Minggu, 04 Agustus 2019

PENASARANKU

Something Happened in Sampit on 1985


Saat itu baru sekitar setahun kami berdomisili di Sampit karena Bapakku pindah tugas. Bapak dapat rumah dinas di kompleks perumahan Angkatan Darat di jalan Gatot Subroto. Kompleks itu cukup luas, terdiri dari beberapa barak. Sebelah Timur agak ke Utara adalah barak para Bintara dan Tamtama sedangkan di sebelah Timur persis barak Tamtama dan Sipil. Sedangkan di sebelah Barat barak untuk Kompi Pleton A. Bapak dapat rumah di barak Perwira. Kompleks perumahan Angkatan Darat tempat tinggal kami adalah kompleks perumahan tua. Konon barak-barak itu peninggalan tentara Belanda. Barak Sipil dulunya adalah rumah sakit sehingga tidak heran, hanya beberapa meter di sebelah Timur nya adalah kompleks kuburan muslimin. 

Rumah Dinas yang kami tempati adalah rumah kopel yang terdiri dari satu bangunan dengan dua pintu namun rumah disamping itu tidak pernah ditempati siapapun. Karena tidak seorangpun mau menjadi tetangga kami maka rumah disamping itu dijadikan sanggar tempat para remaja berkumpul untuk melakukan kegiatan kesenian seperti latihan keroncong, vocal group dan lainnya. Namun ramainya rumah di sebelah kami hanya hari Sabtu dan Minggu saja. Selebihnya, rumah itu sepi sekali. 

Sampit sendiri di tahun 1985 adalah kota sepi bila dibandingkan Banjarmasin tempat kami tinggal sebelumnya. Kesepian itu menjadi semakin terasa sebab kepindahan Bapak menyebabkan Bunda juga memiliki kegiatan yang lumayan banyak. Sebenarnya Bapak dan Bunda tidak pernah melarang aku untuk bergaul dan mengundang teman ke rumah agar tidak kesepian. Namun itu tidak pernah kulakukan. Aku lebih suka membeli buku dan majalah setiap minggunya. Bahkan aku malah menyibukkan diriku dengan pekerjaan rumah.

Apalagi saat kelas 1 SMA itu sekolah kami sedang diperbaiki sehingga anak-anak kelas 2 dan 3 masuk pagi dan kami masuk siang. Benar-benar sempurna kesepian dalam hari-hariku. Sebenarnya Bunda memiliki pembantu, tetapi kalau pembantu itu datang dan Bunda berangkat untuk kegiatan organisasi-nya, si Bibi aku suruh pulang. Aku yang mengerjakan pekeraan rumah mulai dari menyapu, ngepel lantai, cuci piring, memasak dan cuci pakaian.

Aku punya petunjuk jam sendiri untuk penyelesaian pekerjaan rumah itu. Bila pukul delapan yang lewat adalah truck yang mengangkut tentara-tentara muda dari Kipan A menuju ke arah Timur. Saat itu aku sudah selesai mengepel lantai. Sedangkan bila pukul sepuluh, saat aku mencuci pakaian ditandai dengan lewatnya lori di belakang rumah kami yang mengangkut serbuk limbah gergajian dari PT. Inhutani III yang berada di tepi Sungai Mentaya di buang ke Pasir Putih di sebelah Barat. Sedangkan sekitar pukul setengah dua belas saat aku harus mandi dan siap berangkat sekolah adalah teriakan penjual bubur yang berteriak buuur...buuur diikuti suara adzan shallat dzuhur. Rutinitas terus aku lakukan sampai akhirnya Bibi berhenti dan alih profesi jadi penjaja sayur keliling. Weleeeh....

Sampai pada suatu ketika, aku sendirian di rumah ditemani lagu-lagu dari ABBA menyelesaikan pekerjaanku. Beres, tinggal mencuci pakaian. Saat aku mulai menarik baskom besar berisi cucian kotor, aku mendengar suara....gedubraaakkkk !!! Semula kupikir baskom yang kutarik pecah, maklum Bapak baru pulang dari Koramil-Koramil jadi baju dinas yang tebal dan berat itu memenuhi baskom pertama yang baru kutarik. Namun aku tidak melihat air luber sebagai tanda baskomnya pecah. 

