Jumat, 22 Februari 2013

ITU dia MANUSIA

Namany Aurora. Temanku satu pekerjaan di media massa bagian periklanan. Aurora menurutku tidaklah jelek walau jauh dari katagori cantik. Orangnya ramai. Kalau berbicara paling heboh. Aku tidak ingin mengatakan kekurangannya melainkan kelebihan Aurora.

Aurora yang senang bercerita, kerap menceritakan apapun kepadaku. Terkadang ceritanya menarik, bila itu menyangkut pengalamannya sendiri. Terkadang ceritanya menarik-narik emosiku agar keluar dari diriku dan naik ke ubun-ubun untuk kemudian ikut marah-marah. Terkadang ceritanya membuat aku melengos, lelah mendengarnya. Tetapi apapun cerita yang diberikan Aurora, aku selalu menjadi pendengar yang baik dan tidak mengecawakannya sejak menjadi temannya dalam empat tahun ini. Namun yang pasti, aku tidak pernah mau bersahut-sahutan saat dia menceritakan atau bergossip tentang orang lain. Bukan apa-apa sih, takutnya dia juga menceritakan tentang aku ke orang lain. Hehehehe

Hari ini, kami usai menghadiri serah terima pekerjaan sebab Kepala Bagian Periklanan di tempatku bekerja, dipindah ke Kantor Cabang yang baru dibuka di sebuah Kabupaten Provinsi lain. Kebetulan suami Kepala Bagian periklanan dimutasi ke provinsi tersebut jadi dia harus mengikuti. Nah berbarengan lagi,  perusahaan periklanan kami buka cabang di provinsi tersebut. Klop-lah....diganti. Aku dan Aurora jelas tidak mungkin naik ke jabatan itu sebab kami berdua baru empat tahun lulus dari SMK. Kuliah juga masih setahun lagi untuk jadi sarjana. Untung diterima di perusahaan periklanan ini.

Hemmmh...hemmmmhhh, boss baru lagi. Padahal, Mbak Tiwi, Kepala Bagian yang pindah itu juga baru tiga tahun bergabung dengan kami. Seusai makan-makan, Aurora cengar-cengir berdiri di hadapanku. Aha.... pasti ada yang akan disampaikannya.

"Sudah jabat tangan sama Pak Bayu ?" tanyanya sambil peringas-peringis. Pak Bayu adalah Kepala Bagian yang baru. Aku menggeleng. Biasanya, kalau ada pria yang baru dikenal, Aurora bersikap seperti super star yang banyak dipuja orang.
" Aku sudah....tadi waktu mengambil air minum pas barengan ," ujarnya lagi.
" Oh yaaaa ???? Terus, Pak Bayu bilang apa ke kamu ?" tanyaku. Aku sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan Aurora untuk menjawab pertanyaanku. 
" Aurora cantik, senang berkenalan dan semoga kita bisa bekerja sama....itu katanya," jawab Aurora dan tidak meleset dari apa yang ada dibenakku. Dia memang selalu begitu. Entah, dia memandang dari sisi mana dirinya itu sebab menurutku dia biasa-biasa saja. Dengan tumbuhnya yang tidak lebih tinggi dari aku dan proposi berat dibanding tinggi yang tidak seimbang, terus terang aku tidak melihat sisi yang menyebabkan orang tertarik dengannya. Dalam hal pekerjaan pun, dia nggak begitu smart bila dibandingkan Daniar si cleaning service.
" Menurut aku, dia lebih baik daripada Mbak Tiwi yang judes, kasar dan kadang susah senyum itu," Aurora nyerocos sampai hampir kesedak. Aku diam saja, sambil seolah-olah sibuk mengunyak keripik sehingga ada alasan untuk tidak menjawab kalimantnya.

------------------------

Ini minggu ketiga sejak Kepala Bagian dijabat oleh Pak Bayu. Semula, Aurora bagaikan orang yang berada di atas angin dan melebihi aku dalam segala-galanya. Aku tersenyum di balik layar monitorku ketika dia berdiri dihadapanku dan dengan gayanya yang berapi-api menceritakan sesuatu yang  terjadi antara dirinya dengan Pak Bayu.

" Kamu tahu enggak Dian, aku sudah capek-capek membuat lay out iklan klien kita yang kemarin itu, eeeeh disuruh coba lagi buat yang lain sebab katanya punyaku nggak orisinal karena dia pernah lihat iklan yang mirip dengan sketsa iklan-ku ," ujarnya dengan kedua tangan di pinggang.

" Yaaaaa, mungkin Pak Bayu ada benarnya.....kreatif dikitlah...." jawabku. Dia makin mendekatkan wajahnya mendekati monitor di hadapanku.

" Semalam aku merancang, mendisain iklan itu Dian.....semalaman !!! Enak banget dia menyuruh aku menggantinya...." Aurora lalu duduk di kursi yang ada di depanku. Nafasnya agak tersengal. Aku berhenti dari pekerjaanku. Kugeser monitor untuk lebih leluasa melihatnya. Kalau sudah begitu, aku lebih baik tidakberkomentar dan khusus mendengar. Empat tahun, cukup waktu untuk memahami seorang Aurora.

Aurora memandangku ke arahku. Melihat aku siap untuk menjadi pendengarnya, Aurora menarik nafas.

" Sepertinya, aku tidak bisa mengikuti perintah-perintah Pak Bayu. Orangnya ternyata arogan. Kata-katanya lebih pedas daripada Mbak Tiwi. Masih bagus Mbak Tiwi, bisa membimbing dan mendengarkan aku...." ucapnya kemudian.

Mendengar itu, aku menghempaskan tubuhku ke sandaran kursi. Masih banyak kalimat yangleuncur dari bibir Aurora, tapi aku sudah tidak ingin menyimaknya walau aku dalam posisi mendengarkan.

Ah, Aurora....  Itu dia manusia. Aurora cepat memuji namun cepat juga memaki. Dibalik pujian Aurora tersimpan keinginan yang bila tidak terpenuh akan mengalir cerita-cerita negatif tentang orang yang semula dipujinya. Aku tidak tidak mau  lagi mendengarkan hal yang sama seperti yang dia lakukan saat Mbak Tiwi baru menjadi Kepala Bagian kami. Aku tidak mau lagi mendengarkan sumpah serapah Aurora yang dulu ditujukan kepada Mbak Tiwi lalu sekarang ditujukan kepada Pak Bayu. Tetapi, sebagai temannya, aku masih harus memasang aksi sebagai pendengar yang baik. Ah Aurora..... Itu, dia.....manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENGEJAR.....JABATAN ???

Dadaku mendesir saat submit surat permohonan mengikuti lelang jabatan eselon II. Sungguhkah aku sedang mengejar jabatan ?????? Untuk menjawa...