumahnya tidak jauh dari rumahku dan biasanya anak Iswandi akan bersama-sama dengan Reina ke sekolah karena mereka satu sekolah beda kelas.

Aku masih berebah, ketika Reina masuh dan mendekati aku.
"Papah sakit ya ? Koq ndak bangun-bangun.....kan sudah waktunya sarapan"

Aku melambai ke arahnya, Reina mendekat. Aku angkat tubuhnya, aroma bedak bertebaran di hidungku. Wangi.....

"Papah masuk agak siangan, sebab hari ini Papah ada acara kantor di hotel..... Reina pergi sama Om Iswandi ya ?"
"Sama-sama Mika juga dong" sahutnya sambil tersenyum lebar. Mika itu anak Iswandi. Aku mengangguk, sesudah cium pipi kira-kanan, Reina bergegas menuju pintu.

"Tapi Papah sarapan sama kami kan ?" tanyanya sebelum menutup pintu. Aku kembali mengangguk. Setelah Reina keluar, aku berdiri. Ah.......kepalaku agak berat.

================

Suara Mimi tersendat-sendat dan aku duga dia menagis, yang menyebabkan aku bergegas kembali ke rumah. Tidak, di hotel ini tidak sedang ada pertemuan kantor. Ini pertemuan khusus dan tempatnya di sebuah Kafe, kafe milik Kay. Hanya aku yang tahu. Masih penting isak tangis Mimi daripada wajah merah yang baru saja kena bogem mentah dari tanganku. Oleh karenanya, aku pulang dan kubiarkan lelaki itu mengusap-usap pipinya. Sebelum aku berlalu aku ucapkan satu kalimat sambil menunjuk ke wajahnya dan dengan suara rendah seperti yang dilakukan Hanum padaku.

"Aku suami dari Mimi, perempuan yang kamu lecehkan di grup whats app itu. Silahkan tuntut kalau kamu keberatan dengan pukulanku tadi.......kita lihat, apakah negara akan membiarkan orang seperti kamu bebas melecehkan perempuan"

Mimi akhirnya menangis sesungukkan di pelukanku begitu aku masuk ke dalam kamar. Handphone ditangannya dia perlihatkan ke aku. Aku mengusap airmatanya, mengusap rambutnya....... ternyata bukan hanya Hanum yang punya harga diri......isteriku juga. Kupeluk erat tubuhnya. Kukecup berulang-ulang pelipisnya dan kubisikkan ke telinga-nya

"Keluar saja dari grup itu sayang.......karena tidak satu orangpun membela kamu di grup itu..... mau kan ? Left saja dari grup" 

Aku rasa, Mimi mengangguk. Aku melihat bayangan Hanum tersenyum ke arahku. Terima kasih sahabat, kamu sudah mengajarkan aku untuk menjadi suami yang membela harkat dan martabet perempuan, terutama isteri-ku.




Ada banyak manusia di luar sana yang tidak memahami pentingnya menjaga harkat dan martabat perempuan, kemudian menganggap perempuan sama seperti lelaki. Dan itu.......tidak hanya dilakukan oleh kaum lelaki bahkan perempuanpun masih punya stigma yang tidak berbeda dengan lelaki mengenai harkat dan martabat perempuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENGEJAR.....JABATAN ???

Dadaku mendesir saat submit surat permohonan mengikuti lelang jabatan eselon II. Sungguhkah aku sedang mengejar jabatan ?????? Untuk menjawa...