Aku berdiri dan masuk ke dalam. Ternyata, buku-buku koleksiku dari rak yang menempel di dinding sudah berhamburan di lantai. Kupungut buku itu satu persatu dan menyusunnya di rak itu kembali. Setelah rapi, aku kembali ke pekerjaanku yang tadi tertunda. Baru juga “mengucek” dua stel pakaian Bapak tiba-tiba terdengar lagi suara .....gedubraaakkkk !!! Pikiranku langsung tertuju pada buku-bukuku. Aku diam sejenak. Bukankah ini sudah lebih dari pukul delapan....berarti tidak ada truck Kompi A yang lewat. Jalan di kompleks perumahan kami memang terbatas dan tidak diperkenankan truck umum melaluinya. Aku masuk kembali ke ruang tengah dan ternyata benar.....buku-bukuku berhamburan lagi. Kupungut lagi dan kususun lagi. Ketika aku kembali ke belakang untuk melanjutkan mencuci, lori lewat dengan suara-nya yang khas. Aku sejenak berdiri memperhatikan lori itu....kemudian duduk dan melanjutkan pekerjaan. Selesai pada baskom yang pertama, memasuki baskom kedua terdengar lagi bunyi.........gedubrak dan aku tahu itu buku-bukuku yang berhamburan. Lori yang lewat tadi baru kembali sejam berikutnya. Sadar bahwa tidak ada sesuatu yang bisa mengakibatkan dinding rumah kami bergetar sehingga buku-buku itu jatuh dan berhamburan, serta merta aku masuk ke dalam. Aku berdiri sejenak dan kemudian memungut lagi buku itu satu persatu, sambil menyusun ke rak aku berucap,

“ Eh, aku cape’ kalo di suruh terus-terusan ngerapiin nih buku...tau enggak pekerjaan aku banyak jadi kalo mau main-main jangan sama aku..... Kalau buku ini berhamburan aku ndak mau lagi menyusunnya..... paham ?!”

Entah siapa yang kuajak bicara saat itu, hanya feeling saja bahwa aku harus mengatakan itu sebab kenyataannya aku memang capek kalau harus bolak-balik hanya untuk menyusun buku yang berhamburan. Huwallahua’lam bishshawab......apa memang ada yang mendengar kata-kataku sebab kemudian tidak terdengar lagi suara gedubrak dan tidak ada lagi buku berhamburan sampai dengan aku mandi dan shallat dzuhur. 

Aku tidak menceritakan kepada Bapak dan Bunda tentang kejadian “unik” tersebut, sampai ada kejadian selanjutnya.

Sampit memang sepi, kesepian itu makin terasa bila malam hari. Keramaian di kompleks kami hanya berlangsung sampai usai shallat Isya. Sesudah itu hanya terdengar suara canda dari rumah-rumah tetangga baik di depan, di kopel samping kiri maupun samping kanan. Bila sudah pukul sembilan malam, yang terdengar hanya suara televisi sedang suara canda-tawa sudah tidak ada lagi. Kalau jam menunjukkan pukul sebelas, hanya suara jangkrik, cit-cit kelelawar dan karariang (bahasa jawa “gareng”) yang terdengar. 

Rumah yang konon dibangun oleh Belanda ini dindingnya rapat sekali sebab menggunakan papan ilat sehingga tidak ada celah di antara papannya. Sedangkan jendela dengan susun sirih tidak memungkinkan aku untuk bisa mengintip. Padahal aku ingin mengintip !!!! Ahhhh …..

Pada tahun 1985 itu, becak adalah angkutan utama di Sampit. Bunda punya tukang becak langganan yang sering mengantar ke pasar atau pergi ke kegiatan-kegiatannya. Becak langganan Bunda ini cukup seru. Bagian belakangnya terdapat antene yang bergoyang-goyang saat becak berjalan. Antene itu diberi bunyi-bunyian dalam jumlah yang banyak dan sehingga kalau becak berjalan, antene-nya bergoyang akan menimbulkan bunyi gemerincing yang ramai sekali. Khas-nya becak Matdali (nama tukang becaknya). Krincang...krincing... krincang... krincing... krincang...krincing.....aku kadang membayangkannya seperti penari “ngremo” yang kakinya di beri “krincing-krincing” sehingga setiap goyangan penari itu menimbulkan bunyi dibarengi gerak yang eksotis. 

Bunyi itu, berulangkali membuat aku terbangun dari tidur. Gemerincing mainan di becak Matdali !!!! Yang membuat aku penasaran.....gemerincing itu selalu terdengar lewat jam dua belas malam dari arah Timur menuju Barat. Suara gemerincing itu akan terdengar sampai jauh sekali dan berakhir di Jembatan Putih. Ciri dari jembatan yang terbuat dari papan ulin tebal itu sangat aku kenal.....sebab beberapa papan di antaranya tidak diberi paku hingga menimbulkan hentakan yang keras. Gludak...gludak...gludak!!!! Gemerincing becak itu kadang berhenti di situ. Namun ada kalanya langsung hilang terbawa angin. 

Aku penasaran, dengan suara gemerincing becak Matdali. Tetapi malam ini, aku tidak akan penasaran lagi sebab aku sudah menyiapkan lubang kecil untuk mengintip ke arah jalan yang dekat dengan jendela kamarku. Hampir sebulan aku membuat lubang kecil itu setiap hari dari jepit rambut.

Ini malam ketiga aku berniat menunggu becak Matdali lewat sesudah lubang itu jadi. Aku akan menggoda Matdali bila ketahuan tengah malam baru pulang menarik becak. Matdali yang berperawakan tinggi kekar itu bahasa Madauranya kental sekali padahal dia belum pernah menjejakkan kaki ke Madura tempat nenek moyangnya berasal sebab dia lahir dan besar di Sampit. Dia pernah bilang dalam bahasa campuran Madura – Banjar dengan logat Madura-nya kepada Bunda,

“ Engko’ ta’ kan kejar setoran buk....so’ale becak punya engko’ sorangan jadi engko’ nyari duit nda’ lu perlu mpe’ sampe malam narek becak ta iye.....” (saya tidak mengejar setoran bu, karena becak punya saya sendiri jadi saya nyari duit tidak perlu sampai tengah malam menarik becak....ya kan)

Aku tertawa dalam hati, malam ini kebohongan Matdali terbongkar. Rupanya disaat menunggu itu aku ketiduran dan terbangun ketika dari kejauhan terdengar suara yang sangat aku kenal. Kena kau, Matdali....pikirku. 

Bermodal ukuran pendengaran saja, saat becak kurasa dekat dengan rumahku dengan serta merta aku memasang mata dan mengintip keluar......suara gemerincing itu terdengar jelas sekali, namun ketika mataku kulebarkan hanya melihat hitam yang pekat....................

Telingaku menangkap suara adzan, barangkali sudah subuh. Aku membuka mata perlahan kemudian terdengar suara “Alhamdulillah”. Suara dari beberapa orang yang tak jauh dariku. Waduh, habis sudah waktu shallat subuh....aku menggumam dalam hati dan berusaha untuk bangun. Namun badanku terasa dingin dan.....bajuku basah ! Kuusap wajahku....basah juga.....aku menoleh ke arah kiri, Bunda memegangi kepalaku dengan mata tertutup dan berlinangan air sedang bibirnya bergerak

“ Nak....bisa duduk ?” sebuah suara terdengar dari arah kakiku. Bapak memegang kakiku dengan tangannya yang kekar. Terasa sedikit kencang. Aku berusaha duduk. Serta merta Bapak mendekat di sisi kanan sedang Bunda memperkeras ayat Qursyi-nya di telingaku. Aku yang memang menyukai baca-an itu sejak kecil dengan mudah mengikutinya. Aku lihat tetanggaku ada semua dalam kamar tempat tidurku. Mereka tersenyum. Mungkin mereka senang karena aku ikut membaca ayat Qursyi itu. Tapi aku tidak habis mengerti, ada apa denganku ? Bapak memberiku air putih, rasanya segar sekali di kerongkonganku.

“ Apa yang kamu kerjakan malam tadi heh.....?” Bapak menanyaiku dengan nada suaranya yang khas kalau sedang tidak senang dengan perbuatanku yang tidak benar. Aku duduk menatap wajah Bapak. Kukira Bapak akan meneruskan dengan kata-kata yang diserta amarah tetapi kemudian kulihat gurat senyumannya.....

“ Apa yang kamu kerjakan malam tadi, membuat badan kamu panas seharian jadi kamu tidak sekolah juga tidak mengerjakan apapun seharian ini dan sore tadi kamu marahin Bapak.......gara-gara Oom Parno datang ke rumah....,” ujar Bapak kemudian.

Aku menoleh ke arah Bunda. Bunda tidak bicara apa-apa. Kepalaku direngkuhnya dan diletakkan ke dada sehingga aku bisa mendengar detak jantung Bunda. Ah kacau....ada apa ini ?

“ Iya Nak.....kamu teriak-teriak mengatakan lidah Om Parno mengerikan, panjang, merah dan ada apinya......terus Bapak....nih juga Om Parno kamu marah-marahin soalnya sering membiarkan kamu sendirian......” Om Parno staff  Bapak yang berujar sembari tertawa terkekeh-kekeh. 

Aku tersenyum kecut. Tiba-tiba dari arah belakang, aku merasa dingin menjalari ubun-ubun hingga ke tubuhku.. Aku tengadah dan kulihat seorang tua sedang menuangkan air di kepalaku. Air...aiiiir oooooo baru aku sadar... aku menarik nafas panjang..... lalu saat berikutnya aku ceritakan tentang buku yang berhamburan dan penasaranku atas bunyi gemerincing becak Matdali !!! Seusai bercerita, aku disiram sekali lagi dan itu yang terakhir. Diiingiiiiiin…..dan basah !!!!!

Sejak kejadian itu, dinding rumah yang membatasi dengan rumah kosong di sebelah di bongkar Bapak sehingga rumah kami menjadi sangat luas. Pekerjaan rumahku makin tambah. Aku justru tidur di kamar “bekas” rumah kosong. Lucunya, bila terbangun tengah malam aku kadang masih mendengar suara gemerincing becak kadang juga mendengar suara nafas orang tidur nyenyak di bawah jendela kamarku...di luar.....padahal jarak antar rumah satu dengan yang lain sekitar 10 meter.

Subhanallah.....Allah memang menciptakan alam itu ada dua........nyata dan tidak nyata. Aku mengamini adanya dua alam yang diciptakan Allah secara sempurna untuk mengingatkan kita agar senantiasa dekat dan mendekat kepadaNYA. 

Apakah facebook dunia nyata ? TIDAK sebab kita tak pernah berjumpa secara fisik dengan orang yang kita jadikan teman. 
Apakah facebook dunia tidak nyata ? TIDAK, sebab dialog itu nyata, walau nama-nama yang tertera kerap tidak asli atau sebenarnya tetapi “orangnya” ada dan setiap perbuatannya dilakukan oleh tubuh kita yang kasat mata (riil). 

YANG TIDAK NYATA DAN BENAR-BENAR MAYA WALAUPUN TAMPAKNYA ADA ADALAH HASIL PEMBUKTIAN DARI PENASARANKU YAITU......SUARA BECAK DAN PENGENDARANYA YANG TERNYATA.............. TANPA KEPALA !!!!!!!! Psssssssssttt....bagian ini tidak pernah kuceritakan pada Bapak (almarhum) dan Bunda.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENGEJAR.....JABATAN ???

Dadaku mendesir saat submit surat permohonan mengikuti lelang jabatan eselon II. Sungguhkah aku sedang mengejar jabatan ?????? Untuk menjawa...